Tausiyah Syaikhuna di Acara Buka Puasa Bersama Ramadan 1447 H dan Santunan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat

Bagikan artikel ini:
Gerimis yang turun tak menghentikan majelis ilmu. Saat menyampaikan tausiyah dalam rangka Buka Puasa Bersama, Santunan Anak Yatim, dan Khataman Riyadhus Sholihin di Lapangan Al-Muchtar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Syaikhuna tetap melanjutkan nasihatnya kepada para jamaah. Di tengah rintik hujan, beliau dipayungi oleh cucunya, Ust. Aji Muhtaji, B.Sc., sementara para santri dan jamaah tetap khidmat menyimak tausiyah Ramadan yang penuh hikmah.

AL-MUHAJIRIN— Menjelang waktu magrib di Lapangan Al-Muchtar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, suasana Ramadan 1447 H terasa hangat dan penuh syukur. Para santri, guru, pengurus yayasan, serta warga sekitar RT 41, 42, dan 43 berkumpul dalam satu majelis kebersamaan dalam rangka Buka Puasa Bersama, Santunan Anak Yatim dan Warga Sekitar, serta Khataman Kitab Riyadhus Sholihin.

Kegiatan yang mengusung tema “Ramadan Berkah, Hati Meruah dengan Sekedah” ini menjadi puncak rangkaian aktivitas Ramadan di lingkungan pesantren sekaligus momentum silaturahmi antara keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin dengan masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah merenungkan berbagai faktor yang menjadi sumber keberkahan dan keberlangsungan pesantren. Di hadapan para santri, guru, dan masyarakat yang hadir, Syaikhuna menegaskan bahwa keberhasilan sebuah pesantren tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh sejumlah komponen penting yang saling menguatkan.

Baca Juga:  Semarak! SD Plus 3 Al-Muhajirin Gelar Lomba TK/RA se-Purwakarta, Peserta Capai 500 Anak

Menurut beliau, setidaknya ada lima unsur utama yang menjadi kunci keberkahan perjalanan Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Pertama adalah kesungguhan dari internal pesantren, mulai dari pendiri, pengurus yayasan, pimpinan lembaga pendidikan, hingga para guru yang setiap hari mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

“Tanpa kesungguhan dari dalam, tidak mungkin pesantren bisa berjalan dengan baik,” ujar Syaikhuna.

Kedua adalah dukungan masyarakat di sekitar pesantren. Menurutnya, hubungan harmonis antara pesantren dan masyarakat menjadi fondasi penting bagi terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif. Beliau menyampaikan rasa syukur karena selama ini komunikasi, silaturahmi, dan interaksi antara pesantren dengan masyarakat sekitar terus terjalin dengan baik.

Baca Juga:  Spesial Ramadan 1447 H: LTTQ Al-Muhajirin Purwakarta Hadirkan Dauroh Musykilatul Kalimat dan Dauroh Tajwid & Ghorib, Daftar Sekarang!

Ketiga adalah peran pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan hingga tingkat nasional. Syaikhuna menegaskan bahwa hubungan baik dengan pemerintah merupakan bagian dari ikhtiar membangun kerja sama demi kemajuan pendidikan dan masyarakat.

Keempat adalah peran para ulil albab dan kalangan cendekiawan, yaitu para akademisi dan tokoh pendidikan yang turut memberikan kontribusi pemikiran dan pengembangan ilmu dalam perjalanan lembaga pendidikan.

Sedangkan komponen kelima adalah dukungan para dermawan, termasuk para pengusaha, tokoh masyarakat, dan siapa saja yang menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya untuk kemajuan pesantren.

“Kalau tidak ada infak dan sedekah, tentu pembangunan pesantren tidak akan bisa berjalan seperti sekarang,” ungkap beliau.

Baca Juga:  Tausiyah Syaikhuna tentang Lailatul Qadar dan Malam Muwada’ah Penuh Haru

Dalam bagian akhir tausiyahnya, Syaikhuna juga mengingatkan jamaah tentang keistimewaan malam Lailatul Qadar, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Beliau menjelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan karunia Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Jika umat terdahulu memiliki usia yang panjang sehingga mampu beribadah selama puluhan tahun, maka umat Nabi Muhammad diberi kesempatan meraih pahala yang sangat besar hanya dalam satu malam. Karena itu, Syaikhuna mengajak seluruh jamaah untuk memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal kebaikan.

“Mudah-mudahan jika kita mendapatkan Lailatul Qadar, Allah menjadikan rezeki kita penuh keberkahan, anak-anak kita menjadi saleh, rumah tangga menjadi sakinah, dan masyarakat menjadi baik,” tuturnya. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *