KH. Marpu: Surat An-Naba Mengajarkan Cara Tenang Menghadapi Keraguan terhadap Al-Qur’an dan Akhirat

Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN — Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, menguraikan makna awal Surat An-Naba dalam pengajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat, Rabu 20 Mei 2026.

Kajian yang berlangsung di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, tersebut merujuk pada kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i, sebuah tafsir kontemporer berbasis Tafsir Jalalain untuk Juz 30.

Pada kajian tersebut, KH. Marpu menjelaskan ayat pertama Surat An-Naba, “Amma yatasa’alun”, yang berarti “tentang apakah mereka saling bertanya?” Menurutnya, ayat ini tidak hanya menggambarkan percakapan biasa, tetapi juga menunjukkan adanya diskusi, perdebatan, bahkan perselisihan besar tentang berita agung yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Berita besar atau an-naba al-azhim dalam ayat tersebut, menurut KH. Marpu, dapat dimaknai sebagai Al-Qur’an, hari kebangkitan, dan kehidupan akhirat. Tiga hal ini merupakan pokok ajaran Islam yang sejak awal sering dipersoalkan oleh orang-orang yang menolak kebenaran.

Baca Juga:  Ponpes Al-Muhajirin Mengucapkan Selamat Atas Dilantiknya H. Boy Hari Novian, S.E., M.M sebagai Kepala Kantor Kementerian Haji & Umrah Provinsi Jawa Barat

KH. Marpu menjelaskan bahwa penolakan terhadap ajaran Islam biasanya berputar pada tiga hal tersebut. Ada yang meragukan Al-Qur’an, ada yang menolak hari kebangkitan, dan ada pula yang tidak percaya kepada kehidupan akhirat.

Namun, Al-Qur’an memberikan pola yang sangat jelas dalam menghadapi penolakan semacam itu. Mereka yang menolak kebenaran akan selalu berbeda-beda dalam bantahannya, karena tidak berdiri di atas hakikat dan pengetahuan yang benar.

“Perbedaan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki pijakan. Mereka kehilangan hakikat,” terang KH. Marpu.

Ia mencontohkan, sejak masa Rasulullah SAW, orang-orang yang menolak Al-Qur’an menyebut Al-Qur’an dengan berbagai tuduhan. Ada yang menyebutnya sihir, syair, cerita masa lalu, atau buatan Nabi Muhammad SAW. Perbedaan tuduhan tersebut justru menunjukkan lemahnya dasar penolakan mereka.

Baca Juga:  Seluruh Civitas SMI 1-3 Al Muhajirin Rutin Ikuti Pengajian Setiap Hari Rabu

Menurut KH. Marpu, pola ini tetap relevan hingga hari ini. Penolakan terhadap Al-Qur’an, hari kebangkitan, dan akhirat dapat hadir dengan kemasan baru, termasuk melalui bahasa ilmiah, diskusi akademik, atau narasi modern. Namun, substansinya tetap sama, yaitu meragukan prinsip-prinsip utama ajaran Islam.

Karena itu, ia mengajak para guru agar tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan berbagai pemikiran yang menyerang pokok-pokok keimanan. Al-Qur’an sudah memberikan pola untuk mengenali bantahan tersebut.

“Kalau benar-benar ngaji Al-Qur’an, kita akan lebih tenang menghadapi orang yang mengingkari akhirat. Polanya sudah diberitahu oleh Al-Qur’an,” ujarnya.

Baca Juga:  Pelaksanaan Sholat Dhuha, Membaca Dzikir dan Motivation of The Day Menjadi Kegiatan Rutin di SMA Fullday Al Muhajirin Sebelum Pelaksanaan Pembelajaran

KH. Marpu juga menjelaskan makna ayat “Kalla saya’lamun, tsumma kalla saya’lamun”. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mereka yang terus menolak kebenaran. Menurutnya, Al-Qur’an tidak selalu meladeni perdebatan yang lahir dari kebencian dan penolakan. Ada saatnya jawaban Al-Qur’an adalah peringatan bahwa kelak mereka akan mengetahui sendiri akibat dari pengingkaran tersebut.

Kajian ini menjadi penguatan penting bagi para guru Al-Muhajirin. Di tengah derasnya arus informasi dan munculnya berbagai wacana yang menggugat ajaran agama, para pendidik diajak memiliki keteguhan iman, keluasan ilmu, dan ketenangan dalam menyampaikan kebenaran.

Melalui kajian Surat An-Naba, KH. Marpu menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, tetapi juga pedoman berpikir, pedoman bersikap, dan pedoman menghadapi tantangan zaman. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *