Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail Al-Muhajirin Pusat: Dr. Hj. Ifa Faizah: Ujian Santri yang Sesungguhnya Ada di Rumah dan Tengah Masyarakat

Bagikan artikel ini:
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., saat menyampaikan taujihat pada Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail di Lapangan Al-Muchtar Al-Muhajirin Kampus Pusat, Kamis (18/6/2026). Dalam pesannya, beliau mengingatkan bahwa ujian seorang santri sesungguhnya dimulai ketika kembali ke rumah dan hidup di tengah masyarakat. Masa liburan bukanlah jeda dari proses pendidikan, melainkan momentum untuk membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren tetap hidup dalam ibadah, akhlak, dan amaliah sehari-hari. “Jadilah figur uswah hasanah bagi masyarakat. Tunjukkan ilmu yang dikuatkan dengan akhlak karimah dan ibadah terbaik,” pesannya.

AL-MUHAJIRIN– Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat pada Kamis malam, 18 Juni 2026 bertepatan dengan 2 Muharram 1448 Hijriah, tidak hanya menjadi momen perpisahan sementara sebelum liburan, tetapi juga momentum penguatan jati diri para santri.

Dalam taujihatnya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., mengingatkan bahwa ujian seorang santri sesungguhnya bukan ketika berada di pesantren, melainkan saat kembali ke rumah dan hidup di tengah masyarakat.

“Pembiasaan yang kita lakukan di pesantren, ujian terbesarnya justru ketika kita ada di rumah. Masa kepulangan ini harus menjadi momentum untuk menunjukkan nilai-nilai terbaik yang telah dipelajari di pesantren,” ujarnya.

Menurutnya, para santri harus membuktikan bahwa pendidikan pesantren melahirkan pribadi yang lebih rajin beribadah, lebih semangat belajar, dan tetap istiqamah menjalankan amaliah pesantren meskipun tidak lagi berada di bawah pengawasan para guru.

“Kalau kalian bisa lebih baik, lebih semangat lagi belajarnya, ngajinya, dakwahnya, dan taklimnya di rumah, maka itulah kebahagiaan terbesar bagi orang tua kalian,” katanya.

Baca Juga:  4 Santri SMK dan 9 Santri SMA 3 Al Muhajirin Berhasil Lulus Jalur SNBT - UTBK 2024

Beliau menegaskan, segala pengorbanan orang tua yang telah berjuang membiayai pendidikan anak-anaknya di pesantren akan terobati ketika melihat putra-putrinya pulang dengan ilmu yang diperkuat akhlak mulia dan menjadi teladan di lingkungan sekitarnya.

“Jadilah figur uswah hasanah bagi masyarakat. Tunjukkan ilmu yang dikuatkan dengan akhlak karimah dan ibadah terbaik,” pesannya.

Hj. Ifa juga mengingatkan bahwa masa liburan di rumah tidak lepas dari berbagai godaan yang dapat menjauhkan santri dari kebiasaan baik yang telah dibangun di pesantren.

“Setan tidak pernah rida melihat manusia semakin dekat dengan agama. Pasti akan ada godaan untuk melalaikan ibadah dan meninggalkan kebiasaan baik yang sudah dibangun di pesantren. Di situlah identitas kita sebagai santri diuji,” ujarnya.

Menurutnya, santri yang mampu menjaga amaliah dan istiqamah di rumah adalah santri yang sesungguhnya berhasil melewati ujian.

Lebih jauh, beliau mengajak para santri untuk bangga menjadi bagian dari pesantren. Kehidupan di pesantren, katanya, mempertemukan para santri dengan teman-teman dari berbagai daerah, sehingga membentuk wawasan yang luas, mental yang kuat, dan jaringan persaudaraan yang akan bermanfaat di masa depan.

Baca Juga:  Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, Buka Pameran Seni Rupa yang Diselenggarakan oleh Lesbumi

Beliau kemudian mengibaratkan santri seperti pohon beringin.

“Pohon beringin sejatinya besar, tetapi jika ditanam di pot yang kecil, ia tidak akan tumbuh sempurna. Pesantren adalah tempat yang memperluas wawasan dan menempa kalian agar tumbuh menjadi pribadi yang besar dan memberi manfaat bagi masyarakat luas,” jelasnya.

Hj. Ifa mengaku merasakan sendiri manfaat pendidikan pesantren dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya. Menurutnya, dasar-dasar ilmu yang dipelajari sejak masa sanawiyah dan aliyah, seperti Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, nahwu, dan sharaf, menjadi pondasi utama yang mengantarkannya hingga mampu menyelesaikan pendidikan tinggi.

“Kuliah itu ibarat bumbu-bumbu saja. Makanan utamanya adalah ilmu yang kita peroleh di pesantren. Semuanya menjadi pondasi yang akan menunjang perjalanan hidup di masa depan,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa berbagai kesederhanaan dan keterbatasan yang dijalani di pesantren bukanlah sesuatu yang sia-sia, melainkan proses pembentukan mental dan ketangguhan.

Baca Juga:  Pesan Malam Muwada’ah, Dr. Hj Ifa Faizah: Ilmu Pesantren Harus Terlihat di Rumah

“Kehidupan sederhana di pesantren, tidur seadanya, menghadapi berbagai keterbatasan, semuanya melatih kita menjadi pribadi yang kuat menghadapi tantangan kehidupan. Tidak ada yang sia-sia di pesantren,” tegasnya.

Di akhir taujihatnya, Hj. Ifa mengucapkan selamat kepada seluruh santri yang telah berhasil menyelesaikan tahun ajaran 2025–2026 dengan baik.

“Allah tidak akan membiarkan seseorang berkata, ‘Aku beriman,’ tanpa mengujinya terlebih dahulu. Karena itu, jangan pernah biarkan ujian selama di rumah menyurutkan hidayah kita untuk terus belajar dan kembali ke pesantren dengan semangat yang lebih besar,” pesannya.

Beliau juga menitipkan salam dan doa kepada seluruh orang tua santri agar senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan dipertemukan kembali dengan putra-putrinya dalam keadaan terbaik saat kembali ke Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

Malam Muwadaah tersebut berlangsung hangat dan penuh haru, menjadi pengingat bahwa masa liburan bukanlah jeda dari proses pendidikan, melainkan ruang pembuktian bahwa seorang santri tetap mampu menjaga ilmu, akhlak, dan amaliahnya di mana pun berada. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *