Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Kamis, 20 Agustus 2026

Berita

KH Marpu: Mengenal Keagungan Rasulullah SAW Membuka Jalan untuk Mendekat kepada Allah SWT

Oleh Fajar Maritim16 Agustus 20269 menit baca
Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN – Cinta kepada Rasulullah SAW perlu ditopang oleh pengetahuan yang utuh tentang pribadi, akhlak, risalah, serta kedudukan beliau di sisi Allah SWT. Semakin dalam seorang Muslim mengenal Rasulullah, semakin kuat pula hubungan rohaninya dengan beliau dan semakin terbuka jalannya untuk mendekat kepada Allah.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., dalam Pengajian Rutin Sabtu atau Ngaji Sabtu Muhajirin Satu di Aula Syaikh Datul Kahfi, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dalam pengajian khusus menyambut bulan Maulid tersebut, KH Marpu mulai mengkaji bab keenam Ufuqul ‘Adzamah Al-Muhammadiyah. Bab ini menguraikan keistimewaan, kemuliaan, dan tingginya kedudukan Nabi Muhammad SAW.

Kitab tersebut memuat pembahasan mengenai 40 keagungan Rasulullah. Kajian akan disampaikan secara bertahap selama bulan Maulid agar jamaah tidak hanya mengenal Nabi Muhammad SAW melalui nama dan perjalanan hidupnya, tetapi juga memahami kedudukan rohani serta berbagai keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada beliau.

“Di antara ilmu yang banyak dilupakan orang adalah ilmu yang menjadi kunci pembuka rohani, cahaya, dan kebersihan hati. Ilmu itu disebut ilmu Khashaish ar-Rasul atau Khashaish an-Nabawiyyah, yaitu ilmu yang membahas keistimewaan, keagungan, dan kedudukan mulia yang secara khusus Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW,” tutur KH Marpu.

Mengenal Rasulullah sebagai Bābul Wushūl

KH Marpu menjelaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Hal itu ditegaskan dalam Surah Az-Zariyat ayat 56, bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Nya.

Kewajiban pertama manusia adalah mengenal Allah, mengesakan-Nya, dan menyembah hanya kepada-Nya. Namun, manusia tidak akan mengetahui cara beriman dan beribadah dengan benar tanpa mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah memperkenalkan manusia kepada Allah, menyampaikan Al-Qur’an, mengajarkan tata cara beribadah, serta memberikan teladan dalam menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Melalui beliau, umat mengetahui cara menunaikan shalat, berpuasa, berzakat, berdoa, berzikir, bermuamalah, dan membangun akhlak yang diridai Allah.

“Manusia harus beribadah kepada Allah, bertauhid, dan mengenal-Nya. Namun, semua itu tidak mungkin terlaksana tanpa membuka pintunya. Pintu itu adalah Rasulullah SAW. Beliau adalah bābul wushūl, pintu untuk sampai dan mendekat kepada Allah,” jelasnya.

Karena itu, mengenal Rasulullah tidak cukup dengan mengetahui bahwa beliau bernama Muhammad bin Abdullah dan merupakan rasul terakhir. Umat Islam perlu mempelajari kepribadian, akhlak, perjuangan, sunah, keistimewaan, serta kedudukan beliau di antara seluruh makhluk.

KH Marpu menjelaskan bahwa ilmu Khashaish an-Nabawiyyah memiliki fokus yang berbeda dari sirah dan ilmu hadis. Sirah membahas perjalanan hidup Rasulullah, sedangkan ilmu hadis mempelajari perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau. Adapun Khashaish an-Nabawiyyah secara khusus menguraikan kemuliaan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Ilmu tersebut telah dikenal sejak masa sahabat dan tabiin. Namun, pembahasannya semakin jarang dikenal secara luas sehingga sebagian umat hanya memiliki gambaran umum mengenai Rasulullah. Padahal, pengenalan yang lebih dalam dapat membuka hati, menumbuhkan cinta, dan menguatkan kesadaran untuk mengikuti ajaran beliau.

Ilmu yang Bersanad

KH Marpu menegaskan bahwa materi yang dipelajari dalam pengajian tersebut bersumber dari kitab dan tradisi keilmuan yang memiliki sanad serta jalur pertanggungjawaban yang jelas.

Baca Juga:  Di Ajang KIM Tingkat Nasional, Santri MA Al Muhajirin Juara 3 lomba Entrepreneurship Siswa  

Sanad mempunyai kedudukan penting dalam tradisi pesantren. Melalui sanad, ilmu tidak hadir sebagai informasi yang terputus, tetapi diterima dari guru yang belajar kepada gurunya hingga tersambung kepada para ulama terdahulu.

“Alhamdulillah, kita terhubung dengan ilmu yang jelas sanadnya, jelas jalurnya, dan jelas pertanggungjawabannya. Yang kita baca dan pelajari bukan ilmu yang dipungut secara sembarangan dari Google atau media sosial,” ungkapnya.

Menurutnya, tugas seorang guru adalah menyampaikan dan mengalirkan ilmu yang diterima dari para masyayikh. Dengan demikian, jamaah bukan hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mewarisi adab, keteladanan, dan keberkahan dari mata rantai keilmuan tersebut.

Rasulullah sebagai Hamba yang Sempurna

Pada bagian awal kajian, KH Marpu menguraikan kedudukan Rasulullah sebagai hamba Allah yang memperlihatkan kesempurnaan penghambaan.

Dalam kehidupan ini terdapat Khaliq dan makhluk. Khaliq atau Pencipta hanyalah Allah SWT, sedangkan segala sesuatu selain-Nya merupakan makhluk. Allah adalah satu-satunya Zat yang disembah, sementara manusia dan seluruh ciptaan berkedudukan sebagai hamba.

Nabi Muhammad SAW tetap merupakan makhluk dan hamba Allah. Namun, beliau menunjukkan bentuk penghambaan yang paling murni. Seluruh sisi kehidupan beliau, baik lahir maupun batin, berada dalam ketaatan kepada Allah.

Penglihatan, pendengaran, hati, lisan, dan seluruh gerak tubuh Rasulullah mengandung nilai ubudiyah. Tidak ada bagian dari kehidupan beliau yang terlepas dari penghambaan kepada Allah.

“Selain Rasulullah, penghambaan kita masih bercampur dengan nafsu, kebodohan, dan kelalaian. Rasulullah memperlihatkan penghambaan yang murni. Seluruh pandangan, pendengaran, hati, lisan, dan gerak tubuh beliau bernilai ubudiyah kepada Allah,” jelas KH Marpu.

Kemuliaan Rasulullah tidak mengubah kedudukan beliau sebagai hamba. Justru, menurut KH Marpu, puncak kemuliaan Nabi Muhammad SAW terletak pada kesempurnaan penghambaan beliau kepada Allah.

Pemahaman tersebut sekaligus menjaga akidah umat. Allah tetap satu-satunya Pencipta dan Zat yang disembah, sedangkan Rasulullah merupakan hamba pilihan, utusan, serta teladan tertinggi bagi manusia.

Membaca Hadis dengan Kesadaran dan Ketelitian

KH Marpu kemudian mengutip Surah An-Najm ayat 2–4. Ayat tersebut menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak tersesat, tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, dan apa yang disampaikannya merupakan wahyu yang diwahyukan.

Dalam penjelasannya, Al-Qur’an disebut wahyu matluw, yakni wahyu yang dibaca sebagai Al-Qur’an dalam ibadah. Adapun sunah Rasulullah dipahami sebagai wahyu ghair matluw, yakni petunjuk yang tidak dibaca sebagai bagian dari Al-Qur’an.

Kesadaran tersebut harus memengaruhi cara umat mempelajari hadis. Perkataan Rasulullah perlu dibaca secara teliti karena pilihan kata, susunan kalimat, dan urutan penjelasannya mengandung makna.

“Apa pun yang Rasulullah katakan mengandung pesan. Tidak begitu saja. Ketika membaca hadis, dalam pikiran kita harus muncul pertanyaan: mengapa Rasulullah memilih kalimat ini, mengapa susunannya seperti ini, dan ke mana arah pesannya?” terangnya.

KH Marpu mencontohkan hadis “Innamal a‘mālu binniyyāt” mengenai pentingnya niat dan hadis “Buniyal Islāmu ‘alā khamsin” tentang lima fondasi Islam. Susunan kata dalam hadis-hadis tersebut mengandung keluasan ilmu yang perlu direnungkan, bukan hanya dihafalkan.

Beliau juga menceritakan Abdullah bin Amr bin Ash RA yang rajin mencatat sabda Rasulullah. Kebiasaan tersebut sempat dipersoalkan karena ada orang yang khawatir Rasulullah berbicara ketika sedang marah atau sedih.

Baca Juga:  KH Marpu Muhidin Ilyas: Menghidupkan Malam Nisfu Syaban dengan Ibadah adalah Tradisi Sahabat Nabi

Setelah persoalan itu disampaikan, Rasulullah memerintahkan Abdullah bin Amr untuk tetap menulis. Apa yang keluar dari lisan beliau adalah kebenaran. Ketekunannya dalam menulis membuat Abdullah bin Amr memiliki catatan hadis yang sangat berharga.

Kisah tersebut, menurut KH Marpu, memperlihatkan pentingnya mencatat dan mendokumentasikan ilmu. Hafalan mempunyai kedudukan tinggi, tetapi tulisan membantu menjaga ilmu agar tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rahmat bagi Seluruh Alam

Kemuliaan berikutnya yang dibahas adalah kedudukan Rasulullah sebagai ar-rahmatul ‘āmmah, rahmat yang menyeluruh bagi seluruh makhluk.

Risalah Nabi Muhammad SAW tidak diperuntukkan bagi satu suku, wilayah, atau masa tertentu. Ajaran yang beliau bawa menjadi rahmat bagi manusia, alam, serta seluruh ciptaan Allah.

Melalui Rasulullah, manusia memperoleh pedoman dalam membangun hubungan dengan Allah, keluarga, masyarakat, lingkungan, dan kehidupan secara luas. Syariat yang beliau bawa menjadi penyempurna risalah para nabi sebelumnya.

KH Marpu mengajak jamaah memandang perkembangan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari karunia Allah. Kemajuan ilmu seharusnya membuat manusia semakin menyadari kebesaran-Nya, bukan menjauhkan manusia dari Sang Pencipta.

Kemampuan luar biasa juga pernah Allah tunjukkan melalui para nabi terdahulu. Nabi Nuh AS mampu membangun kapal besar, Nabi Daud AS diberi kemampuan mengolah besi, sedangkan Nabi Sulaiman AS dianugerahi kekuasaan dan kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa.

Semua itu menunjukkan bahwa ilmu dan kemampuan manusia tidak berdiri sendiri. Keduanya berasal dari kehendak serta karunia Allah. Karena itu, setiap perkembangan ilmu semestinya melahirkan rasa syukur dan memperkuat keimanan.

Kemuliaan dalam Cara Menyebut Rasulullah

Salah satu bentuk penghormatan Allah kepada Nabi Muhammad SAW terlihat dari cara Al-Qur’an memanggil beliau.

Ketika memanggil beberapa nabi, Al-Qur’an menyebut nama mereka secara langsung, seperti “Ya Adam”, “Ya Musa”, dan “Ya Ibrahim”. Namun, kepada Nabi Muhammad SAW, Allah menggunakan panggilan yang menunjukkan kemuliaan, seperti “Yā ayyuhan-nabiyyu” atau “Wahai Nabi” dan “Yā ayyuhar-rasūlu” atau “Wahai Rasul”.

Al-Qur’an juga mengajarkan umat agar tidak memanggil Rasulullah seperti memanggil sesama manusia. Karena itu, para sahabat menyapa beliau dengan penuh penghormatan, seperti “Ya Rasulullah” dan “Ya Nabiyallah”.

Penghormatan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui ucapan. Adab kepada Rasulullah harus tampak dalam kesungguhan menaati ajaran, menjaga sunah, dan tidak memperlakukan petunjuk beliau sebagai sesuatu yang ringan.

KH Marpu mengutip Surah Al-Hujurat ayat 2–3 yang melarang orang beriman meninggikan suara melebihi suara Nabi. Sebaliknya, orang yang merendahkan suara di hadapan Rasulullah dipuji sebagai orang yang hatinya telah Allah uji untuk bertakwa serta dijanjikan ampunan dan pahala yang besar.

Ayat tersebut memperlihatkan tingginya kedudukan adab dalam Islam. Kecintaan kepada Rasulullah perlu berjalan bersama penghormatan, ketenangan, dan kesantunan.

Nama Rasulullah juga disebut bersama nama Allah dalam dua kalimat syahadat. Seseorang tidak dinyatakan memeluk Islam hanya dengan mengakui Allah sebagai Tuhan tanpa mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

Ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah merupakan satu kesatuan. Karena itu, jalan menuju keridaan Allah harus ditempuh dengan mengikuti ajaran dan teladan Nabi Muhammad SAW.

Selawat sebagai Jalan Kedekatan

Pada bagian akhir kajian, KH Marpu membahas Surah Al-Ahzab ayat 56. Ayat tersebut menyebut Allah, para malaikat, dan orang-orang beriman sebagai pihak yang berselawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  PESBUQ ke-14 di Pondok Pesantren Al-Muhajirin: Zaki Prasetya Raih Juara Pertama Olimpiade Nahwu Shorof

Namun, makna selawat dari masing-masing pihak berbeda. Selawat dari Allah merupakan penghormatan kepada makhluk pilihan-Nya. Selawat para malaikat menunjukkan dan mengakui tingginya kedudukan Rasulullah. Adapun selawat orang beriman merupakan bentuk ketaatan, cinta, penghormatan, serta harapan memperoleh syafaat beliau.

“Ketika kita berselawat, kita bukan sedang menganggap Rasulullah membutuhkan pertolongan kita. Kita berselawat karena menaati perintah Allah, mencintai Rasulullah, dan berharap memperoleh pertolongan serta syafaat beliau,” jelas KH Marpu.

Beliau mengajak jamaah meluruskan empat niat ketika membaca selawat. Pertama, selawat dibaca untuk menaati perintah Allah. Kedua, sebagai pembenaran dan kepercayaan terhadap sabda Rasulullah. Ketiga, sebagai ungkapan cinta dan kerinduan kepada beliau. Keempat, sebagai pengakuan bahwa Rasulullah memang layak memperoleh penghormatan tertinggi.

KH Marpu juga mengutip hadis yang menjelaskan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah mereka yang paling banyak berselawat kepada beliau.

Umat Islam saat ini hidup sangat jauh dari masa Rasulullah. Jarak waktu dan keadaan rohani dapat membuat seseorang merasa jauh dari beliau. Namun, kesempatan untuk memperoleh kedekatan tetap terbuka melalui iman, ketaatan, kecintaan, serta memperbanyak selawat.

“Sekarang mungkin kita jauh dari Rasulullah. Namun, ada kesempatan untuk sangat dekat dengan beliau pada hari kiamat. Rasulullah menyatakan bahwa orang yang paling dekat dan paling beliau utamakan adalah mereka yang paling banyak berselawat kepadanya,” tuturnya.

Mengubah Rindu Menjadi Cinta kepada Rasulullah

KH Marpu mengajak jamaah memperhatikan rasa rindu yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Manusia dapat merindukan orang tua, keluarga, guru, pemimpin, tokoh, atau seseorang yang dikaguminya.

Perasaan tersebut merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, kerinduan kepada manusia seharusnya menjadi jalan untuk menumbuhkan kerinduan yang lebih tinggi kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kalau kita bisa rindu bertemu tokoh tertentu, ingin melihat atau mendengarkan seseorang, jangan sampai Rasulullah justru kalah dalam hati kita. Jadikan kerinduan kepada manusia sebagai batu loncatan untuk merindukan Rasulullah,” pesannya.

Kerinduan kepada Nabi perlu dipelihara dengan memperbanyak selawat, membaca sirah, mempelajari hadis, mengenal kemuliaan beliau, dan mengamalkan sunahnya.

Selawat juga perlu dijadikan wirid yang dilakukan secara istiqamah sesuai kemampuan masing-masing. Hal terpenting adalah ketulusan dalam menjalankannya sebagai ibadah dan ungkapan cinta, sedangkan berbagai keutamaan yang menyertainya merupakan karunia dari Allah SWT.

Maulid sebagai Bulan Mengenal Rasulullah

KH Marpu berharap bulan Maulid menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbarui hubungan rohani dengan Nabi Muhammad SAW.

Bulan Maulid perlu diisi dengan kegiatan belajar, memperbanyak selawat, membaca sirah, menghidupkan sunah, dan memperbaiki akhlak. Dengan demikian, kecintaan kepada Rasulullah tumbuh dari pengetahuan, kesadaran, dan kesungguhan mengikuti teladan beliau.

Kajian Kitab Ufuqul ‘Adzamah Al-Muhammadiyah akan dilanjutkan selama bulan Maulid dengan membahas satu per satu kemuliaan Rasulullah SAW. Pembahasan berikutnya akan dimulai dari maqām mahmūd, kedudukan terpuji yang Allah anugerahkan kepada beliau.

“Mudah-mudahan bulan Maulid benar-benar menjadi bulan yang mengenalkan kita kepada Rasulullah, membuka rohani kita, dan menambah kedekatan kita kepada beliau,” harap KH Marpu. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *