
AL-MUHAJIRIN- Ramadan 1447 H di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Purwakarta, terus mengalir dengan suasana yang khidmat. Pada bagian pengajian kali ini, kajian berlanjut mendalami Riyadhus Shalihin karya agung Imam An-Nawawi, khususnya Bab Ikhlas dan Niat. Kitab yang selama berabad-abad menjadi rujukan pembinaan akhlak itu dibedah dengan pendekatan yang dekat di hati dan mudah direnungkan.
KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam pengajian menjelaskan bahwa ikhlas merupakan kewajiban pertama dan prinsip utama dalam agama. Bahkan, inti agama itu ada dua: al-ikhlas lillah (urusan hati dan tauhid) serta al-hanafiyah (konsistensi lahir mengikuti kebenaran). Ramadan, menurut beliau, menjadi waktu yang tepat untuk melatih menghadirkan niat secara sadar (ihdarun niyah) dan membersihkan hati dari segala yang mengotori ikhlas, sehingga amal tidak hanya banyak secara lahiriah, melainkan benar-benar bernilai di sisi Allah.
Manusia, jelasnya, bergerak dalam tiga wilayah kehidupan: amal (gerak badan), aqwal (ucapan), dan ahwal (gerak hati). Ketiganya tak pernah kosong. Namun, yang menentukan nilai semuanya adalah satu: niat. Dan yang menghidupkan niat adalah ikhlas.
“Ikhlas itu isi dari niat. Niat adalah wadahnya. Wadahnya bisa sama, tapi isinya bisa berbeda,” ucap beliau. “Dua orang shalat di saf yang sama. Gerakannya sama. Tapi nilainya bisa langit dan bumi, tergantung apa yang ada di dalam hatinya,” jelasnya.
Imam An-Nawawi tidak memulai kitabnya dengan bab shalat, puasa, atau zakat, namun memulai dengan ikhlas. Ini bukan kebetulan. Ini manhaj. Karena tanpa ikhlas, seluruh amal hanya menjadi aktivitas fisik tanpa ruh.
KH. Marpu mengurai dalil pertama yang dipilih Imam Nawawi, QS. Al-Bayyinah ayat 5. Perintah Allah sangat tegas: beribadah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya. Lafaz lahud din didahulukan sebagai bentuk pengkhususan. Artinya, tidak boleh ada sekutu dalam niat, tidak boleh ada tujuan ganda dalam ibadah.
Beliau menegaskan, inti agama ada dua: al-ikhlas lillah (urusan batin) dan al-hanafiyah (konsistensi lahir mengikuti kebenaran). Agama yang lurus bukan hanya benar secara tampak, tapi bersih secara batin.
Ayat kedua, QS. Al-Hajj ayat 37, menjadi penegasan bahwa Allah tidak membutuhkan daging dan darah kurban. Yang sampai kepada-Nya adalah takwa. Yang sampai bukan bentuknya, melainkan kualitas batinnya. Amal tanpa takwa hanyalah rutinitas.
Ayat ketiga dari QS. Ali Imran ayat 29 memperingatkan bahwa apa pun yang tersembunyi dalam hati tetap berada dalam pengawasan Allah. Manusia bisa terkecoh oleh pencitraan, tetapi Allah tidak pernah tertipu oleh tampilan.
Di sinilah letak gentingnya Ramadhan. Karena di bulan inilah amal meningkat drastis. Namun, peningkatan kuantitas belum tentu berbanding lurus dengan kualitas.
Hadis dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menjadi pembuka Riyadhus Shalihin. Bukan tanpa alasan. Ulama menyebut hadis ini sebagai sepertiga agama. Bahkan ada yang mengatakan, seluruh Islam kembali kepada hadis ini.
“Innamal a’malu bin niyati…”
Amal dinilai, disahkan, diterima, atau ditolak berdasarkan niatnya.
KH. Marpu menggarisbawahi dua dimensi hadis ini. Pertama, niat menentukan sah dan tidaknya amal. Kedua, niat menentukan pahala yang diperoleh.
Beliau memberi tekanan pada pentingnya taksis niat—niat yang spesifik. Dalam ibadah wajib, niat tidak boleh global. Puasa Ramadan harus diniatkan sebagai puasa Ramadan tahun ini. Shalat Zuhur tidak boleh diniatkan sekadar “shalat wajib.” Semakin jelas niat, semakin kokoh kesadaran.
“Ramadan ini latihan kesadaran. Jangan otomatis. Jangan robotik. Hadirkan niat sebelum bertindak,” pesan beliau.
Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa niat bisa melipatgandakan pahala. Aktivitas duniawi bisa bernilai ukhrawi jika diniatkan karena Allah. Makan menjadi ibadah jika diniatkan untuk menguatkan tubuh agar taat. Tidur menjadi pahala jika diniatkan untuk memulihkan tenaga agar bangun tahajjud.
Di sinilah rahasia para ulama terdahulu. Mereka mengubah hidup menjadi ibadah dengan memperbaiki niat.
Hadis tentang pasukan yang ditelan bumi di padang pasir menjadi pelajaran berikutnya. Di dunia, orang saleh dan pelaku maksiat bisa berada dalam satu musibah. Namun di akhirat, mereka dibangkitkan sesuai niat masing-masing.
Ini menenangkan hati orang-orang yang khawatir terhadap takdir kolektif. Sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang hidup dalam kelalaian bersama-sama.
“Allah tidak menilai lokasi kita berdiri. Allah menilai isi hati kita,” jelas beliau.
Hadis “La hijrata ba’dal fathi…” menegaskan bahwa meskipun hijrah fisik telah selesai setelah Fathu Makkah, jihad dan niat tetap berlaku hingga hari kiamat.
Jihad bukan hanya medan perang. Jihad melawan riya’, melawan ujub, melawan keinginan dipuji—itulah jihad paling berat.
Ramadan adalah laboratorium jihad batin. Kita berperang melawan dorongan untuk memperlihatkan amal. Kita melawan bisikan agar amal kita diketahui banyak orang.
KH. Marpu memberikan terapi praktis yang sangat konkret sebagai “PR” (pekerjaan rumah) bagi jamaah:
Sembunyikan amal sunnah. Jika bisa, jangan ada yang tahu kecuali Allah. Ulama salaf merasa rugi jika amal sunnahnya diketahui orang.
Jangan terlalu peduli penilaian manusia. Penilaian manusia berubah-ubah. Ridha Allah tetap.
Hindari ujub. Jangan bangga terhadap diri sendiri. Ikhlas bukan hanya tidak riya’, tetapi juga tidak kagum pada diri.
Ucapkan niat dengan sadar. Lafaz niat bukan untuk Allah—Allah sudah tahu—tetapi untuk menggerakkan hati agar hadir.
Beliau bahkan menyelipkan ungkapan Sunda yang membuat jamaah tersenyum sekaligus merenung: merasa rugi jika ketahuan sedang dhuha, ketahuan tahajjud, ketahuan sedekah. Itulah standar ikhlas yang tinggi.
Pengajian kali ini bukan sekadar kajian teks. Ia menjadi cermin. Banyak yang mungkin rajin ibadah, tetapi belum tentu rajin membersihkan niat.
Ramadan adalah momentum emas. Karena di bulan ini, amal meningkat. Dan setiap peningkatan amal harus dibarengi peningkatan kualitas hati.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mukhlisin. Amal kita diterima. Hati kita bersih. Dan setiap langkah kita hanya tertuju kepada-Nya.
Allahu Akbar. Barakallahu fiikum.
Wallahu a’lam bisshawab. (*)
