Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Kamis, 24 September 2026

Berita

Syafaat, Taubat, dan Kebaikan Kecil: Pelajaran dari Penutup Surah An-Naba di Pengajian Rabu Al-Muhajirin Pusat

Oleh Fajar Maritim24 September 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN— Bayangkan sebuah hari ketika para malaikat dan ruh berdiri berbaris rapi, tanpa suara. Tidak ada yang berani bicara kecuali yang diizinkan. Gambaran inilah yang dibuka Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam pengajian rutin Hari Rabu (23/9/2026) di Kampus Pusat Al-Muhajirin, Purwakarta.

Di hadapan para guru, kajian Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer sampai pada penutup Surah An-Naba. Dari ayat-ayat tentang hari kiamat, KH. Marpu menarik pelajaran yang dekat dengan hidup sehari-hari.

Adab di hadapan Allah

Menurut KH. Marpu, ayat yauma yaqumur ruhu wal malaikatu shaffa memuat dua isyarat adab. Pertama, berdiri tertib dan rapi. Kedua, tidak ada yang berani bicara.

“Semua malaikat dan ruh berdiri dengan sangat tertib, sangat rapi,” jelasnya. Kalau makhluk sekelas malaikat bersikap demikian, katanya, manusia tentu lebih perlu belajar tentang adab kepada Allah.

Syafaat dan pentingnya lingkaran orang saleh

Bagian yang paling dalam ia bahas adalah wa qala shawaban: yang diizinkan bicara pun hanya mengucapkan yang benar. Dalam tafsir, “yang benar” itu adalah permohonan syafaat bagi orang yang diridai Allah. Karena itu ayat ini menjadi dalil bahwa orang beriman pun dapat memberi syafaat, bukan hanya Rasulullah SAW.

KH. Marpu membedakan syafaat dari pertolongan biasa dengan perumpamaan sederhana. Pertolongan biasa melibatkan dua pihak. Syafaat melibatkan tiga: si peminta, pihak yang dimintai, dan penerima kebaikan. Ia mencontohkan Pak Asep yang mendatangi Pak Oman untuk memintakan bantuan bagi Pak Ahmad. Yang meminta bukan untuk dirinya, melainkan untuk orang lain. Itulah syafaat. Bila di dunia saja kita sering butuh perantara, katanya, di akhirat kebutuhan itu jauh lebih besar.

Dari sini KH. Marpu menekankan pentingnya membangun lingkaran kesalehan. Setiap mukmin akan memberi syafaat kepada orang yang ia cintai, sehingga hubungan dengan guru dan orang-orang bertakwa tidak boleh dianggap sepele. Ia mengutip ayat bahwa pada hari kiamat para sahabat karib saling bermusuhan, kecuali mereka yang bertakwa.

“Penting membangun hubungan kecintaan, pertemanan dengan orang-orang baik, orang-orang takwa,” tuturnya. KH. Marpu menyebut pentingnya berguru dengan sanad dan tetap berada dalam hati sang guru lewat khidmah dan pengamalan ilmunya. Menurutnya, takwa sulit ditempuh sendirian.

Rasulullah, pemberi izin pertama

KH. Marpu lalu menguraikan bahwa yang pertama diizinkan bicara dan memberi syafaat adalah Rasulullah SAW, sesuai janji Allah tentang maqaman mahmuda dalam Surah Al-Isra. Ia menggambarkan suasana Padang Mahsyar: manusia panik dan bingung, lalu mendatangi para nabi. Mereka mendatangi Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa. Semuanya menolak dengan jawaban serupa: “bukan hak saya”.

Ketika mereka datang kepada Rasulullah SAW, beliau menjawab, “Ana laha,” akulah yang berhak. Beliau bersujud lama di bawah Arasy, lalu diperintah mengangkat kepala dan memohon. Kalimat pertama yang beliau ucapkan adalah ummati, ya Rabbi, umatku, wahai Tuhanku. Yang beliau khawatirkan adalah umatnya, dan di situ terlihat kecintaannya kepada mereka.

KH. Marpu juga mengingatkan hadis bahwa manusia yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat. Menurutnya, yang penting bukan hitungannya, melainkan dampak dari banyaknya shalawat itu: membuka batin, membersihkan hati, dan menjaga seseorang agar tidak terputus dari Allah.

Hari yang nyata, dan taubat sebagai jalan pulang

Dari syafaat, kajian beralih ke yaumul haqq. Kata haqq, jelasnya, berarti nyata dan pasti, bukan omong kosong. Karena itu, siapa yang ingin selamat di hari itu harus menempuh jalan kembali kepada Allah, yaitu taubat.

Mengutip Imam Al-Ghazali, ia menyebut hakikat taubat sebagai ar-ruju‘ minal bu‘di ilal qurb: kembali dari jauh menuju dekat. Jarak setiap orang berbeda, sehingga taubat pun bertingkat. Istigfar tidak berhenti pada dosa lahir, tetapi mencakup dosa batin: waswas, rasa mampu dan merasa bisa, hingga rasa bangga dalam beramal, bahkan puasa yang menimbulkan ujub dan salat yang justru membawa bahaya. Puncaknya adalah beristigfar dari kufur nikmat.

KH. Marpu menambahkan bahwa apa pun yang menjauhkan dari Allah patut diistigfari, meski menurut fikih tidak berdosa. Tidak mengaji, tidak membaca Al-Qur’an, atau tidak bershalawat memang tidak berdosa. Tetapi hati tetap lebih jauh dari Allah dibanding saat melakukannya. Dengan cara pandang ini, kata KH. Marpu, seseorang selalu merasa kurang dan tidak sempat menyombongkan diri.

“Akhirat itu dekat”

Ayat inna anzarnakum ‘azaban qariba (Kami telah memperingatkan kalian akan azab yang dekat) ia hubungkan dengan psikologi waktu. Segala yang pasti datang pada dasarnya dekat. Manusia yang di usia 50 tahun merasa 60 masih lama akan kaget ketika waktunya tiba.

“Masa tua itu qarib, maut teh qorib, akhirat tuh qorib, dekat,” jelasnya. Konsekuensinya adalah qasrul amal, memendekkan angan-angan. Ia menyinggung kebiasaan menunda: “nanti saja ngaji kalau sudah pensiun”, “nanti saja kalau anak sudah besar”. Penundaan seperti itulah yang disebut thulul amal. Ia mengajak para guru berlatih berpikir seperti Rasulullah, yang tidak menjadwalkan hidupnya untuk sepuluh tahun ke depan.

Kebaikan kecil, jangan diremehkan

Setiap orang, katanya, akan melihat hasil amalnya dua kali. Pertama secara global saat sakaratul maut, ketika seseorang sudah melihat arah surga atau nerakanya. Kedua secara rinci pada hari kiamat, ketika tidak ada amal sekecil apa pun yang terlewat.

Karena itu KH. Marpu mengingatkan agar tidak meremehkan kebaikan kecil. Ia menceritakan Sayyidah Aisyah yang pernah bersedekah sebutir kurma kepada seorang ibu miskin yang membawa dua anak. Ibu itu membagi kurma tersebut untuk kedua anaknya. Ketika ada yang menganggapnya terlalu sedikit, Sayyidah Aisyah menjawab bahwa di dalam Al-Qur’an yang disebut bukan kurma, melainkan dzarrah, kebaikan seberat atom yang pun akan dilihat balasannya.

“Jadi kita pun harus melatih begitu, PD berbuat baik, menghargai diri yang melakukan kebaikan walaupun kebaikan kecil,” pesannya. Menurutnya, dhuha dua rakaat, membaca Al-Qur’an satu ayat, atau istigfar sekali tetap layak dihargai. Setan justru sering membuat orang malu dan minder untuk beramal kecil.

Penyesalan yang terlambat

KH. Marpu lalu membandingkannya dengan ucapan orang kafir, ya laitani kuntu turaba, andai aku menjadi tanah. Itu, katanya, penyesalan yang sudah tidak berguna. Sikap orang mukmin berbeda, sebab ia justru menerima catatan amalnya dengan gembira, seperti dalam Surah Al-Haqqah. Ungkapan serupa bisa bernilai lain bila diucapkan di dunia. KH. Marpu menyebut ucapan semacam itu, yang muncul dari rasa takut akan beratnya hisab, sebagai bentuk taubat dan kerendahan diri.

Rute-rute kehidupan

Menutup kajian, KH. Marpu menggambarkan perjalanan manusia sebagai serangkaian rute: alam arwah, rahim, dunia, barzakh, lalu akhirat yang tak berujung. Setiap rute menjadi bekal rute berikutnya. Rahim menyiapkan fisik untuk dunia, dan dunia menyiapkan bekal untuk akhirat.

“Dunia hanyalah salah satu rute kecil menuju kehidupan sejati kita,” ungkapnya. Karena itu, setiap aktivitas harus diarahkan agar bernilai akhirat. Yang menjamin hal itu, menurutnya, adalah ilmu dan zikir. Ia menyebut amal tidak sah tanpa ilmu.

Dari titik ini KH. Marpu membahas tasawuf dan tarekat. Ia mengingatkan bahwa tasawuf tidak sah tanpa ilmu, dan banyak praktik yang instan justru mencoreng nama tarekat. Namun ia membedakan tegas antara tidak bertarekat dan tidak berzikir. Zikir adalah prinsip setiap mukmin dan sunah Rasulullah SAW, sedangkan tarekat adalah jalan pembinaan yang berdisiplin dan berpembimbing. Ia mencontohkan bahwa para ulama besar, seperti Imam Ash-Shawi dan Ibnu ‘Athaillah, bertarekat. Karena itu ia mengajak jamaah membaca biografi ulama, bukan hanya ilmunya tetapi juga perjalanan hidup dan keteladanannya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *