
Al-Muhajirin – Pengajian Rutin Ba’da Subuh Pesantren Mahasiswi STAI/ITM Al-Muhajirin bersama Santri Tahfidz SMA/MA Al-Muhajirin Kampus Pusat Purwakarta kembali digelar pada Jumat, 16 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung khidmat dengan mengkaji kitab Tajul ‘Arusy bersama Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.
Pengajian yang diikuti oleh mahasiswi pesantren, santri tahfidz, serta civitas Al-Muhajirin tersebut mengangkat tema “Nikmatnya Taat”. Sejak selepas shalat Subuh, para peserta tampak antusias menyimak kajian dengan mencatat poin-poin penting sebagai bekal pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajiannya, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA menyampaikan penjelasan mendalam mengenai hakikat nafsu dan cara menyikapinya agar berada dalam jalan ketaatan. Mengutip perkataan Syekh Abul ‘Abbas Al-Mursi RA, beliau menjelaskan bahwa nafsu tidak akan dapat sepenuhnya ditundukkan dengan kekuatan diri semata. Nafsu diibaratkan seperti sesuatu yang akan semakin melawan jika terus dimusuhi. Oleh karena itu, solusi terbaik adalah menyerahkan nafsu kepada Pemiliknya, yakni Allah SWT.
Beliau menyampaikan bahwa kelelahan dalam mengurusi nafsu tanpa hasil sering kali disebabkan karena belum adanya sikap taslim (berserah diri) secara total kepada Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan dalil Al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Baqarah ayat 112 yang menjelaskan tentang balasan bagi orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dengan berbuat ihsan, serta QS. At-Taubah ayat 111 tentang janji Allah kepada orang-orang beriman yang menyerahkan jiwa dan hartanya untuk meraih surga.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ketika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memutuskan keterikatannya dengan hal-hal yang melalaikan, termasuk kesibukan berlebihan dengan makhluk. Tujuannya agar seorang hamba kembali fokus kepada Allah SWT dan tidak tersandera oleh ikatan duniawi.
Dalam penutup kajian, disampaikan bahwa banyak orang berusaha mengajak nafsunya untuk taat, namun belum merasakan perubahan. Hal ini menunjukkan perlunya perawatan nafsu secara intensif dan berkelanjutan. Kenikmatan maksiat harus dialihkan menjadi kenikmatan taat melalui peningkatan ibadah, dzikir, shalawat, istighfar, serta doa yang istiqamah, hingga ketaatan itu benar-benar terasa nikmat dalam jiwa.
Kegiatan pengajian ba’da Subuh ini menjadi bagian dari pembinaan ruhiyah yang rutin dilaksanakan di lingkungan Al-Muhajirin. Diharapkan, kajian tersebut dapat menumbuhkan kesadaran spiritual, memperkuat keistiqamahan dalam ketaatan, serta membentuk pribadi santri dan mahasiswi yang kokoh secara akhlak dan spiritual.
Semoga kajian ini membawa keberkahan dan manfaat, serta menjadi penguat langkah dalam menapaki jalan ketaatan kepada Allah SWT. Aamiin. (*)
