
AL-MUHAJIRIN— Salah satu momen paling menyentuh pada penutupan Haflah Nuzulul Qur’an 1447 H adalah prosesi wisuda program Super Nahwu. Puluhan santri yang telah menyelesaikan program tersebut maju satu per satu untuk menerima penghargaan dengan predikat Mumtaz.
Mereka disaksikan langsung oleh pimpinan pesantren serta para guru yang selama ini membimbing mereka.
Program Super Nahwu merupakan metode pembelajaran yang dirancang untuk membantu para santri memahami kaidah nahwu secara lebih praktis sehingga mampu membaca kitab gundul dengan lebih lancar dalam waktu relatif singkat. Metode ini disusun sebagai upaya menghadirkan pembelajaran nahwu yang lebih efektif, aplikatif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Program tersebut berangkat dari karya KH. Rd. Marpu Muhyiddin Ilyas, M.A., pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, yang merancang buku dan metode pembelajaran nahwu praktis bagi para santri.
Prosesi wisuda ini menjadi bukti nyata komitmen pesantren dalam mengembangkan metode pembelajaran klasik yang tetap relevan dan mudah diakses generasi santri masa kini.
Wisuda ini bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia adalah simbol perjalanan panjang dalam menaklukkan ilmu alat—fondasi penting dalam memahami khazanah keilmuan Islam.
Di balik predikat Mumtaz, tersimpan ketekunan, kesabaran, dan doa yang tak terhitung jumlahnya. (*)
