
AL-MUHAJIRIN- Tradisi besar dalam peradaban Islam tidak pernah lepas dari budaya menulis. Dari ulama klasik hingga pemikir modern, gagasan besar lahir, tumbuh, dan diwariskan melalui karya tulis. Menyadari hal tersebut, SMA–MA Al-Muhajirin Pusat Purwakarta terus membangun tradisi akademik dan literasi santri mlalui pelaksanaan Sidang Esai, Ta’lîf, dan Terjemah Kitab bagi santri kelas XII Tahun Pelajaran 2025–2026.
Sidang yang dilaksanakan selama empat hari, 27–30 Januari 2026, ini menjadi syarat wajib kelulusan bagi seluruh santri. Lebih dari sekadar ujian akhir, kegiatan ini merupakan bagian integral dari program unggulan Menulis Kreatif, mata pelajaran wajib yang dirancang untuk membentuk santri yang berpikir kritis, sistematis, dan produktif dalam dunia kepenulisan ilmiah dan keislaman.
Pada pembukaan sidang, Kepala SMA–MA Al-Muhajirin, KH. R. Mampu Muhidin Ilyas, MA, menyampaikn bahwa program menulis kreatif yang diterapkan di sekolah ini bukanlah respons sesaat terhadap kebijakan pemerintah, melainkan telah dijalankan jauh sebelum dicanangkannya Gerakan Literasi Nasional.
“Menulis bukan sekadar keterampilan tambahan, tetapi merupakan bagian dari tradisi ilmiah pesantren. Tradisi ini harus terus dihidupkan dan diwariskan kepada santri,” ungkapnya dalam sambutan pembukaan.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa orientasi utama program ini adalah kualitas kemampuan menulis santri, bukan sekadar pemenuhan administrasi akademik. Hal tersebut tercermin dari para alumni SMA–MA Al-Muhajirin yang dinilai mampu beradaptasi dan unggul saat melanjutkan studi di perguruan tinggi, khususnya dalam menghadapi tugas-tugas akademik berbasis penulisan. Kebiasaan menulis sejak bangku sekolah membuat mereka tidak gagap menghadapi tuntutan akademik di jenjang yang lebih tinggi.
Sebelum mengikuti sidang, para santri diwajibkan melalui proses bimbingan berjenjang dan ketat bersama guru pembimbing. Setiap karya yang diajukan harus lolos pemeriksaan plagiasi dan standar mutu akademik. Hanya karya yang memenuhi kriteria orisinalitas dan kedalaman analisis yang berhak disidangkan. Karya-karya yang dinyatakan lulus kemudian dibukukan secara resmi sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah.
Sidang berlangsung dengan suasana yang menyerupai sidang akademik di perguruan tinggi. Santri mempresentasikan karya mereka di hadapan para penguji yang merupakan guru-guru pakar di bidangnya. Menariknya, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sidang ini juga dihadiri oleh orang tua santri, sebagai bentuk transparansi, apresiasi, sekaligus penguatan sinergi pendidikan antara sekolah dan keluarga.
Tahun ini, beragam judul esai menarik dan reflektif turut mewarnai jalannya sidang. Di antaranya, Nanda, santri kelas XII MIPA Pro, melalui esainya berjudul “Menemukan Cinta di Balik Angka”, mengajak pembaca melihat matematika tidak semata sebagai hitungan kaku, melainkan sebagai ruang nalar yang sarat makna dan keindahan.
Sementara itu, Ri’ayah dari kelas XII MIPA Pro mengangkat tema spiritual dan gaya hidup dalam esainya “Subuh Lifestyle: The Morning Momentum Method”, yang mengulas bagaimana kebiasaan bangun subuh dapat membentuk disiplin, produktivitas, dan kesehatan mental generasi muda.
Adapun Sarah Julia, santri kelas XII IPS 2, melalui esai “Mewujudkan Generasi Inovatif Melalui Hobi Produktif”, menyoroti pentingnya mengelola hobi sebagai sarana pengembangan kreativitas, inovasi, dan karakter di tengah tantangan era digital.
Selama tiga tahun masa pendidikan, setiap santri SMA–MA Al-Muhajirin ditargetkan mampu menghasilkan minimal satu buku per orang, baik dalam bentuk esai tematik, karya ta’lîf, maupun terjemah kitab. Target ini menempatkan santri tidak hanya sebagai pembelajar, tetapi juga sebagai penulis muda pesantren yang produktif, orisinal, dan bertanggung jawab secara ilmiah.
Melalui Sidang Esai, Ta’lîf, dan Terjemah Kitab SMA–MA Al-Muhajirin ini, semoga lahir generasi santri yang berilmu, berkarakter, dan berkontribusi nyata bagi pengembangan khazanah keilmuan Islam dan literasi bangsa. (*)
