Halal Bi Halal Alumni Al-Muhajirin: KH. Marpu Ajak Alumni Istiqamah Ngaji dan Menjadi Manfaat di Tengah Masyarakat

Bagikan artikel ini:
Halal Bi Halal Alumni Al-Muhajirin di Masjid At-Tazkiyah Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Minggu, 5 April 2026.

ALMUHAJIRIN— Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa dalam acara Halal Bi Halal Alumni Al-Muhajirin seluruh angkatan yang digelar di Masjid At-Tazkiyah Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Minggu, 5 April 2026.

Kegiatan ini diawali dengan tausiyah dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA. Turut hadir Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, serta Ketua Umum ISMI (Ikatan Santri Alumni Al-Muhajirin), KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

Dalam sambutannya, KH. Marpu Muhidin Ilyas mengawali dengan mengajak seluruh alumni untuk senantiasa menghadirkan guru dalam setiap aktivitas keilmuan, terutama melalui doa dan bacaan Al-Fatihah.

Beliau mencontohkan keteladanan ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang selama puluhan tahun tidak pernah lupa mendoakan gurunya, Imam Syafi’i.

“Di antara nikmat terbesar kita adalah memiliki guru. Maka jangan sampai hubungan ruhani itu terputus. Setiap ngaji, sebut nama guru kita, hadirkan dalam hati, kirimkan Al-Fatihah. Di situlah keberkahan mengalir,” ungkapnya.

Ngaji, Perekat Utama Alumni

KH. Marpu menegaskan bahwa yang paling menyatukan alumni Al-Muhajirin bukan sekadar organisasi, melainkan tradisi ngaji.

Baca Juga:  Family Camp Seru RA Al-Muhajirin 2 Purwakarta: Kemping Ceria Bersama Ayah dan Bunda!

Beliau kemudian memaparkan berbagai program pengajian ISMI yang bisa diikuti alumni, mulai dari pengajian wilayah (Karawang, Jakarta, Bandung, Cirebon, hingga luar Jawa Barat), pengajian rutin Ahad, hingga pengajian malam Sabtu dan malam Jumat, baik secara langsung maupun daring.

“Ngaji ini yang menyatukan kita. Maka jangan sampai putus. Kalau tidak bisa seminggu sekali, dua minggu sekali. Kalau tidak, sebulan sekali. Jangan sampai setahun sekali,” pesannya.

Menurutnya, kehadiran alumni dalam majelis ilmu bukan semata mencari materi ceramah, tetapi mencari keberkahan dari guru.

“Boleh jadi kita lupa apa yang disampaikan, tapi pastikan pulang membawa berkah,” ujarnya.

Semua Tetap Santri

Dalam suasana penuh keakraban, KH. Marpu menegaskan bahwa di hadapan pesantren, semua alumni tetaplah santri, tanpa sekat jabatan maupun status sosial.

“Di sini baju kita sama. Kita semua santri. Yang membedakan hanya usia dan mungkin warna rambut,” katanya disambut senyum hadirin.

Pesan ini menjadi penegasan bahwa ikatan spiritual sebagai santri tidak pernah terputus, meski telah lama meninggalkan bangku pesantren.

Baca Juga:  Halal bi Halal Keluarga Besar Yayasan Al-Muhajirin: Menyatukan Langkah, Menguatkan Khidmat

Alumni Harus Punya Peran

KH. Marpu juga mengingatkan bahwa Al-Muhajirin akan terus berkembang dan membutuhkan kontribusi alumni, baik secara materi maupun nonmateri.

Beliau menyinggung keteladanan Syaikhuna yang tidak pernah menuntut, namun justru di situlah ujian bagi alumni untuk peka dan peduli.

“Jangan sampai kita terlena karena guru kita tidak meminta. Justru di situlah kita diuji, sejauh mana rasa memiliki terhadap pesantren,” tegasnya.

Lebih luas, beliau menekankan bahwa alumni harus menjadi pribadi yang memberi manfaat di tengah masyarakat, sekecil apa pun bentuknya.

“Tidak boleh ada alumni yang menjadi benalu di lingkungannya. Sekecil apa pun manfaatnya, itu yang justru bisa menyelamatkan kita,” katanya.

KH. Marpu mengutip kisah para ulama seperti Imam Al-Ghazali dan Imam Syafi’i, yang justru mendapatkan kemuliaan bukan dari amal besar yang terlihat, tetapi dari amal kecil yang ikhlas dan konsisten.

Bangga Mengajar Ilmu Dasar

Dalam bagian yang menyentuh, KH. Marpu mengajak alumni untuk tidak minder jika hanya mengajar ilmu-ilmu dasar di masyarakat.

Baca Juga:  Pemkab Purwakarta Ucapkan Terimakasih dan Mengapresiasi Yayasan Al Muhajirin yang Mendirikan Pesantren Lansia

“Yang mengajarkan iqra, wudhu, salat, itu justru termasuk ulama rabbani. Jangan merasa kecil. Itu sangat mulia,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa keberkahan dakwah tidak diukur dari jumlah jamaah atau popularitas, tetapi dari keikhlasan dan kesinambungan dalam memberi manfaat.

“Jangan terjebak pada ukuran popularitas. Itu yang diingatkan oleh Imam Ghazali sebagai bentuk kebodohan dalam mencari ilmu,” katanya.

Jaga Kedekatan dengan Guru

Di akhir sambutannya, KH. Marpu mengingatkan pentingnya menjaga kedekatan dengan ulama, terlebih Syaikhuna yang masih membersamai umat.

“Selagi beliau masih ada, sempatkan datang. Jangan sampai orang jauh yang mengejar, sementara kita yang dekat justru lalai,” pesannya.

Beliau pun mengajak seluruh alumni untuk terus merawat kebersamaan, memperkuat silaturahmi, dan menjaga tradisi keilmuan yang telah diwariskan pesantren.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan mushafahah dan sesi foto bersama dalam suasana penuh haru dan kebahagiaan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *