Pengajian Khusus Ramadan Al-Muhajirin Pusat, Khulashah Kitab Al-‘Ilmi (Bagian IV: Lanjutan Adab Mengajar Ilmu dan Mukadimah Kitab Riyadus Shalihin)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN— Suasana majelis di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat kembali terasa teduh. Para ustadz, asatidz, duduk dengan kitab terbuka di hadapan mereka. Pada Pengajian Khusus Ramadan Bagian IV ini, KH. R. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA melanjutkan khulashah Kitab Al-‘Ilmi dari Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, sekaligus membuka mukadimah Riyadus Shalihin karya Imam An-Nawawi rahimahullah.

Dalam pengantar pembahasan, KH. Marpu mengatakan bahwa persoalan niat seringkali menjadi kegelisahan para penuntut ilmu.

“Kalau masih mengaji tapi niatnya belum sepenuhnya karena Allah, jangan berhenti. Teruskan saja. Di tengah jalan nanti akan bertemu ayat, bertemu hadis, bertemu nasihat ulama yang memukul hatinya. Ilmu itu pada akhirnya hanya bisa diraih dengan niat karena Allah.”

Beliau mengingatkan bahwa banyak sahabat radhiyallahu ‘anhum yang awalnya belum sepenuhnya lurus niatnya, tetapi proses kebersamaan dengan Rasulullah SAW, mendengar wahyu, dan menyertai majelis ilmu, mengubah total orientasi hidup mereka.

“Jangan stop hanya karena merasa belum ikhlas. Itu proses tazkiyah. Teruskan mengaji,” ujar beliau.

Memasuki adab mengajar, KH. Marpu memperkenalkan istilah daqaiq sinat taklim—hal-hal halus dalam profesi mengajar yang sering tak disadari.

KH. Marpu mengatakan, “Semua guru adalah guru akhlak. Bukan hanya menyampaikan materi. Setiap kata, cara duduk, cara menegur, bahkan ekspresi wajah, itu pendidikan.”

Baca Juga:  Ketua Umum PBNU Resmikan SPPG Kampus 2 Al-Muhajirin dan 12 Pesantren Lainnya

Mengajar bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan jiwa.

Beliau menegaskan bahwa seorang guru satu bidang tidak boleh meremehkan bidang lain.

“Guru bahasa jangan merendahkan fikih. Guru fikih jangan merendahkan hadis. Guru kalam jangan merendahkan tasawuf. Semua ilmu punya posisi.”

KH. Marpu menganalogikan integrasi ilmu seperti persiapan ibadah haji. Ada yang menyiapkan pakaian ihram, koper, paspor, tiket, hingga obat-obatan. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua saling melengkapi.

Pada poin berikutnya, beliau mengutip kaidah yang dinisbatkan kepada para nabi:

“Kami, para nabi, diperintahkan untuk menempatkan manusia sesuai kedudukannya dan berbicara kepada mereka sesuai kadar akalnya.”

Beliau juga membacakan hadis Nabi SAW:

“Barangsiapa berbicara kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang tidak mereka pahami, maka itu menjadi fitnah bagi mereka.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah)

KH. Marpu mengatakan, tidak semua ilmu boleh disampaikan kepada semua orang dalam waktu yang sama. Ada ilmu untuk umum, ada untuk khusus, ada waktu yang tepat dan ada saat yang harus ditahan.

Baca Juga:  Jumat Berkah di SD Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta: Pembacaan Surat Al-Kahfi dan Pengusapan Anak Yatim

“Kalau salah sasaran, bukan mencerahkan, malah membingungkan,” ujarnya.

Murid Qasir dan Seni Menyederhanakan Ilmu

Bagi murid yang pemahamannya terbatas (qasir), KH. Marpu menekankan pentingnya pendekatan bertahap.

“Jangan memaksa anak memahami sesuatu yang belum sampai tahapnya. Sederhanakan. Turunkan levelnya. Itu bukan menurunkan ilmu, tapi menaikkan murid secara perlahan.”

Di sinilah kesabaran guru diuji.

Pada bagian yang lebih dalam, KH. Marpu mengatakan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di lisan.

Beliau mengingatkan dua ayat dalam Al-Baqarah tentang ancaman bagi orang yang menyembunyikan ilmu. Lalu beliau menyebut semangat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang meriwayatkan banyak hadis karena takut termasuk dalam ancaman tersebut.

“Jangan tunggu sempurna baru mengajar. Itu jebakan setan. Mengajarlah sambil memperbaiki diri. Niatkan mengajar sebagai jalan menyelamatkan diri sendiri,” ujar beliau.

Memasuki Riyadus Shalihin

Setelah menutup pembahasan adab mengajar, KH. Marpu membuka Riyadus Shalihin karya Imam Abu Zakaria Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi.

Beliau menyampaikan biografi singkat Imam Nawawi: lahir di Nawa, Damaskus (631 H), wafat pada usia 46 tahun, namun meninggalkan karya-karya monumental.

“Beliau ini contoh integrasi ilmu. Fikihnya dalam, hadisnya kuat, tasawufnya hidup,” kata KH. Marpu.

Baca Juga:  Sambut HUT Kemerdekaan RI Ke 79, SD Plus 2 Almuhajirin Gelar Gerilya 2024

Dalam mukadimah Riyadus Shalihin, Imam Nawawi mengingatkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah beribadah kepada Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56. Dunia hanyalah perhiasan sementara.

KH. Marpu membacakan hadis:

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Dan sabda Nabi SAW kepada Ali radhiyallahu ‘anhu:

“Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk melalui dirimu kepada satu orang saja, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau mengatakan, “Inilah nilai mengajar. Satu orang berubah karena kita, itu lebih mahal dari dunia.”

Majelis ditutup dengan pembacaan mukadimah kitab dan doa bersama. Ramadan, menurut KH. Marpu, adalah momentum membersihkan niat dan menata ulang orientasi ilmu.

“Perbanyak doa, Rabbi zidni ‘ilma. Ilmu itu cahaya. Kalau niatnya bersih, cahayanya masuk ke hati,” tutur beliau.

Rekaman lengkap Pengajian Ramadan Bagian IV dapat disimak melalui kanal resmi Al-Muhajirin TV.

Semoga majelis ini menjadi wasilah bertambahnya ilmu yang berbuah amal, dan amal yang mengantarkan kepada ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a‘lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *