Wisuda Tahsin Hijroti dan Tahfidz Juz 2–20, Syaikhuna KH Abun Bunyamin Pesan Santri Jaga Al-Qur’an, Akhlak, dan Kemandirian

Bagikan artikel ini:
Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA menyampaikan tausiyah dalam Wisuda Tahsin Metode Hijroti Angkatan ke-1 dan Tahfidz Juz 2–20 SMP-MTs-SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026 di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Minggu 14 Juni 2026

AL-MUHAJIRIN — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, berpesan kepada para santri agar terus menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, memperbaiki akhlak, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang berilmu dan mandiri.

Pesan tersebut disampaikan dalam tausiyah pada kegiatan Wisuda Tahsin Metode Hijroti Angkatan ke-1 dan Tahfidz Juz 2–20 SMP-MTs-SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026, yang digelar di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Minggu 14 Juni 2026.

Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengawali nasihat dengan mengutip kandungan Surat Fatir ayat 29 tentang tiga amal yang tidak akan rusak dan tidak akan hancur, yaitu membaca Kitabullah atau Al-Qur’an, mendirikan salat, serta menginfakkan sebagian rezeki, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Menurut Syaikhuna, tiga amalan tersebut menjadi jalan agar hati manusia selalu terang dan hidupnya berada dalam ridha Allah SWT.

“Kalau hati kita ingin terang, hati kita ingin bercahaya, ada tiga obatnya. Yang pertama, tiap hari biasakan infak walaupun sedikit. Yang kedua, tahajud walaupun dua rakaat. Yang ketiga, membaca Al-Qur’an walaupun satu ayat,” pesan Syaikhuna.

Beliau menjelaskan bahwa orang yang membiasakan diri membaca Al-Qur’an, melaksanakan tahajud, dan bersedekah akan mendapatkan ketenangan hati, kebahagiaan jiwa, serta keberkahan dalam hidup.

Syaikhuna kemudian berpesan secara khusus kepada para santri yang telah mengikuti wisuda tahsin dan tahfidz agar tidak berhenti membaca Al-Qur’an setelah diwisuda. Hafalan dan kemampuan membaca Al-Qur’an, katanya, harus terus dijaga dengan murajaah dan bacaan harian.

Baca Juga:  KH. Marpu Muhyiddin Ilyas Ingatkan Guru Al-Muhajirin: Kesombongan dan Cinta Dunia Menghalangi Pemahaman Al-Qur’an

“Mudah-mudahan anak-anakku yang sudah hafal ataupun sudah baik tahsinnya tidak melupakan Al-Qur’an. Setiap hari harus dibaca,” ujarnya.

Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah hudan atau petunjuk, rahmat, serta syifa atau obat. Karena itu, para pencinta Al-Qur’an diharapkan menjadi pribadi yang hatinya terang, hidupnya beruntung, dan memperoleh keberkahan sepanjang masa.

Dalam kesempatan tersebut, Syaikhuna juga menekankan pentingnya akhlak. Menurutnya, ada dua hal yang tidak bisa disembunyikan dari seseorang, yaitu akhlak dan bacaan Al-Qur’an.

“Akhlak baik, akhlak jelek, tidak bisa disembunyikan. Baik ya baik, jelek ya jelek. Begitu juga bacaan Al-Qur’an. Kalau baik ya baik, kalau jelek ya jelek,” ungkapnya.

Karena itu, Syaikhuna selalu mengingatkan para kepala sekolah dan para pendidik di lingkungan Al-Muhajirin agar mengutamakan pembelajaran Al-Qur’an dan pembinaan akhlakul karimah. Ilmu setinggi apa pun, katanya, harus disertai dengan akhlak yang baik dan kemampuan membaca Al-Qur’an yang benar.

Syaikhuna juga menyampaikan lima hal yang menjadi perhatian penting dalam pendidikan di Al-Muhajirin. Pertama, program membaca Al-Qur’an, baik tahsin maupun tahfidz. Kedua, hafalan surat-surat pendek agar para santri siap menjadi imam. Ketiga, pemahaman ayat-ayat pilihan, terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan akhlak.

Keempat, penguasaan pokok-pokok ajaran Islam, mulai dari akidah, syariah, akhlak, fikih, hingga tasawuf. Kelima, pembinaan sosial dan keterampilan hidup agar para santri mampu hidup layak, mandiri, dan bermanfaat di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Menjelang Puncak Haji, Syaikhuna KH Abun Bunyamin Mohon Doa untuk Kelancaran Ibadah Jamaah

“Anak-anak harus punya keterampilan. Islam mengajarkan kepada kita untuk menjadi tangan di atas, yang bisa dan mampu memberi, bukan tangan di bawah,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Syaikhuna juga menegaskan cita-cita besar pendidikan Al-Muhajirin, yakni melahirkan generasi yang memiliki tiga kekuatan sekaligus. Ia berharap para santri kelak menjadi ulama, sarjana, dan pengusaha.

“Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi tiga: ulama, sarjana, dan pengusaha,” pesannya.

Menurut Syaikhuna, kehidupan dunia dan akhirat harus dipersiapkan secara seimbang. Ia mengingatkan doa yang selalu dibaca umat Islam, yakni memohon kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Beliau menjelaskan bahwa berdirinya Pondok Pesantren Al-Muhajirin sejak awal dilandasi keinginan untuk membentuk generasi yang memperoleh hasanah fid dunya dan hasanah fil akhirah. Generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga mampu hidup mandiri, berpendidikan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Syaikhuna kemudian mengisahkan awal mula perjalanan Al-Muhajirin yang dimulai dari kepedulian terhadap anak-anak yatim. Saat itu, meskipun lembaganya bernama panti, pendidikan yang diberikan tetap menggunakan pola pesantren, dengan kegiatan mengaji pada waktu subuh, siang, dan malam.

Dari jumlah awal yang terbatas, pendidikan tersebut terus berkembang hingga Al-Muhajirin menjadi lembaga besar yang menaungi ribuan santri. Syaikhuna menyebut perkembangan itu sebagai nikmat Allah yang harus disyukuri.

Menurutnya, masyarakat tidak mungkin menitipkan anak-anaknya ke Al-Muhajirin apabila tidak merasakan manfaat dari pendidikan yang diberikan. Karena itu, Al-Muhajirin harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar pesantren.

Baca Juga:  Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin Tabuh Gong, Resmi Buka Rangkaian Milad ke-33 Al-Muhajirin di Kampus 3

Syaikhuna kembali menegaskan moto Al-Muhajirin, yaitu berpikir dinamis, berakhlak salaf, dan berakidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam bagian akhir tausiyahnya, Syaikhuna mengingatkan pentingnya sedekah. Ia menjelaskan bahwa salah satu hal yang disesali oleh orang ketika menjelang wafat adalah kurangnya bersedekah dan berinfak selama hidup.

Namun, Syaikhuna menegaskan bahwa sedekah tidak selalu berbentuk harta. Sedekah bisa berupa ilmu, nasihat, ajakan kepada kebaikan, hingga doa anak saleh kepada orang tuanya.

“Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah sedekah ilmu. Kalau orang tua mewariskan harta, bisa habis. Tapi kalau mewariskan ilmu, insyaallah itu sedekah yang besar,” pesannya.

Kepada para santri yang diwisuda, Syaikhuna menyampaikan ucapan selamat dan doa. Beliau berharap santri yang sudah menghafal 20 juz dapat melanjutkan hafalannya hingga 30 juz. Beliau juga mendoakan agar seluruh santri memperoleh ilmu yang bermanfaat dan menjadi anak-anak saleh yang membanggakan orang tua, pesantren, agama, bangsa, dan negara.

“Yang sudah 20 juz, selesaikan sampai 30 juz. Anak-anak harus siap,” ujar Syaikhuna yang disambut semangat para santri.

Tausiyah ditutup dengan doa bersama. Syaikhuna memohon kepada Allah SWT agar para santri, guru, orang tua, dan seluruh keluarga besar Al-Muhajirin dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, serta doa yang tidak dikabulkan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *