
AL-MUHAJIRIN — Kajian Surat An-Naba dalam pengajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat menjadi ruang perenungan mendalam tentang iman, perbedaan, dan cara membaca kehidupan sebagai tanda kekuasaan Allah SWT.
Kajian tersebut digelar di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu 20 Mei 2026, dan diasuh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA.
Dengan merujuk kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i, KH. Marpu menguraikan awal Surat An-Naba, terutama ayat “Amma yatasa’alun” hingga “Tsumma kalla saya’lamun”.
Dalam penjelasannya, KH. Marpu menerangkan bahwa ayat-ayat awal Surat An-Naba berbicara tentang orang-orang yang mempertanyakan dan memperselisihkan berita besar. Berita besar itu mencakup Al-Qur’an, hari kebangkitan, dan kehidupan akhirat.
Menurutnya, perselisihan orang-orang yang menolak ajaran Islam bukan lahir dari pencarian kebenaran yang jujur, tetapi dari kehilangan hakikat. Mereka berbeda-beda dalam menolak karena tidak memiliki dasar yang kokoh.
Ia menjelaskan, jika seseorang benar-benar mengetahui hakikat sesuatu, maka jawabannya akan jelas. Sebaliknya, ketika tidak mengetahui hakikat, yang muncul adalah dugaan, tebakan, dan perbedaan pendapat yang tidak berujung.
Namun, KH. Marpu tidak berhenti pada pembahasan tentang orang yang menolak. Ia mengajak para guru untuk melihat fenomena iman dan kufur sebagai jalan untuk semakin mengenal Allah SWT.
Menurutnya, ketika seseorang melihat ada orang yang mudah menerima kebenaran, mudah beriman, dan mudah memahami ilmu, maka di sana seorang hamba sedang menyaksikan tanda sifat Allah Al-Hadi, Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk.
Sebaliknya, ketika ada orang yang sulit menerima nasihat, menolak kebenaran, dan terus membangkang meski telah diberi penjelasan, seorang hamba dapat membaca hal itu sebagai mazhar atau penampakan dari sifat Allah Al-Mani, Dzat Yang Maha Mencegah.
“Ketika melihat orang begitu mudah menerima kebenaran, kita sedang melihat Allah menunjukkan sifat Al-Hadi. Ketika melihat ada yang sulit menerima, kita juga sedang diajak membaca sifat Allah Al-Mani,” jelas KH. Marpu.
Ia menegaskan bahwa cara pandang seperti ini penting agar seseorang tidak hanya sibuk menilai peristiwa secara lahiriah. Setiap kejadian harus membawa seorang hamba semakin dekat kepada Allah, semakin mengenal sifat-sifat-Nya, dan semakin hati-hati dalam merespons kehidupan.
KH. Marpu juga mengingatkan bahwa sikap ridha kepada ketentuan Allah harus dipadukan dengan tanggung jawab menjalankan syariat. Seorang muslim tidak boleh hanya berkata bahwa semua adalah kehendak Allah lalu membiarkan kemungkaran terjadi. Ridha kepada Allah harus berjalan bersama kesadaran untuk tetap merespons sesuai tuntunan Islam dan sunnah Rasulullah SAW.
Karena itu, dalam menghadapi kebodohan, penolakan, atau penyimpangan, seorang guru tetap harus mengajar, menasihati, dan membimbing. Namun, respons tersebut harus terukur, tidak melampaui batas, dan tidak merusak nilai-nilai syariat.
Kajian ini menjadi pengingat bagi para guru Al-Muhajirin bahwa tugas mendidik bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membaca keadaan dengan kacamata tauhid. Setiap keberhasilan, kesulitan, penerimaan, dan penolakan harus menjadi jalan untuk semakin mengenal Allah.
Melalui kajian rutin ini, para guru diajak menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam mengajar, berdakwah, dan menghadapi berbagai dinamika kehidupan modern. Surat An-Naba tidak hanya dipahami sebagai bacaan Juz ‘Amma, tetapi sebagai pedoman untuk membangun keteguhan iman, kejernihan berpikir, dan kedalaman spiritual.
