
AL-MUHAJIRIN– Masjid Al-Madinah kembali dipenuhi jamaah pada Ahad (19/4/2026). Para jamaah hadir mengikuti kajian rutin yang diselenggarakan setiap pekan. Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., melanjutkan Kajian Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer seri Ilmu Yaqin yang telah memasuki bagian keenam. Pada pertemuan kali ini, pembahasan difokuskan pada tema tawakal.
“Tawakal itu bukan berhenti. Tawakal itu bergerak, lalu hati bersandar penuh kepada Allah,” ujarnya.
Tawakal Tertinggi: Belajar dari Ketegangan Perang
Untuk menggambarkan hakikat tawakal, KH. Marpu membawa jamaah pada suasana paling menegangkan dalam sejarah Islam: ancaman perang. Beliau mengutip QS. Ali Imran ayat 173–174, ketika kaum Muslimin diintimidasi oleh kabar kekuatan besar musuh.
Alih-alih gentar, para sahabat justru mengucap kalimat yang mengguncang langit:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
(Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.)
Hasilnya? Bukan sekadar selamat. Mereka pulang membawa kemenangan, karunia, dan ridha Allah—tanpa tersentuh keburukan sedikit pun.
“Perang itu puncak ketakutan manusia. Kalau di situ tawakal berhasil, maka dalam hidup sehari-hari, tawakal pasti lebih mungkin kita jalani,” jelasnya.
Empat Pola Hidup: Di Sinilah Tawakal Bekerja
Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, KH. Marpu merumuskan bahwa seluruh dinamika hidup manusia sebenarnya hanya berputar pada empat hal:
- Menjaga kebaikan yang sudah ada
- Meraih kebaikan yang belum didapat
- Menghilangkan keburukan yang sedang terjadi
- Mencegah keburukan yang belum datang
Di titik inilah tawakal menjadi kunci. Bukan menggantikan usaha, tetapi menyempurnakan usaha.
“Tawakal itu mewakilkan hasil kepada Allah, bukan mewakilkan usaha,” ujarnya menegaskan.
Zikir yang Sering Dibaca, Tapi Jarang Diresapi
Beliau kemudian mengajak jamaah merenungi doa yang sering dilafalkan selepas shalat:
“Allahumma la mani’a lima a’thaita, wa la mu’thiya lima mana’ta…”
Doa ini, menurutnya, adalah inti dari tawakal. Sebuah pengakuan total bahwa semua berada dalam kendali Allah.
“Kalau Allah memberi, tidak ada yang bisa menghalangi. Kalau Allah menahan, tidak ada yang bisa memaksa. Di situlah hati jadi tenang—tidak sombong saat dapat, tidak putus asa saat gagal,” tuturnya.
Jebakan Halus: Tawakal yang Disalahgunakan
KH. Marpu mengingatkan dua jebakan yang sering dianggap sebagai tawakal:
- Diam tanpa usaha, lalu berkata “saya tawakal”
- Menunda ikhtiar, sambil berdalih “ini sudah takdir”
Beliau mengutip sabda Nabi SAW kepada seorang Badui yang meninggalkan untanya tanpa diikat:
“Ikatlah dulu, baru bertawakal.”
Contoh pun dibuat sangat dekat dengan kehidupan jamaah:
“Motor ditinggal di masjid, ya dikunci. Jangan dibiarkan lalu bilang tawakal. Itu bukan tawakal, itu ceroboh,” ucapnya, disambut senyum jamaah.
Tawakal: Menenangkan Hati, Menguatkan Langkah
Bagi KH. Marpu, tawakal sejati justru melahirkan pribadi yang aktif, produktif, dan tenang. Ia tidak mudah gelisah, karena tahu hasil bukan sepenuhnya di tangan manusia.
“Tawakal itu bukan badan yang diam, tapi hati yang tenang,” katanya singkat namun dalam.
Penutup: Hidup Jadi Ringan
Kajian ditutup dengan doa khidmat, shalawat, dan istighfar. Dalam penutupnya, KH. Marpu mengajak jamaah menjadikan Allah sebagai Al-Wakil—Zat yang paling layak diandalkan.
“Kalau hati sudah tawakal, hidup terasa ringan. Kita tetap berusaha maksimal, tapi tidak lagi terbebani. Karena kita tahu, yang menentukan adalah Allah, Rabbul ‘Alamin.”
Kajian Al-Hayat Ath-Thayyibah Ma’al Qur’an ini rutin digelar setiap Ahad. Seri Ilmu Yaqin masih menyisakan dua bagian lagi—menjadi penantian bagi jamaah yang haus akan ilmu yang membumi sekaligus menenangkan jiwa.
Semoga dari majelis ini, lahir hati-hati yang tidak hanya kuat dalam usaha, tetapi juga kokoh dalam tawakal. Wallahu a’lam. (*)
