Pengajian Rutin Sabtu Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Keagungan Syariat Islam yang Penuh Kemudahan

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A.,

AL-MUHAJIRIN – Aula SDK Al-Muhajirin Pusat kembali dipenuhi jamaah, Sabtu pagi (25/4/2026). Sejak pukul 09.00 WIB, masyarakat dari berbagai kalangan hadir mengikuti Pengajian Rutin Sabtu yang dipimpin langsung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA.

Suasana majelis terasa khidmat sejak awal. Kegiatan dibuka dengan doa Asmaul Husna dan zikir Hisnul Hashin, dilanjutkan pembacaan nazam niat mengaji yang menjadi pengantar kajian utama kitab Ufuqul ‘Adzamati Al-Muhammadiyah karya Al-Imam Abdul Salam Ali Syita.

Bukan sekadar rutinitas pekanan, pengajian ini menghadirkan suasana ilmu yang hangat sekaligus reflektif. Jamaah tidak hanya diajak mendengar, tetapi juga menata kembali niat dan tujuan mencari ilmu.

“Awal dari ngaji itu niat. Semua langkah menuju majelis harus diniatkan sebagai qurbah, mendekat kepada Allah,” tutur KH. Marpu Muhiddin Ilyas di hadapan jamaah.

Beliau menjelaskan, dalam nazam yang dibacakan terdapat tahapan lengkap mencari ilmu. Dimulai dari niat yang lurus karena Allah, kemudian menyimak dengan fokus (istima’), memahami makna ilmu, menghafal bagian penting, mengamalkan dalam kehidupan, hingga menyebarkannya kepada orang lain.

Baca Juga:  Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A, Ungkap 3 Hal yang Kita Pinta kepada Allah

Menurutnya, mengaji bukan hanya soal hadir di majelis, tetapi proses membangun kedekatan kepada Allah melalui ilmu yang dipahami dan diamalkan.

“Ilmu itu jangan berhenti di kepala. Harus turun menjadi amal, lalu disebarkan. Minimal kepada keluarga, tetangga, atau lewat tulisan dan media sosial,” ujarnya.

Syariat Islam Dibangun di Atas Kemudahan

Dalam kajian utama, KH. Marpu membahas tema besar tentang keagungan syariat Islam sebagai agama yang penuh toleransi dan kemudahan (syariatus samahah wal yusr).

Beliau mengulas tafsir ayat-ayat akhir Surah Al-Baqarah, khususnya ayat 284 hingga 286, yang menurutnya menjadi fondasi penting dalam memahami ruh syariat Islam.

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَسَلَّمْنَا

KH. Marpu menjelaskan, ketika turun ayat tentang hisab terhadap isi hati, para sahabat merasa sangat berat. Mereka khawatir lintasan pikiran yang muncul di dalam hati pun akan dihisab oleh Allah. Namun Rasulullah SAW mengajarkan sikap sam’ina wa atha’na wa sallamna — kami dengar, kami taat, dan kami pasrah.

Baca Juga:  Alumni SMA Al-Muhajirin Pusat Mendarat di Universitas Padjadjaran, Terus Semangat Menimba Ilmu!

Dari sikap kepatuhan itulah, lanjut beliau, Allah kemudian menurunkan berbagai bentuk keringanan bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Di antaranya:

  • lintasan hati yang tidak diucapkan dan tidak dilakukan tidak dihisab,
  • kesalahan karena lupa dan tidak sengaja diampuni,
  • umat Nabi Muhammad tidak dibebani syariat berat seperti umat terdahulu.

“Islam bukan agama yang ingin mempersulit manusia. Islam itu syariat yang memudahkan, menggembirakan, dan menjaga umatnya,” tegasnya.

Beliau kemudian memberi contoh bagaimana umat terdahulu menghadapi aturan yang jauh lebih berat. Pada masa Bani Israil, pakaian yang terkena najis harus dibuang atau dipotong bagian yang terkena. Bahkan dosa seseorang bisa diketahui secara terang-terangan. Sedangkan umat Nabi Muhammad diberikan kemudahan berupa cukup membasuh najis dan dibukakan pintu taubat yang luas.

“Dosa umat Nabi ditutupi Allah. Bahkan ada yang dihapuskan. Itu bentuk kasih sayang Allah kepada umat Rasulullah,” jelasnya.

Mengaji Harus Melahirkan Amal

Dalam penjelasannya, KH. Marpu juga menekankan pentingnya merespons ilmu dengan amal. Mengutip Imam Al-Ghazali, beliau menyebut tanda seseorang mendapat hidayah adalah ketika ilmu yang didengar melahirkan keinginan untuk mempraktikkannya.

Baca Juga:  Haul Abah Pengkolan dan Napak Tilas Syaikhuna KH Abun Bunyamin

Bahkan, menurut beliau, mengamalkan satu ilmu walaupun hanya sekali tetap memiliki nilai besar di sisi Allah.

Majelis ilmu, katanya, jangan berhenti menjadi ruang mendengar. Ia harus menjadi ruang perubahan diri.

“Kalau dapat ilmu baik, lalu hati berkata ‘saya akan coba amalkan’, itu tanda hidayah,” ujarnya.

Pengajian rutin ini ditutup dengan shalat Dzuhur berjamaah. Jamaah tampak bertahan hingga akhir, menyimak kajian yang berlangsung lebih dari dua jam dengan penuh antusias.

Melalui tema “Ilmu Menyinari Hati, Amal Menghidupi Diri”, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat berharap pengajian rutin ini menjadi ruang tumbuhnya pemahaman Islam yang teduh, mendalam, dan membumi di tengah masyarakat.

Kajian terbuka untuk umum dan akan terus berlanjut setiap Sabtu dengan pembahasan lanjutan mengenai kemudahan syariat Islam dalam ibadah, rumah tangga, muamalah, hingga akhlak kehidupan sehari-hari.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *