
AL-MUHAJIRIN — Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., menegaskan bahwa pembelajaran Al-Qur’an merupakan kurikulum inti yang menjadi dasar seluruh gerakan pendidikan di lingkungan Al-Muhajirin.
Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Wisuda Tahsin Metode Hijroti Angkatan ke-1 dan Tahfidz Juz 2–20 SMP-MTs-SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026, yang digelar di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Minggu 14 Juni 2026.
Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ifa menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas capaian yang telah diraih. Menurutnya, kemampuan membaca, mempelajari, dan menghafal Al-Qur’an merupakan karunia besar dari Allah SWT.
Beliau menyebut para santri yang diberi kesempatan untuk dekat dengan Al-Qur’an sebagai insan-insan pilihan. Karena itu, pencapaian tersebut harus disyukuri dan dijaga dengan terus membaca, menghafal, memahami, serta mengamalkan Al-Qur’an.
“Siapa pun yang diberikan kesempatan untuk lebih dekat kepada Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an, apalagi menghafal dan menggali tafsirnya, adalah insan-insan yang terpilih di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.
Dr. Hj. Ifa juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an diharapkan menjadi syafaat, penerang, dan petunjuk bagi seluruh keluarga besar Al-Muhajirin, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Menurutnya, sejak awal berdiri, Al-Muhajirin tumbuh dari semangat menjaga, melestarikan, dan mensyiarkan Al-Qur’an. Semangat tersebut telah ditanamkan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.
Beliau mengisahkan, pada masa awal perkembangan Al-Muhajirin, Syaikhuna secara langsung mengajarkan metode Iqra kepada masyarakat. Dari pembelajaran Al-Qur’an tersebut, Al-Muhajirin kemudian terus berkembang hingga menjadi pondok pesantren dan lembaga pendidikan yang menaungi banyak santri.
“Program pembelajaran Al-Qur’an adalah kurikulum inti yang menjadi intisari dari semua pergerakan di Al-Muhajirin,” tegasnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga Al-Qur’an, Yayasan Al-Muhajirin membentuk lembaga khusus, yaitu Lembaga Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an atau LTTQ. Lembaga ini menjadi bagian penting dalam memastikan pembelajaran Al-Qur’an berjalan berkelanjutan, mulai dari tahsin, tahfidz, hingga pemahaman Al-Qur’an.
Dr. Hj. Ifa menjelaskan, pembelajaran Al-Qur’an di Al-Muhajirin tidak berhenti pada kemampuan membaca. Para santri juga diarahkan untuk menghafal, memahami, dan mendalami kandungan Al-Qur’an.
Keseriusan itu juga diperkuat melalui jenjang pendidikan tinggi dengan hadirnya Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di STAI Al-Muhajirin. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan Al-Qur’an di Al-Muhajirin dirancang secara berkelanjutan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Beliau menambahkan, guru Al-Qur’an di Al-Muhajirin juga harus memiliki kompetensi khusus. Para pengajar Al-Qur’an tidak cukup hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga harus mengikuti sertifikasi guru Al-Qur’an.
“Yang mengajar Al-Qur’an di Al-Muhajirin bukan sembarangan. Mereka harus memiliki kemampuan tahsin dan menyelesaikan sertifikasi guru Al-Qur’an,” jelasnya.
Selain pembelajaran tahsin dan tahfidz, Al-Muhajirin juga mengembangkan program integrasi Al-Qur’an dan sains. Program ini diterapkan terutama pada jenjang SLTA, di mana para santri diarahkan menyusun karya tulis berbasis Al-Qur’an sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Santri jurusan sains diarahkan mengkaji fenomena alam dalam perspektif Al-Qur’an. Santri jurusan sosial mengkaji fenomena masyarakat dengan pendekatan Al-Qur’an. Sementara santri jurusan bahasa mengintegrasikan kajian kebahasaan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Menurut Dr. Hj. Ifa, semakin Al-Qur’an dipelajari, semakin luas ilmu yang dapat digali darinya. Karena itu, wisuda tahsin dan tahfidz bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan pemicu agar para santri semakin mendalami Al-Qur’an.
“Ini bukanlah akhir, tetapi pemicu untuk terus menggali, menghayati, dan mempelajari Al-Qur’an lebih dalam,” pesannya kepada para wisudawan.
Beliau berharap dari rahim pendidikan Al-Muhajirin lahir kader-kader ulama yang mampu mewarisi risalah dakwah Nabi Muhammad SAW. Para santri Al-Muhajirin diharapkan menjadi generasi yang menjaga, mencintai, dan mensyiarkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Dr. Hj. Ifa juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi simbol atau rutinitas seremonial. Al-Qur’an harus menjadi petunjuk hidup yang dipahami dan diamalkan, karena di dalamnya terdapat pedoman bagi seluruh umat manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hj. Ifa menyampaikan apresiasi kepada para guru Al-Qur’an, pengurus LTTQ, para orang tua, serta seluruh pihak yang telah mendampingi para santri dalam proses belajar. Beliau juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI, H. Abdul Aziz Sidqi, M.Ag., yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Beliau berharap program-program Al-Qur’an di Al-Muhajirin dapat semakin terintegrasi dengan LPMQ Kementerian Agama RI, sehingga wawasan dan gerakan Al-Qur’an di Al-Muhajirin semakin kuat dari tingkat PAUD, dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
“Mudah-mudahan dari santri Al-Muhajirin inilah Al-Qur’an akan terus lestari dan terus disyiarkan,” ujarnya. (*)
