Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta

Minggu, 18 Oktober 2026

Berita

Malam Kreasi KSPT Ma’arif Jabar 2026: Dramatari hingga Lagu Religi Warnai Panggung “Dari Santri untuk Negeri”

Oleh Fajar Maritim16 Oktober 20263 menit baca
Bagikan artikel ini:

KERIKIL di sisi lapangan membuat panitia berpesan agar peserta membawa alas duduk. Maka pada Kamis malam (15/10/2026), di Lapangan Pondok Pesantren Al-Muhajirin II, Sukamulya, Ciseureuh, Purwakarta, para santri pramuka duduk beralas apa adanya, menanti panggung Malam Kreasi Kemah Santri Pramuka Terpadu (KSPT) Jawa Barat 2026 dimulai.

Yang pertama menyapa bukan musik panggung, melainkan selawat. Tim hadrah dari Ponpes Al-Muhajirin Pusat melantunkan pujian untuk Rasulullah, dari “Ya Nabi Salam Alaika” hingga marhaban. Para hadirin berdiri mengikutinya, lalu dipersilakan duduk kembali.

Setelah itu lapangan berubah riuh. Kak Tuti dari Kabupaten Cirebon dan Kak Daud Ramdani dari Kabupaten Sumedang memandu malam itu dengan canda yang tak putus.

Mereka sengaja memancing semangat peserta putra dan putri bergantian, sampai kedua pihak berlomba melantangkan tekad: tangguh, mandiri, berprestasi. Ketika mata mulai berat, Kak Tuti dan Kak Daud mengingatkan, “Jangan ngantuk dulu.” Panggung masih panjang.

Malam Kreasi ini bagian dari KSPT yang diselenggarakan Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Pandu Ma’arif NU Jawa Barat dengan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta sebagai tuan rumah.

Kegiatan ini diikuti 1.200 peserta dan 70 pembina dari berbagai satuan pendidikan di Jawa Barat. Dua dewan juri, Kak Junaidi dan Kak Nanda Yosi, ikut duduk menilai, sehingga setiap gerak dan nada malam itu dibawakan dengan penuh kesungguhan.

Cianjur datang paling awal dengan banyak ragam: dramatari, silat, semapur, hingga karate. Kontingen Cianjur membawakan legenda Dayang Sumbi dan Sangkuriang.

Sebelum tarian dimulai, mereka lebih dulu menautkan kisah itu dengan surah An-Nisa ayat 23, sebuah cara santri membaca legenda lama lewat kacamata Qur’ani. Tembang berbahasa Sunda tentang takdir yang tak bisa dipungkiri mengiringi adegan. Penonton membalasnya dengan sorak “wow” yang diajarkan pembawa acara.

Sesi menyapa kontingen jadi bagian paling hidup. “Mana suaranya Garut?” Sorak Sumedang, Cianjur, dan Majalengka menyahut, bahkan celetukan berlogat Indramayu ikut menyelip.

Ketika kontingen Purwakarta belum terdengar, pembawa acara menggoda, “Masa tuan rumahnya enggak ada?” Tak lama kemudian, tuan rumah menjawab lewat tarian Tali Pukat yang disambut tepuk tangan panjang.

Kontingen Sumedang tampil dengan tari medley “Taptap Muslimah” yang berpadu dengan tari Bali dan Aceh, diiringi lagu berbahasa Arab. Panggung lalu bergeser ke Nusantara: tari kreasi berpadu medley Cublak-Cublak Suweng, Ampar-Ampar Pisang, dan Rasa Sayange, tiga lagu dari tiga pulau. Tari pelajar dengan lagu bertema Pancasila menyusul dan ditutup teriakan “hurra” para penonton. Selendang dan batik yang berwarna-warni, kata pembawa acara, datang dari motif Cirebon, Pekalongan, Solo, hingga Yogyakarta.

Di antara tarian, suasana sempat hening ketika “Muhasabah Cinta” dinyanyikan. Ada pula lagu berbahasa Arab yang artinya diterjemahkan pembawa acara dengan bebas: mencintai pada saat bertemu. Mereka langsung menautkannya dengan perjumpaan para santri di kemah ini. Tari kreasi semapur menutup rangkaian, disusul medley yang berujung pada lagu “Sakura”. “Kalau sudah Sakura, itu tandanya apa?” tanya pembawa acara. Penonton menjawab serempak: sudah berakhir.

Padahal justru di situlah KSPT 2026 menemukan maknanya. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan bagi santri dari berbagai daerah untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengembangkan karakter melalui pendidikan kepramukaan. Nilai kedisiplinan, kemandirian, kebersamaan, dan pengabdian diharapkan tumbuh seiring penguatan nilai kepesantrenan dan Aswaja.

Jam malam pun berlaku. Salam penutup pembawa acara sempat tak berbalas serempak. Keduanya berseloroh agar peserta yang mungkin sudah terlelap jangan dibangunkan. Hari kedua menanti dengan kegiatan yang lebih padat, dan para penegak akan mendapat giliran tampil. (*)

Dokumentasi Acara:

Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jawa Barat sekaligus Mabisako Ma’arif NU Jawa Barat, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd. (Kak Hj. Ifa), menyematkan tanda peserta KSPT 2026 kepada perwakilan santri.
Rais Syuriah PWNU Jawa Barat, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA
Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *