
ALMUHAJIRIN – Tidak semua tangisan lahir dari kesedihan. Ada air mata yang justru menjadi tanda hidupnya hati: air mata yang mengalir ketika seseorang menyadari kelemahan dirinya, mengingat kebesaran Allah SWT, takut terhadap azab-Nya, sekaligus berharap dan merindukan rahmat serta perjumpaan dengan-Nya.
Pesan itu disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, dalam Pengajian Rutin Sabtu atau Ngaji Sabtu Muhajirin Satu di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Purwakarta, Sabtu (1/8/2026).
Dalam pengajian tersebut, KH. Marpu melanjutkan kajian Kitab Riyadus Shalihin karya Imam An-Nawawi. Pembahasan memasuki Bab 54 tentang keutamaan menangis karena takut kepada Allah atau al-buka min khasyatillah serta karena rindu kepada-Nya atau asy-syauq ilallah.
“Kita melanjutkan kajian dengan harapan kualitas mengaji semakin meningkat, pemahaman semakin bertambah, amal semakin banyak, serta kita semakin dekat kepada Allah dan Rasulullah SAW,” tutur KH. Marpu mengawali kajian.
Khusyuk: Takut yang Disertai Harapan
KH. Marpu mengawali pembahasan dengan mengutip Surah Al-Isra ayat 109. Ayat tersebut menggambarkan orang-orang beriman yang menyungkurkan wajah sambil menangis ketika mendengar ayat Allah, sehingga bertambah pula kekhusyukan mereka.
Menurutnya, tangisan tersebut merupakan respons lahir dan batin terhadap Al-Qur’an. Tubuh mereka tersungkur, mata mengalirkan air mata, sedangkan hati semakin dipenuhi rasa segan kepada Allah.
“Khusyuk itu takut yang bercampur dengan harapan. Pada satu sisi ada ketakutan, tetapi pada sisi lain tetap ada harapan kepada rahmat Allah,” jelasnya.
Ketika mendengar ayat tentang azab, seorang mukmin merasa takut karena menyadari kelemahan dan kekurangan dirinya. Namun, ia juga tidak kehilangan harapan terhadap ampunan Allah. Begitu pula ketika mendengar ayat tentang surga, tumbuh kerinduan untuk meraihnya, sekaligus perasaan malu karena menyadari betapa sedikit bekal amal yang telah dipersiapkan.
Kekhusyukan, menurut KH. Marpu, tumbuh ketika seseorang membandingkan kelemahan dirinya dengan kebesaran Allah, kekurangannya dengan kemurahan Allah, serta dosa-dosanya dengan luasnya rahmat dan ampunan-Nya.
“Menangis membandingkan diri kita dengan kebaikan Allah. Kita lemah, sementara Allah Mahakuasa. Kita banyak kekurangan, sementara Allah begitu baik kepada kita. Dari kesadaran itulah lahir kekhusyukan,” tuturnya.
Beliau kemudian mengutip Surah An-Najm ayat 59–60 yang menegur manusia karena menertawakan dan menganggap aneh berita-berita Al-Qur’an, tetapi tidak menangis atau mengambil pelajaran darinya.
Dua ayat tersebut, lanjutnya, memperlihatkan dua sikap yang berlawanan. Surah Al-Isra memuji orang yang hatinya luluh ketika mendengar Al-Qur’an, sedangkan Surah An-Najm mencela orang yang menyambut firman Allah dengan hati yang keras dan sikap meremehkan.
Tiga Tingkatan Tangisan saat Membaca Al-Qur’an
Mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali, KH. Marpu menerangkan bahwa menangis merupakan salah satu adab dalam membaca Al-Qur’an. Ia kemudian menguraikan tiga tingkatan tangisan yang dapat dilatih oleh seorang Muslim.
Tingkatan pertama adalah menangis karena memahami dan menghayati kandungan ayat. Inilah tingkatan tertinggi karena air mata lahir dari pengetahuan, perenungan, dan kesadaran hati.
Tingkatan kedua adalah berusaha menghadirkan suasana batin yang sedih dan tunduk melalui cara membaca yang penuh penghayatan. Sikap itu diharapkan dapat membantu hati menjadi lebih mudah tersentuh.
Tingkatan ketiga adalah menangisi ketidakmampuan diri untuk menangis.
“Kalau belum bisa menangis karena ayat Allah, menangislah karena kita belum bisa menangis. Katakan, ‘Ya Allah, mengapa hati ini begitu keras? Al-Qur’an sudah berkali-kali dibaca, tetapi hati belum juga tersentuh.’ Menangisi kerasnya hati juga menjadi awal untuk memperbaiki diri,” ungkapnya.
KH. Marpu menegaskan bahwa seseorang tidak harus menunggu menjadi ahli tafsir untuk merasakan kedekatan dengan Al-Qur’an. Memahami maknanya tentu lebih utama, tetapi kelembutan hati tetap dapat tumbuh melalui adab, ketulusan, dan kesungguhan ketika membaca kalam Allah.
Ia mengingatkan jamaah agar membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci, duduk dengan penuh adab, menghadap kiblat, memegang mushaf dengan hormat, dan menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang menerima pesan dari Allah SWT.
“Tadabur Al-Qur’an itu urusan hati. Mungkin seseorang belum mampu menerjemahkan atau menafsirkan ayat, tetapi ketika membaca, ia merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Itu bisa menjadi hadiah dari Allah,” jelasnya.
Karena itu, membaca Al-Qur’an merupakan salah satu kesempatan terbaik untuk melatih kelembutan hati. Namun, tangisan tersebut sebaiknya tidak dipamerkan. Para ulama salaf justru berusaha menahan tangis ketika berada di hadapan orang lain dan menumpahkannya ketika sedang bersendirian bersama Allah.
Rasulullah Menangis Mendengar Bacaan Ibnu Mas’ud
KH. Marpu kemudian menguraikan hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud RA. Rasulullah SAW pernah meminta Ibnu Mas’ud membacakan Al-Qur’an di hadapan beliau.
Ibnu Mas’ud merasa segan. Ia bertanya bagaimana mungkin dirinya membacakan Al-Qur’an kepada Rasulullah, sementara Al-Qur’an diturunkan kepada beliau.
Rasulullah SAW kemudian menjawab bahwa beliau senang mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain. Ibnu Mas’ud pun membaca Surah An-Nisa hingga sampai pada ayat 41:
“Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau sebagai saksi atas mereka?”
Ketika ayat tersebut dibacakan, Rasulullah meminta Ibnu Mas’ud berhenti. Saat Ibnu Mas’ud memandang beliau, tampak air mata Rasulullah SAW bercucuran.
Menurut KH. Marpu, Rasulullah menangis karena memahami beratnya kedudukan beliau sebagai saksi bagi umat manusia pada hari kiamat. Kesaksian itu dapat menentukan nasib suatu umat di hadapan Allah.
“Rasulullah sangat menyayangi umat. Beliau tidak menginginkan ada manusia yang mendapat azab. Namun, beliau tetap harus menjalankan ketentuan Allah sebagai saksi. Kesadaran terhadap beratnya amanah itulah yang membuat Rasulullah menangis,” terangnya.
Hadis tersebut juga mengajarkan bahwa Al-Qur’an tidak cukup dibaca. Menyimak bacaan orang lain pun dapat menjadi jalan untuk menyentuh dan menghidupkan hati.
Keluarga dapat mempraktikkannya di rumah dengan saling membacakan Al-Qur’an. Orang tua dapat menyimak bacaan anak, suami mendengarkan bacaan istri, atau sebaliknya. Bacaan yang diperdengarkan melalui pengeras suara maupun perangkat digital juga dapat disimak dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari upaya mendekatkan hati kepada Al-Qur’an.
Menangisi Kekurangan Diri
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila manusia mengetahui apa yang beliau ketahui, niscaya mereka akan sedikit tertawa dan banyak menangis.
Mendengar sabda itu, para sahabat segera menutup wajah mereka dan menangis. Padahal, mereka belum mengetahui secara terperinci apa yang diketahui Rasulullah.
KH. Marpu menjelaskan bahwa para sahabat menangis karena menyadari keterbatasan pengetahuan dan kekurangan diri mereka. Tangisan itu lahir dari rasa takut, sikap rendah hati, dan kesadaran bahwa masih banyak perkara akhirat yang belum mereka pahami.
“Mereka menangisi kebodohan diri, kekurangan diri, ketidaktahuan diri, dan perilaku yang selama ini mungkin tidak mereka sadari. Ini menunjukkan betapa cepat hati para sahabat merespons nasihat Rasulullah,” ujarnya.
Mengubah Tangisan Menjadi Jalan Kembali kepada Allah
KH. Marpu mengakui bahwa manusia dapat menangis karena banyak sebab: sakit, kecewa, kehilangan, diperlakukan tidak menyenangkan, atau merindukan seseorang. Tangisan seperti itu merupakan reaksi alamiah.
Namun, tangisan alamiah tersebut dapat diarahkan menjadi sarana mengingat Allah. Seseorang yang menangis karena diabaikan manusia, misalnya, dapat mengubah arah pikirannya dengan bertanya kepada diri sendiri: bagaimana jika dirinya justru jauh dari perhatian dan kasih sayang Allah karena dosa-dosanya?
Demikian pula ketika menangis karena rindu kepada orang tua atau orang tercinta. Kerinduan itu dapat menjadi pintu untuk bertanya: pernahkah dirinya menangis karena merindukan Rasulullah, merindukan surga, serta merindukan perjumpaan dengan Allah?
“Menangisnya tetap, tetapi alasannya diubah. Kita sering menangis karena rindu kepada manusia, tetapi pernahkah menangis karena rindu kepada Rasulullah? Pernahkah menangis karena ingin masuk surga dan berjumpa dengan Allah?” tuturnya.
Menurut KH. Marpu, air mata dapat dengan mudah keluar karena rasa sakit atau kekecewaan. Hal yang jauh lebih bernilai adalah ketika tangisan tersebut benar-benar lahir dari rasa takut, cinta, dan rindu kepada Allah.
Karena itu, tangisan tidak perlu dibuat-buat untuk dilihat orang. Yang perlu dilakukan ialah memperbanyak sebab yang dapat melembutkan hati, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, merenungkan kehidupan akhirat, menyadari dosa, dan mengingat kemurahan Allah.
Amal Rahasia yang Menyelamatkan
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan hadis tentang tujuh kelompok manusia yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
KH. Marpu menegaskan bahwa yang dimaksud bukan hanya tujuh orang, melainkan tujuh kelompok manusia yang memiliki sifat-sifat tertentu. Mereka adalah pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh dalam ibadah; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; dua orang yang saling mencintai, berkumpul, dan berpisah karena Allah; laki-laki yang menolak ajakan berbuat maksiat karena takut kepada Allah; orang yang merahasiakan sedekahnya; serta orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.
Hari kiamat digambarkan sebagai hari yang sangat berat. Manusia berada dalam keadaan yang amat membutuhkan perlindungan. Pada saat itulah, tujuh kelompok tersebut memperoleh naungan dan perlindungan khusus dari Allah SWT.
Salah satu yang mendapatkannya adalah orang yang bersedekah secara sangat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya seolah tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
Menurut KH. Marpu, seorang Muslim perlu memiliki khabī’ah, yaitu amal kebaikan yang disembunyikan dan hanya diketahui oleh dirinya dan Allah.
“Setiap orang harus mempunyai amal rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Amal itulah yang insyaallah menjadi penyelamatnya,” jelasnya.
Amal tersebut dapat berupa tahajud, duha, puasa sunah, sedekah, membaca Al-Qur’an, zikir, atau bentuk kebaikan lainnya. Kerahasiaan amal harus dinikmati sebagai ruang khusus antara seorang hamba dan Allah, bukan dianggap sebagai kerugian karena tidak memperoleh pengakuan manusia.
“Biarkan orang lain tidak tahu kita tahajud, yang penting kita tahajud. Biarkan orang lain tidak tahu kita bersedekah, yang penting kita bersedekah. Justru rahasia itulah kemuliaannya. Ibadah kita dilakukan untuk Allah, bukan untuk penilaian manusia,” tegasnya.
Mencintai Sesama karena Allah
KH. Marpu juga menjelaskan makna dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah.
Menurutnya, majelis ilmu menjadi salah satu tempat paling mudah untuk mempraktikkan ijtimā’ fillāh atau berkumpul karena Allah. Jamaah datang karena ingin belajar agama, saling menghormati sebagai sesama pencari ilmu, kemudian berpisah setelah pengajian selesai.
Mencintai karena Allah dapat tumbuh karena seseorang telah membantu kehidupan agama dan akhirat kita, karena ia memiliki kesalehan dan kualitas keagamaan, atau cukup karena ia seorang Muslim dan umat Rasulullah SAW.
Hubungan seperti itu tidak bertumpu pada keuntungan duniawi. Persahabatan dibangun karena masing-masing ingin memperoleh ridha Allah, menjaga keimanan, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
“Mari periksa alasan kita berkumpul dengan seseorang. Apakah karena keuntungan dunia, atau karena ia membantu kita semakin dekat kepada Allah? Perkumpulan yang dilandasi kepentingan akhirat itulah yang disebut berkumpul karena Allah,” terangnya.
Menangis dalam Kesendirian
Dari seluruh kelompok yang mendapat naungan Allah, bagian yang paling berkaitan dengan tema kajian adalah seseorang yang mengingat Allah ketika sedang sendirian, lalu kedua matanya mengalirkan air mata.
KH. Marpu menyebutnya sebagai zikir khalian, yakni zikir dalam kesendirian, ketika tidak ada manusia yang melihat atau mengetahui. Dalam kesunyian itu, seorang hamba berhadapan dengan dirinya sendiri dan Allah SWT.
Para ulama terdahulu, lanjutnya, biasa mempunyai tempat khusus untuk berkhalwat dan berzikir. Tempatnya tidak harus berupa ruangan tertentu. Seseorang dapat melakukannya di kamar atau tempat lain yang memungkinkan dirinya beribadah dengan tenang dan menjaga kerahasiaannya.
“Tangisan yang sangat bernilai adalah ketika seseorang sedang sendirian bersama Allah. Tidak ada orang yang melihat, tidak ada pujian yang dicari. Hanya dirinya dan Allah. Air mata itulah yang kelak menjadi sebab datangnya naungan Allah,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar tangisan di hadapan orang banyak sebisa mungkin ditahan. Sebaliknya, ketika sedang sendirian, seorang hamba dapat mengungkapkan seluruh rasa takut, cinta, penyesalan, dan kerinduannya kepada Allah.
Hati yang Hidup Mudah Menerima Nasihat
Menutup kajian, KH. Marpu mengajak jamaah untuk memohon karunia hati yang lembut. Sebab, kemampuan menangis karena Allah bukan sesuatu yang dapat dipaksakan secara instan. Ia tumbuh melalui proses panjang: memperbaiki adab, memperbanyak membaca dan menyimak Al-Qur’an, merenungkan akhirat, menyadari kekurangan diri, serta menjaga amal-amal rahasia.
Air mata karena takut dan rindu kepada Allah bukanlah lambang kelemahan. Air mata tersebut menjadi bukti bahwa hati masih hidup, masih mampu menerima nasihat, masih merasakan beratnya dosa, dan masih memiliki kerinduan untuk kembali kepada Sang Pencipta.
“Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita rezeki berupa tangisan karena takut dan rindu kepada-Nya,” doa KH. Marpu.
Pengajian Rutin Sabtu yang mengusung semangat “Ilmu Menyinari Hati, Amal Menghidupi Diri” itu kembali menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk memperdalam ajaran Islam secara bertahap.
Melalui kajian kitab klasik yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat terus menghadirkan dakwah yang menyejukkan, membangun akhlak, dan menguatkan hubungan umat dengan Allah SWT serta Rasulullah SAW. (*)
