Pengajian Ramadan Kitab Riyadus Sholihin: Bab Sabar – Pahala Tanpa Hisab dan Hikmah Ujian Kecil dari Allah

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN – Majelis pengajian Ramadan kitab Riyadus Sholihin di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali digelar dengan suasana khusyuk. Dalam kajian lanjutan Bab Sabar, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA mengupas sejumlah ayat Al-Qur’an dan hadis yang menjelaskan kedudukan sabar sebagai salah satu fondasi utama keimanan sekaligus kunci menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Sejak awal kajian, beliau menegaskan bahwa sabar bukanlah sikap pasif yang sekadar menahan diri, melainkan perjuangan aktif dalam pertarungan batin antara kebaikan dan keburukan.

“Sabar itu bukan diam tanpa sikap. Ada pertarungan antara akal dan nafsu. Mukmin harus lebih unggul sabarnya daripada orang yang mengikuti hawa nafsu,” jelasnya.

Menurut beliau, kesabaran adalah kemenangan akal yang dipandu ilmu dan syariat dalam menentukan pilihan hidup. Ketika seseorang mengikuti dorongan akal yang selaras dengan nilai-nilai agama, itulah hakikat sabar. Sebaliknya, ketika manusia tunduk pada nafsu, ia akan mudah berontak terhadap keadaan.

Ujian Hidup yang “Sedikit”

Dalam kajian tersebut, KH Marpu memulai pembahasan dengan ayat yang sangat terkenal dalam Al-Qur’an, yaitu firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 155-157:

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Beliau menyoroti satu kata penting dalam ayat tersebut: “bisyai’in qalil”—yang berarti sedikit sekali.

Menurut beliau, ayat ini memberikan perspektif optimistis tentang kehidupan.

Baca Juga:  Al-Muhajirin Purwakarta Latih dan Bentuk Tim Zero Waste di Seluruh Unit Pendidikan

“Allah sudah memastikan akan ada ujian dalam hidup, tapi disebutnya hanya ‘sedikit’. Kalau kita bandingkan dengan seluruh hidup kita, ternyata nikmat jauh lebih banyak daripada kesulitan,” jelasnya.

Karena itu, sabar tidak seharusnya dipahami sebagai beban berat, melainkan jalan menuju kabar gembira dari Allah.

Pahala Tanpa Hitungan

Ayat berikutnya yang dibahas adalah QS Az-Zumar ayat 10:

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa hisab.”

KH Marpu menjelaskan bahwa kata “innama” dalam ayat tersebut menunjukkan penegasan dan keistimewaan. Semua amal memang mendapat pahala, tetapi hanya kesabaran yang secara khusus disebutkan dibalas tanpa batas dan tanpa perhitungan.

“Bukan berarti sedikit, tapi justru karena saking banyaknya pahala itu sampai tidak lagi dihitung. Allah langsung memberi balasan yang sangat luas bagi orang yang sabar,” ujarnya.

Beliau juga mengaitkan hal ini dengan ibadah puasa. Karena puasa adalah bagian dari sabar, maka balasannya pun sangat istimewa. Puasa memiliki potensi keikhlasan yang besar karena amal tersebut sering kali tersembunyi dari pandangan manusia.

Sabar dan Memaafkan

Ayat lain yang dibahas adalah QS Asy-Syura ayat 43:

“Barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh itu termasuk perkara yang sangat diperintahkan.”

Dalam ayat ini, sabar dikaitkan dengan kemampuan memaafkan. Menurut KH Marpu, kesabaran yang paling berat adalah ketika seseorang mampu bersabar terhadap kezaliman orang lain, lalu memilih memaafkan.

Baca Juga:  Alhamdulillah, TK Al-Muhajirin Pusat Jadi Juara Umum di Gebyar Lomba PAUD se-Kabupaten Purwakarta!

“Kalau kita sabar tapi masih menyimpan dendam, itu malah menyiksa diri sendiri. Orang yang menyakiti kita seolah diberi tempat tinggal di hati kita,” katanya.

Karena itu, memaafkan adalah bagian dari kesabaran yang sangat mulia dan termasuk prinsip utama dalam agama.

Sabar dan Salat sebagai Jalan Pertolongan

Pembahasan kemudian dilanjutkan pada ayat:

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan salat.”

Menurut KH Marpu, ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran dan salat merupakan jalan untuk memperoleh ma’unah, yaitu pertolongan khusus dari Allah.

Beliau menjelaskan bahwa kebersamaan Allah dengan manusia ada dua bentuk: kebersamaan umum yang mencakup seluruh makhluk, dan kebersamaan khusus yang diberikan kepada orang-orang beriman—terutama mereka yang sabar.

“Kebersamaan yang khusus itu berupa penjagaan, pertolongan, dan bantuan dari Allah,” jelasnya.

Sabar Membutuhkan Ilmu

Salah satu poin penting dalam kajian tersebut adalah hubungan antara sabar dan ilmu. KH Marpu mengutip kisah pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidir yang menunjukkan bahwa kesabaran tidak mungkin terwujud tanpa pemahaman.

“Bagaimana mungkin kamu bisa sabar terhadap sesuatu yang tidak kamu pahami?” kata Nabi Khidir kepada Musa dalam kisah tersebut.

Baca Juga:  Pengajian Ramadhan Kitab Riyadhus Shalihin Al-Muhajirin Pusat: Kekuatan Ikhlas dalam Amal dan Niat

Dari sini beliau menyimpulkan bahwa ilmu adalah bahan bakar kesabaran. Semakin kuat ilmu dan keyakinan seseorang terhadap takdir Allah, semakin kuat pula kesabarannya. Sebaliknya, seringnya manusia tidak sabar sering kali menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap hikmah di balik peristiwa yang terjadi.

Ragam Kesabaran dalam Kehidupan

Di akhir kajian, KH Marpu merangkum beberapa bentuk kesabaran yang harus dimiliki seorang mukmin:

  • Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
  • Sabar dalam menjauhi maksiat.
  • Sabar dalam menghadapi musibah dan ujian.
  • Sabar dalam perjuangan dan mujahadah.
  • Sabar menunggu proses tanpa tergesa-gesa.

Beliau juga mengingatkan bahwa iman sendiri terdiri dari dua sayap besar: sabar dan syukur. Dengan dua sikap inilah seorang mukmin mampu menjalani kehidupan dengan penuh ketenangan.

“Orang beriman itu menakjubkan. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, jika mendapat ujian ia bersabar. Dalam dua keadaan itu semuanya tetap menjadi kebaikan baginya,” tuturnya.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa bersama memohon kekuatan sabar, kedalaman ilmu, serta pertolongan Allah dalam menjalani kehidupan dan ibadah di bulan Ramadan 1447 H.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang sabar, yang mendapat kabar gembira dan pahala tanpa batas dari-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *