Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Sabtu, 15 Agustus 2026

Berita

Buka PESBUQ ke-16, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas: Penguasaan Kitab Kuning Membuat Santri Unggul dalam Profesi Apa Pun

Oleh Fajar Maritim15 Agustus 20266 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., menyampaikan sambutan dalam pembukaan PESBUQ ke-16 di Lapangan Al-Muchtar, Jumat malam, 14 Agustus 2026.

AL-MUHAJIRIN – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., menyampaikan bahwa kemampuan membaca dan memahami kitab kuning menjadi bekal penting bagi santri untuk menghadapi persaingan global.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Pekan Musabaqah Qira’atil Kutub (PESBUQ) ke-16 di Lapangan Al-Muchtar, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Jumat malam, 14 Agustus 2026.

PESBUQ ke-16 mengusung tema “Memenangkan Persaingan Global dengan Penguasaan Ilmu-ilmu Kitab Kuning”.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., didampingi Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., jajaran kepala sekolah, asatiz, serta panitia. Pembukaan ditandai dengan pembacaan basmalah, selawat, dan Surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan penabuhan gong.

Dalam sambutannya, Dr. KH. Marpu mengajak para santri memahami sejarah lahirnya PESBUQ. Sebelum kegiatan tersebut diselenggarakan pertama kali 16 tahun yang lalu, Al-Muhajirin telah menggagas Olimpiade Nahwu Sharaf dan Olimpiade Sirah Nabawiyah sebagai sarana menguji kemampuan keilmuan santri.

Olimpiade Nahwu Sharaf dirancang untuk menguji penguasaan santri dari tingkat dasar hingga lanjutan. Pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan kemampuan menerapkan kaidah bahasa Arab secara langsung dalam membaca kitab.

“Kita memiliki pendekatan tatbiqi, yakni nahwu yang berorientasi pada praktik. Kemampuan santri benar-benar diuji dalam menerapkan ilmu untuk membaca dan memahami kitab,” jelasnya.

Dari kegiatan tersebut lahir sejumlah santri berprestasi yang kemudian melanjutkan pendidikan dan pengabdiannya dalam bidang keilmuan. Seiring berjalannya waktu, perlombaan yang semula berfokus pada nahwu dan sharaf berkembang dengan melibatkan berbagai kitab serta bidang keilmuan pesantren.

Perkembangan itu kemudian melahirkan Pekan Musabaqah Qira’atil Kutub yang dikenal dengan nama PESBUQ dan menjadi agenda besar tahunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat.

Menurut Dr. KH. Marpu, pemilihan nama PESBUQ memiliki kisah dan semangat tersendiri. Nama tersebut sengaja dibuat menyerupai sebutan Facebook yang saat itu sedang berkembang pesat di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Santri SD Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta Tebar Semangat Merah Putih Jelang HUT RI ke-80

Namun, Al-Muhajirin memberikan makna yang berbeda. Jika masyarakat mengenal Facebook sebagai media sosial, para santri Al-Muhajirin diarahkan untuk mengingat PESBUQ sebagai kegiatan membaca kitab kuning.

“Kita ingin santri menjadi pemimpin, bukan pengikut; memengaruhi, bukan dipengaruhi; serta menciptakan tren, bukan mengikuti tren,” ujarnya.

PESBUQ ditulis dengan huruf P pada bagian awal dan Q pada bagian akhir sebagai singkatan dari Pekan Musabaqah Qira’atil Kutub. Melalui penamaan tersebut, Al-Muhajirin berupaya menghadirkan tren baru yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

“Ketika orang lain mendengar Facebook, mungkin yang terbayang adalah media sosial dan pertemanan. Ketika santri Al-Muhajirin mendengar PESBUQ, yang harus diingat adalah perlombaan membaca kitab dan tradisi kitab kuning,” tuturnya.

Memasuki penyelenggaraan ke-16, beliau meminta panitia dan seluruh peserta terus melakukan inovasi. Pelaksanaan PESBUQ tahun ini harus menunjukkan perkembangan dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya, baik dari sisi kegiatan, kualitas perlombaan maupun capaian peserta.

KH Marpu juga mengingatkan prinsip bahwa seseorang akan beruntung apabila hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Prinsip tersebut juga harus diterapkan dalam pelaksanaan PESBUQ.

“PESBUQ tahun ini harus lebih meriah dan lebih baik. Jangan merasa cukup karena tahun lalu sudah seperti itu. Kita harus memikirkan apa yang dapat dikembangkan tahun ini,” katanya.

Pesan tersebut sejalan dengan jargon Al-Muhajirin, “Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf, dan Berakidah Ahlussunnah wal Jamaah”. Para santri didorong untuk terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisi keilmuan para ulama.

Dr. KH. Marpu juga mengajak seluruh kelompok peserta berlomba secara sungguh-sungguh dan sehat. Kelompok yang pernah meraih juara umum diharapkan mampu mempertahankan prestasinya dengan capaian yang lebih tinggi, sedangkan kelompok lainnya harus berusaha menghadirkan prestasi baru.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa penguasaan kitab kuning tidak terbatas bagi santri yang bercita-cita menjadi ustaz atau kiai. Kemampuan tersebut akan menjadi nilai lebih bagi siapa pun, apa pun profesi yang dipilih pada masa mendatang.

Baca Juga:  Daftar Sekarang! Turnamen Voli Bergengsi Al-Muhajirin Pusat 2026 Tanpa Biaya, Total Hadiah Rp18 Juta

Santri dipersilakan menjadi dokter, perawat, bidan, polisi, tentara, guru, pedagang, pengusaha, hingga pekerja di bidang kreatif. Namun, kemampuan memahami kitab kuning akan memberikan dasar keilmuan agama yang membedakannya dari orang lain dengan profesi serupa.

“Kalau kalian memiliki kemampuan membaca dan menguasai kitab kuning, kalian akan mempunyai kualitas di atas orang lain dalam profesi yang sama. Menjadi dokter, perawat, polisi, pedagang, atau pengusaha yang mampu membaca kitab kuning tentu merupakan sesuatu yang istimewa,” ungkapnya.

Menurutnya, kemuliaan tersebut lahir karena di dalam kitab kuning tersimpan khazanah ilmu para ulama yang bersumber dari ajaran Rasulullah SAW. Oleh karena itu, santri tidak boleh menganggap kitab kuning tidak diperlukan hanya karena tidak bercita-cita menjadi tokoh agama.

“Jangan berpikir, ‘Saya tidak membutuhkan kitab kuning karena tidak ingin menjadi ustaz atau kiai.’ Apa pun cita-cita kalian, kemampuan memahami kitab kuning akan menjadi bekal yang sangat berharga,” pesannya.

Selain kesungguhan belajar, Dr. KH. Marpu menyebut ketakwaan sebagai salah satu kunci utama agar santri memperoleh kemudahan dalam memahami ilmu. Ia mengutip bagian akhir Surah Al-Baqarah ayat 282:

“Wattaqullāha wa yu‘allimukumullāh.”

Artinya, “Bertakwalah kepada Allah, dan Allah memberikan pengajaran kepadamu.”

KH. Marpu menjelaskan bahwa santri tetap harus mengikuti pengajian, hadir di kelas, melaksanakan sorogan, mendengarkan guru, serta mencatat pelajaran. Seluruh ikhtiar tersebut perlu disertai ketakwaan, niat yang ikhlas, dan kebersihan hati.

“Ngaji harus tetap dijalankan. Hadir di kelas, mengikuti sorogan, mencatat, dan mendengarkan guru. Namun, semuanya harus diperkuat dengan ketakwaan. Jagalah kebersihan hati kepada teman, terlebih kepada guru dan keluarga guru,” tuturnya.

Ketakwaan, lanjutnya, dapat menghadirkan keberkahan dalam proses belajar. Santri yang menjaga hati dan memurnikan niat berpeluang memperoleh pemahaman mendalam meskipun menjalani masa belajar yang relatif singkat.

“Mungkin seseorang belajar selama tiga tahun, enam tahun, atau beberapa bulan. Ketakwaan dapat membuat ilmu yang dipelajarinya menjadi megah dan bernilai,” katanya.

Baca Juga:  STAI Al-Muhajirin Purwakarta Gelar Dakwah Pengabdian Umat dalam Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Tema PESBUQ ke-16 dinilai semakin relevan di tengah perubahan dunia. Menurut Dr. KH. Marpu, masyarakat saat ini menghadapi era multipolar, ketika informasi, pandangan, dan klaim kebenaran datang dari berbagai arah. Otoritas keilmuan juga menghadapi tantangan seiring dengan perkembangan teknologi dan mesin digital.

Dalam keadaan tersebut, santri memerlukan dasar keilmuan yang kuat agar tidak kehilangan arah. Kitab kuning dapat menjadi salah satu pijakan untuk memahami ajaran agama melalui mata rantai keilmuan para ulama.

“Sekarang banyak pihak mengaku membawa kebenaran. Arah dan rujukan semakin bercabang. Namun, jika kalian menguasai kitab kuning, saya tidak khawatir. Kalian akan mempunyai bekal untuk memenangkan persaingan global,” ujarnya.

Beliau meminta tema besar PESBUQ dihidupkan dalam setiap cabang perlombaan. Tema tersebut perlu masuk ke dalam materi Syarhil Qur’an, Syarhil Kutub, serta penulisan artikel agar para santri tidak sekadar menghafalkan kalimatnya, tetapi memahami dan mampu menjelaskannya.

Dr. KH. Marpu turut menyampaikan harapan agar PESBUQ terus berkembang menjadi kegiatan besar dengan penghargaan yang semakin bergengsi. Ia bercita-cita para pemenang kelak dapat memperoleh beasiswa bernilai besar, bahkan hadiah umrah.

“PESBUQ berkaitan dengan ruh pesantren. Saya mempunyai cita-cita agar suatu saat hadiahnya benar-benar megah, mungkin berupa beasiswa yang lebih besar atau umrah. Mengapa tidak? Semoga Allah mewujudkannya,” ungkapnya.

Pada akhir sambutannya, Dr. KH. Marpu mengajak seluruh santri kembali membaca tema PESBUQ secara bersama-sama. Ia kemudian membuka PESBUQ ke-16 dengan bacaan basmalah, selawat, dan Surah Al-Fatihah sebelum menabuh gong sebagai tanda dimulainya kegiatan.

Beliau berharap seluruh rangkaian perlombaan berjalan lancar dan mampu menumbuhkan kecintaan santri terhadap kitab kuning. Dari PESBUQ diharapkan lahir generasi yang menguasai khazanah keilmuan Islam, memiliki ketakwaan, serta siap berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *