Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Minggu, 18 Oktober 2026

Berita

Malam Penuh Cahaya di KSPT Ma’arif Jabar 2026, Pesan Taqwa dan Bersahaja Jadi Oleh-oleh Santri

Oleh Fajar Maritim17 Oktober 20265 menit baca
Bagikan artikel ini:

MALAM itu, Lapangan Pondok Pesantren Al-Muhajirin II, Ciseureuh, Purwakarta, berubah menjadi lautan cahaya.

Suasana syahdu menyelimuti Jumat malam (16/10/2026) ketika obor utama menyalakan api unggun, disusul pembacaan sepuluh bait Dasa Dharma Pramuka—dari takwa kepada Tuhan hingga suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Di langit malam, kembang api meletup indah, memantulkan senyum ceria dari 1200 wajah para peserta Kemah Santri Pramuka Terpadu (KSPT) Ma’arif Jawa Barat 2026.

Malam itu adalah puncaknya. Sejak sebelum fajar, para santri menjalani hari dengan penuh semangat: salat tahajud, subuh, ratiban, kultum, olahraga pagi, penguatan keaswajaan, sosialisasi bahaya napza, eco print, hingga kompetisi seru bertajuk Santri Penjaga Kiayi, dan Santri Benteng NKRI.

Siang harinya, materi dipilah berdasar tingkatan. Golongan penggalang disuguhi edukasi reptil, roket air, Roda Aswaja. Sementara itu, golongan penegak menjajal ketangkasan lewat outbound. Menjelang sore, semangat kompetisi mencuat lewat Olimpiade Aswaja dan Kuliner Tradisional Sehat.

Ketua Pinsako Ma’arif NU Jawa Barat, Kak Fitri Nurasyidah

Sebagai pembina api unggun, Ketua Pinsako Ma’arif NU Jawa Barat, Kak Fitri Nurasyidah, meluruskan pemaknaan tradisi malam itu. Menyulut api, tegasnya, bukanlah bentuk penyembahan, melainkan simbol kehangatan dan kehidupan.

Ia menyebut KSPT sebagai kemah yang tak biasa. Keterampilan kepramukaan dan outbound di siang hari diseimbangkan dengan Olimpiade Aswaja, mahalul qiyam, dan salat berjamaah, yang menurutnya menjadi ciri khas Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Barat. Ia pun berterima kasih kepada peserta yang tetap tangguh mengikuti kegiatan di lapangan dengan jadwal yang padat.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

Berikutnya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA., naik memberi taujihat. Beliau memulai dengan suatu kepekaan yang menurutnya bisa diasah lewat pramuka, yaitu membaca alam dan sekitar, lalu menghubungkan apa yang dilihat dengan nilai terpenting dalam kehidupan.

Untuk itu, Kiayi Marpu membuka dengan dua kisah dari Madinah. Satu tentang bangkai anak kambing di pasar, yang oleh Rasulullah dijadikan pelajaran tentang hinanya dunia. Satu lagi kisah ketika Rasulullah berjalan berdua dengan Abu Dzar al-Ghifari dan bertemu Gunung Uhud yang oleh Rasulullah diberi makna lewat pengandaian: seandainya memiliki emas sebesar Uhud, beliau tak ingin ada yang tersisa padanya lebih dari tiga hari, dan jika ada sisa akan dipakai membantu orang lain, termasuk mereka yang terlilit utang.

Seperti bangkai kambing tadi, emas sebesar gunung pun tak berarti banyak di mata beliau. Cara Rasulullah menggali pesan dari bangkai kambing itu, menurut Kiai Marpu, adalah “yang zaman sekarang sesungguhnya disebut deep learning”. Belajar bukan di permukaan, tetapi berlapis-lapis sampai menemukan makna.

Kiai Marpu kemudian menggarisbawahi tiga butir Dasa Darma yang baru dibacakan. Menurut beliau, Dasa Darma adalah rumusan khas Indonesia yang lahir dari kearifan lokal para pendiri bangsa, dan tidak ada dalam hukum kepanduan (Scout Law) Baden-Powell.

Sepuluh butir itu, katanya, menjadi pegangan sebelum, selama, dan sesudah kemah. Butir pertama, takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia sebut sebagai dasar. Pramuka baru benar-benar menjadi pramuka ketika segala yang dilakukannya berlandaskan takwa, termasuk kecerdasan dan kepekaan menemukan makna seperti yang dicontohkan Rasulullah bersama para sahabat.

Butir ketujuh, hemat, cermat, dan bersahaja, beliau kaitkan dengan api unggun yang menyala di hadapan peserta. Beliau mengajak peserta membayangkan saudara-saudara di Kalimantan yang menghadapi kebakaran hutan, lalu bersyukur atas rasa aman malam itu.

Mengutip sebuah riwayat, beliau menyebut api dunia berasal dari api neraka yang telah didinginkan 70 kali, tetapi masih bisa membakar dan menjadi sebab kematian. “Api ini hanya bermanfaat bagi kita ketika kadarnya terkontrol, ketika kadarnya bersahaja,” tuturnya. Bersahaja, kata beliau, adalah tawasut, iktidal, dan tawazun: kesederhanaan.

Butir kesepuluh, suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, beliau sebut sebagai tantangan bagi remaja masa kini. Bila nilai itu dibawa pulang, apa pun warna seragam mereka, jiwa pramuka akan tampak di hati para peserta. Beliau mengaitkannya dengan hadis Rasulullah:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
Al-muslimu man salimal-muslimūna min lisānihi wa yadih.
“Seorang muslim sejati adalah orang yang membuat orang lain aman dari kata-kata dan tindakannya.”

Menutup taujihat, Kiai Marpu berharap seusai perkemahan, di setiap sekolah dan rumah, kelak ditemukan pribadi-pribadi yang bersahaja. “Dan itulah kesuksesan kita berkemah, berpramuka, di ajang ini,” ujarnya. Beliau juga menyambut baik upaya membangun kekhasan pramuka Ma’arif atau ala NU. Sejak masuk ke Indonesia, katanya, pramuka memang terus disesuaikan dengan nilai-nilai bangsa.

Selanjutnya, di panggung, pembawa acara Kak Tuti dan Kak Daud kembali memandu. Mereka sempat repot mencari meja untuk dua dewan juri, Kak Dede dan Kak Nanda Yosi, lalu mengisi jeda dengan canda tanpa henti. Salah satunya perdebatan ringan tentang apa nama tauco di Cirebon.

Enam kontingen penegak tampil bergantian. Garut membuka dengan ronggeng nyentrik dan jargon “setangguh domba, semanis dodol”. Majalengka menggebrak lewat pencak silat Pagar Nusa dengan atraksi api. Pembawa acara buru-buru mengingatkan agar tak ada yang menirunya tanpa keahlian. Cianjur membawakan lakon berbahasa Sunda tentang dakwah Islam di Tatar Cianjur dan Raden Surya Kancana. Kota Sukabumi menyuguhkan tari, lagu Bandung, dan silat, ditutup yel “budaya lestari, santri berprestasi, pramuka berbakti”. Purwakarta, sang tuan rumah, mempersembahkan hadrah dari SMA/MA Al-Muhajirin Pusat.

Sumedang menutup deretan penampil dengan nada yang paling hening. Lewat musikalisasi puisi tentang Resolusi Jihad dan KH. Hasyim Asy’ari, lapangan tiba-tiba senyap. Dalam puisi itu, jasad boleh dibawa dan suara boleh dibungkam, tetapi iman tak akan pernah kandas dan perjuangan tak akan pernah padam. Mereka mengakhirinya dengan seruan yang jadi tema kemah ini, perjuangan ulama untuk umat dan dari santri untuk negeri.

Lalu tiba saat yang dinanti sejak hari pertama. Bintang tamu, Kak Jihan, disambut peserta dengan seruan “please welcome” yang dikomandoi pembawa acara. Ia membuka dengan selawat, lalu mengajak seluruh santri Jawa Barat bernyanyi bersama. Di antara nyala api dan nyala suara malam itu, kata-kata yang terus menyala di lapangan: takwa dan bersahaja. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *