Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhidin Ilyas Ajak Orang Tua Santri Menguatkan Doa


AL-MUHAJIRIN— Saat tubuh masih sehat, rezeki terasa cukup, dan kehidupan berjalan tenang, ada kesempatan berharga untuk semakin mendekat kepada Allah SWT. Doa perlu terus dirawat dalam keseharian, menyertai rasa syukur sekaligus menjadi bekal menghadapi berbagai keadaan yang belum diketahui.
Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Dr. KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam Pengajian Bulanan Orang Tua Santri di Aula Syaikh Datul Kahfi (SDK), Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Ahad, 1 November 2026.
Dalam pengajian yang dirangkai dengan penjengukan santri putri tersebut, KH. Marpu mengawali kajian fikih doa dengan merujuk pada kitab Jawami‘ud Du‘a karya Syekh Abdul Salam Syita. Pembahasan dimulai dari keutamaan dan kedudukan doa, kemudian akan dilanjutkan dengan adab-adab berdoa pada pertemuan berikutnya.
Melalui penjelasan yang diselingi bahasa Sunda dan dialog bersama jemaah, beliau mengajak para orang tua memahami doa sebagai ibadah yang menyertai seluruh kebutuhan manusia. Kesehatan, keselamatan, kecukupan rezeki, ketenangan hati, hingga kemudahan anak dalam menuntut ilmu dapat dimohonkan kepada Allah.
Menurutnya, kesadaran akan kebutuhan tersebut membantu seorang hamba memahami keterbatasan dirinya sekaligus menguatkan pengharapan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Beliau mengutip penggalan firman Allah dalam Surah Ghafir ayat 60:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.”
KH. Marpu menjelaskan bahwa perintah tersebut menunjukkan kedudukan doa sebagai ibadah. Ketika berdoa, seseorang sedang menghadapkan diri kepada Allah. Karena itu, memahami makna dan adab doa menjadi bagian penting dalam membangun kesungguhan beribadah.
“Berdoa adalah menghadapkan diri kepada Allah karena berdoa diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Dalam pembahasan mengenai doa dan ketentuan Allah, beliau mengutip penggalan hadis riwayat Imam At-Tirmidzi:
لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ إِلَّا الدُّعَاءُ
“Tidak ada yang dapat menolak ketentuan kecuali doa.”
Beliau menerangkan bahwa doa menjadi jalan memohon perlindungan dan pertolongan dalam menghadapi berbagai keadaan. Manfaat doa itu sendiri tetap berada dalam kehendak Allah. Allah yang menetapkan segala sesuatu sekaligus memberikan pertolongan kepada hamba-Nya melalui doa.
“Bukan kitanya yang mengalahkan qadarullah. Tetap semuanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Penjelasan tersebut mengajak jemaah menempatkan doa sebagai bagian dari penghambaan. Manusia memohon dengan sungguh-sungguh, menyadari keterbatasannya, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah.
KH. Marpu kemudian menekankan pentingnya memperbanyak doa ketika kehidupan sedang lapang. Beliau menyampaikan pesan hadis tentang anjuran berdoa pada masa mudah bagi orang yang berharap memperoleh pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
“Jika ingin selamat menghadapi kesulitan, jika ingin lolos menghadapi masalah berat, maka perbanyaklah berdoa ketika dalam keadaan baik-baik saja,” ujarnya.
Beliau mencontohkan keadaan yang dekat dengan kehidupan jemaah. Ketika masih sehat, seseorang dapat memohon agar kesehatannya dijaga. Ketika rezeki terasa cukup, ia dapat memohon keberkahan dan perlindungan dari kesempitan. Ketika keadaan aman, ia dapat terus meminta keselamatan.
Kekhawatiran terhadap masa depan, menurutnya, dapat menjadi dorongan untuk semakin mendekat kepada Allah. Doa dibiasakan sejak sekarang, menyertai nikmat yang sedang diterima.
“Berdoalah ketika sehat untuk nanti mengantisipasi penyakit. Berdoalah ketika cukup untuk mengantisipasi pailit dan kemiskinan. Berdoalah ketika aman,” tuturnya.
Beliau juga mengutip nasihat dalam hadis:
تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
“Kenalilah Allah pada waktu lapang, niscaya Dia mengenalimu pada waktu sulit.”
KH. Marpu menjelaskan bahwa mendekat kepada Allah pada waktu lapang dapat diwujudkan melalui salat, doa, istigfar, tasbih, selawat, sedekah, dan berbagai amal kebaikan. Kebiasaan tersebut merawat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya dalam keseharian.
Bagi orang tua santri, kesempatan berdoa juga hadir dalam perjalanan menjenguk anak. Beliau mengingatkan keutamaan doa seorang musafir dan doa orang tua untuk anaknya.
Karena itu, perjalanan menuju pesantren dapat diisi dengan permohonan kebaikan. Ketika bertemu anak, orang tua dapat memeluknya sambil mendoakan kesehatan, kecerdasan, kebersihan hati, serta kemudahan dalam belajar dan menjalani kehidupan.
Beliau turut mengajak para wali santri mendoakan pengasuh, para guru, seluruh santri, dan pesantren. Dengan demikian, pertemuan keluarga menjadi kesempatan untuk saling menguatkan melalui kasih sayang dan doa.
Secara khusus, KH. Marpu memberikan perhatian pada peran ayah dalam mendoakan anak. Beliau mendorong para ayah untuk semakin bersungguh-sungguh memohon kebaikan bagi putra-putrinya, bersama doa yang terus dipanjatkan oleh para ibu.
Perhatian itu dapat diwujudkan melalui kedekatan yang sederhana: hadir, memeluk, dan menyertai anak dengan harapan-harapan baik kepada Allah.
Pembahasan selanjutnya menyentuh salah satu keutamaan doa, yakni mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Beliau membacakan penggalan Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”
Menurutnya, ayat tersebut menguatkan pengharapan seorang hamba kepada Allah. Doa menjadi jalan untuk datang dan memohon kepada-Nya dengan membawa segala kebutuhan serta keterbatasan diri.
Dalam kaitan itu, KH. Marpu menerangkan bahwa kualitas doa sangat berkaitan dengan keadaan hati. Ketundukan, kepasrahan, dan kesadaran akan kebutuhan terhadap pertolongan Allah menjadi hal penting ketika seseorang berdoa.
“Doa terbaik adalah doa yang lahir, hadir dari rasa pasrah, tunduk, rasa hina, dari rasa tidak berdaya, tidak mampu,” jelasnya.
Beliau mencontohkan doa orang tua yang disampaikan dengan kalimat sederhana agar anaknya diberi kecerdasan, penjagaan, dan kesehatan. Ungkapan tersebut memiliki makna mendalam ketika lahir dari hati yang sungguh-sungguh berharap kepada Allah.
Untuk doa di luar salat, beliau menjelaskan bahwa jemaah dapat menggunakan bahasa yang dipahami. Dengan demikian, keterbatasan hafalan doa berbahasa Arab tidak menghalangi seseorang untuk memohon kepada Allah.
Pembahasan kemudian berlanjut pada keutamaan berdoa ketika sujud. KH. Marpu mengutip hadis riwayat Imam Muslim:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud. Maka, perbanyaklah doa.”
Beliau menjelaskan bahwa sujud mengandung makna ketundukan dan kerendahan hati. Gelar, jabatan, serta kedudukan seseorang tidak mengubah posisinya sebagai hamba di hadapan Allah. Ketika bersujud, setiap orang meletakkan kepala sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya.
Karena itu, sujud menjadi kesempatan untuk memperbanyak permohonan. Beliau menegaskan bahwa anjuran tersebut berlaku pada setiap sujud, sehingga jemaah dapat memanfaatkannya dengan tetap memperhatikan ketentuan salat.
Dalam penjelasannya, doa ketika sujud di dalam salat disampaikan dengan bahasa Arab. Makmum tetap mengikuti imam dan dapat mengisi waktu sujud dengan doa-doa yang dihafalnya. Sementara dalam salat sunah sendiri, kesempatan tersebut dapat digunakan untuk lebih banyak memohon kebaikan bagi diri dan keluarga.
Beliau juga menjelaskan bahwa imam yang hendak memperpanjang sujud perlu memperhatikan keadaan makmum. Dalam contoh yang disampaikannya, hal itu dilakukan pada jemaah terbatas yang telah menyetujuinya.
Bagi orang tua, doa dalam sujud dapat diisi dengan permohonan agar anak-anak memperoleh pemahaman agama, kemudahan belajar, kesehatan, dan petunjuk hati. Harapan terhadap pendidikan anak pun terus disertai penghambaan kepada Allah.
Menjelang akhir pengajian, KH. Marpu mengajak para wali santri kembali mengikuti kajian pada bulan berikutnya. Beliau berharap kesempatan menjenguk anak juga membawa tambahan ilmu yang bermanfaat bagi keluarga.
Pengajian ditutup dengan doa bersama. KH. Marpu memohon agar anak-anak diberi pemahaman agama, kelapangan dada, keteguhan, perlindungan dari keburukan, serta pertumbuhan yang baik.
Harapan agar para santri menjadi penyejuk hati orang tua turut dipanjatkan melalui doa dalam Surah Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (*)
