Pengajian Khusus Ramadan Al-Muhajirin Pusat, Khulashah Kitab Al-‘Ilmi (Bagian III: Adab Mengajar Ilmu)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhyidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN – Rangkaian Pengajian Khusus Ramadan 1447 H di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Purwakarta, kembali berlanjut. Pada Bagian III, kajian Khulashah Kitab Al-‘Ilmi dari mahakarya Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, memasuki pembahasan penting: adab mengajar ilmu.

Dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. R. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, majelis berlangsung dalam suasana penuh hikmah dan refleksi. Jika Bagian I membahas keutamaan ilmu dan klasifikasinya, serta Bagian II mengulas adab menuntut ilmu, maka Bagian III menyoroti puncak perjalanan ilmu: mengajar—sebuah maqam yang mulia sekaligus penuh risiko.

KH. Marpu membuka kajian dengan mengutip: “Man ‘alima wa ‘amila wa ‘allama, fahuwa alladzi yuda‘u ‘aziman fi malakutis samawati wal ardh.”

Barangsiapa mengetahui, mengamalkan, dan mengajarkan, maka ia disebut agung di alam malakut.

Tiga tahapan itu dijelaskan secara runtut yakni; Alima (mengetahui) adalah buah dari proses belajar. Amila (mengamalkan) adalah pembuktian kebenaran ilmu pada diri sendiri. Allama (mengajar) adalah maqam tertinggi—menerangi orang lain.

Baca Juga:  SMA Fullday Al Muhajirin Gelar Haflah Nuzulul Qur’an dan Aksi Berbagi: Menghidupkan Ramadan dengan Cahaya Al-Qur’an

Orang yang sampai pada tiga tahap ini diibaratkan matahari: bercahaya sekaligus menerangi. Ia seperti minyak wangi yang harum dan mengharumkan. Sebaliknya, orang yang tahu tetapi tidak mengamalkan hanya seperti buku—membuat orang lain pintar, namun dirinya sendiri “mati”. Atau seperti jarum, menjahit pakaian orang lain tetapi dirinya tetap telanjang.

Di sinilah letak kemuliaan sekaligus bahaya. Mengajar adalah amron ‘aziman wa khatoron jasiman—perkara agung namun penuh risiko. Karena itu, adabnya harus dijaga dengan sangat ketat.

Adab pertama yang ditegaskan adalah menyayangi murid seperti anak sendiri (asy-syafaqah ‘alal muta‘allimin wa yujrihim majra banihi).

Rasulullah SAW bersabda:

“Innama ana lakum mithlul walidi liwaladihi.”
“Sesungguhnya aku bagi kalian seperti ayah bagi anaknya.”

KH. Marpu menjelaskan bahwa peran guru bahkan melampaui orang tua dalam dimensi ukhrawi. Jika orang tua menyelamatkan anak dari bahaya dunia, guru menyelamatkan dari api akhirat. Karena itu, hak guru dalam aspek ruhani lebih besar, sebab ia menjadi sebab kehidupan abadi di akhirat.

Guru sejati adalah mereka yang mengajarkan ilmu akhirat—ayat-ayat muhkamat, sunnah qaimah, dan kewajiban agama—atau mengajarkan ilmu dunia dengan niat akhirat. Dalam istilah Imam Al-Ghazali: ad-dunya li qasdil akhirah—dunia untuk tujuan akhirat.

Baca Juga:  Best-Seller di Gramedia! KH. R. Marpu Muhidin Ilyas Bongkar 10 Penjajah Hati Lewat Buku 'Free Yourself'

Mengutip QS. Al-Qashash: 77, “Wala tansa nasibaka minad dunya,” beliau menjelaskan bahwa dunia bukan ditinggalkan, tetapi diambil bagian akhiratnya. HP, teknologi, jabatan, bahkan platform digital bisa menjadi sarana pahala jika diniatkan untuk dakwah dan kebaikan.

Sebaliknya, jika ilmu diarahkan murni untuk ambisi dunia—jabatan, popularitas, atau materi—maka ia berpotensi mencelakakan diri dan muridnya.

Adab berikutnya adalah membangun suasana saling mencintai di antara murid karena tujuan akhirat. Jika orientasinya akhirat, maka akan lahir attahabbub dan attawadud—cinta dan kasih sayang. Namun jika orientasinya dunia, yang muncul adalah hasad, persaingan, dan kebencian.

KH. Marpu menegaskan bahwa jalan menuju Allah luas dan kokoh. Tidak perlu saling menjatuhkan. Mengutip QS. Al-Hujurat: 10, “Innamal mu’minuna ikhwah,” beliau menekankan bahwa persaudaraan iman hanya bisa hidup jika visi akhirnya sama.

Baca Juga:  Perdalam Ilmu Tafsir di Pengajian Rutin Alumni Al-Muhajirin, Yuk Gabung!

Nikmat akhirat tidak membosankan—“La yabghuna ‘anha hiwala” (QS. Al-Kahfi: 108). Berbeda dengan dunia yang cepat usang dan memudar.

Jika ilmu digeser untuk kepentingan dunia, maka cinta yang terbangun hanya bersifat sementara. Di akhirat, relasi semacam itu justru berubah menjadi permusuhan, sebagaimana digambarkan dalam QS. Az-Zukhruf: 67.

Pengajian ditutup dengan penguatan adab kedua: meneladani Rasulullah SAW dalam mengajar. Nabi hadir sebagai penyampai wahyu sekaligus murabbi yang penuh kasih, sabar, dan bertahap dalam mendidik umat. Metode beliau memadukan hikmah, keteladanan, dan kelembutan hati.

Ramadhan, menurut KH. Marpu, adalah momentum terbaik untuk meluruskan niat dan memperbaiki adab mengajar. Ilmu tidak boleh berhenti pada transfer informasi, tetapi harus menjadi jalan keselamatan akhirat.

Rekaman lengkap Kajian Bagian III dapat diakses melalui kanal resmi Al-Muhajirin TV sebagai bagian dari rangkaian tafaqquh Ramadan 1447 H.

Semoga Allah menjadikan ilmu yang diajarkan sebagai cahaya yang menyelamatkan, bukan beban yang memberatkan. Barakallah fiikum. Wallahu a‘lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *