KH. Marpu Muhidin Ilyas: Hisbah Harus Dimulai dari Diri Sendiri, Jangan Tunggu Sempurna

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A.,

AL-MUHAJIRIN — Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, menyampaikan kajian mendalam bertajuk “10 Amal Dzahir Pondasi Keislaman” dalam Pengajian Guru Al-Muhajirin Kampus Pusat, Rabu (22/5/2026).

Mengambil rujukan utama dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, KH. Marpu menekankan pentingnya hisbah (amar ma’ruf nahi munkar) sebagai salah satu pondasi utama agama. Beliau menjelaskan dua prinsip krusial dalam melaksanakan hisbah:

Pertama, harus dilakukan dengan kelembutan dan kasih sayang (al-utfu wa ar-rifqu). Tidak boleh kasar, arogan, apalagi dengan kekerasan. “Ini prinsip mutlak. Kalau ada dalil yang secara lahiriah tampak keras, harus ditakwil sesuai konteksnya,” tegas beliau.

Kedua, memulai dari diri sendiri (ayyakuna al-muhtasibu qad bada’a binafsihi). Meski bukan syarat sah, prinsip ini menjadi penentu keberhasilan dan efektivitas dakwah. Beliau mengutip Imam Hasan Al-Basri yang menyebut sikap “menunggu sempurna baru menasihati orang lain” sebagai jebakan setan yang bisa berujung pada sikap permisif terhadap kemunkaran.

Baca Juga:  Selamat! Rektor Institut Teknologi Al-Muhajirin (ITM) Purwakarta Ibu Eti Jumiati Raih Gelar Doktor

KH. Marpu mengingatkan, meski seseorang masih memiliki kekurangan, tetap tidak boleh mendiamkan kemunkaran yang ada di depan mata. Namun, efektivitasnya akan jauh lebih tinggi jika ia sudah berusaha membersihkan diri terlebih dahulu.

Beliau juga menyampaikan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA. Ketika Anas bertanya apakah boleh menasihati orang padahal diri sendiri belum sempurna, Rasulullah menjawab:

“Perintahkanlah kebaikan walaupun kalian belum melakukannya sepenuhnya, dan laranglah kemunkaran walaupun kalian belum meninggalkan semuanya.”

Beliau pun mengajak para hadirin menghafal doa yang diajarkan Nabi SAW kepada seorang pemuda yang berbuat salah:

“Allahumma thahhir qalbahu, waghfir dzanbahu, wa hassin farjahu.”
(Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan jagalah kehormatannya.)

Mengelola 10 Amal Dzahir dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada bagian penutup kajian, KH. Marpu menyampaikan cara praktis mengamalkan 10 Amal Dzahir (ushuluddin yang bersifat amaliah zhahiriyah) sesuai ajaran Imam Al-Ghazali:

  1. Menjaga shalat dengan sempurna
  2. Zakat, sedekah, dan wakaf
  3. Puasa yang sempurna
  4. Haji
  5. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur
  6. Zikir kepada Allah di setiap waktu
  7. Menuntut rezeki yang halal (tholabul halal)
  8. Peduli dan menyayangi sesama muslim (huququl muslimin)
  9. Hisbah (amar ma’ruf nahi munkar)
  10. Ittiba’ as-Sunnah (mengikuti sunnah Nabi SAW)
Baca Juga:  MTSS Al Muhajirin Purwakarta Sukses Raih Predikat Akreditasi A dari BAN-PDM

Imam Al-Ghazali mengajarkan tiga prinsip penting dalam menata wirid (amalan rutin) agar tidak kaku dan sesuai realitas:

  • Memilah amalan yang bisa digabung dan yang tidak bisa.
  • Tauzi’ul auqat (manajemen waktu) — membuat jadwal harian yang realistis dari pagi hingga malam.
  • Membaca peran (qira’atul hal) — menyesuaikan porsi amalan sesuai posisi dan tanggung jawab masing-masing (guru, santri, pejabat, pekerja, orang tua, dll).
Baca Juga:  Santri RA Al-Muhajirin Kampus 2 Purwakarta Ikut Munaqosyah Tahfizh Al-Qur’an: Hebat-hebat Semua!

KH Marpu mengingatkan “Jangan hanya melihat akhir perjalanan (nihayah) para ulama besar lalu langsung menirunya. Karena kita tidak tahu proses dan perjuangan mereka dahulu. Setiap orang memiliki peran, tanggung jawab, dan tahapan yang berbeda.”

Beliau mencontohkan, memberi nafkah halal bagi keluarga bagi orang yang sudah menikah, lebih utama daripada ibadah sunnah tertentu. Begitu pula seorang guru pemula harus tetap belajar keras dan membawa kitab, tidak bisa langsung meniru kyai yang sudah hafal banyak.

Pengajian ditutup dengan doa khidmat agar ilmu yang diperoleh menjadi ilmu yang bermanfaat, serta Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin untuk terus mengamalkan ajaran agama dengan ikhlas.

Kegiatan ini mencerminkan komitmen Pondok Pesantren Al-Muhajirin dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan pondasi keislaman di kalangan guru dan santri. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *