
PURWAKARTA — Dalam rangka memperingati Milad ke-33, keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta menggelar ziarah haul almarhum KH. Muhammad Mukhtar (Abah Mukhtar) dan almarhumah Hj. Siti Juariyah (Emah) di Cimasuk, Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Sabtu (14/2/2026). Keduanya merupakan orang tua dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.
Kegiatan penuh khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pengasuh pesantren, di antaranya Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, Wakil Pembina Yayasan KH. H. Adang Sulaiman, Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin 3 Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.S.I., M.H, beserta para guru dan staf dari seluruh unit pendidikan se-Yayasan Al-Muhajirin.
Dalam suasana haru dan penghormatan kepada para pendahulu, rangkaian kegiatan diisi dengan tawasul dan pembacaan Surat Yasin. Ziarah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum refleksi atas perjalanan panjang perjuangan Al-Muhajirin dalam membangun pendidikan berbasis pesantren.
Al-Muhajirin berakar dari keteladanan Abah Mukhtar. Dari majelis ilmu yang sederhana, tumbuh semangat keilmuan yang kini berkembang menjadi jaringan pesantren dengan tujuh kampus yang tersebar di Purwakarta, Subang, dan Karawang.
Syaikhuna KH Abun Bunyamin kerap menuturkan bahwa Abah Mukhtar adalah guru pertamanya dalam mengaji Al-Qur’an dan kitab. Dari tangan seorang ayah yang saleh itulah mengalir keberkahan, doa, serta fondasi keikhlasan yang menjadi ruh perjuangan pesantren hingga hari ini.

Beliau kerap menyampaikan dalam tausiyahnya, bahwa Al-Muhajirin berdiri di atas tekad, kesabaran, dan kemandirian. Sejak awal, pesantren ini dirintis tanpa bergantung pada bantuan pihak lain, melainkan dengan semangat perjuangan dan keikhlasan.
Syaikhuna sering menekankan pentingnya menempatkan ilmu sebagai jalan hidup. Dalam Islam, teladan sejati bukan hanya seorang alim, tetapi juga muta’allim (pembelajar yang tekun). Jika belum mampu menjadi alim, jadilah muta’allim. Jika belum mampu, jadilah muhibbin (pencinta ilmu). Dan jika itu pun belum sanggup, setidaknya menjadi mustami’in (pendengar yang baik). Mengutip pandangan KH Hasyim Asy’ari yang menegaskan bahwa seorang alim memiliki tanggung jawab untuk senantiasa mendakwahkan dan menyebarkan syiar agama Allah.
Keshalehan Orang Tua, Jalan Kesuksesan Anak
Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin Pusat, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, menyampaikan bahwa dalam refleksi Milad ke-33 ini ditegaskan kembali pentingnya keshalehan orang tua sebagai jalan kesuksesan anak, baik di dunia maupun di akhirat.
Menurut beliau, hal tersebut telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, di antaranya pada Surat Al-Kahfi ayat 82 tentang kisah dinding yang ditegakkan kembali oleh Nabi Khidir karena di bawahnya tersimpan harta milik dua anak yatim, dan disebutkan, “wa kana abuhuma shalihan” — ayah mereka adalah orang yang saleh. Selain itu, dalam Surat Ath-Thur ayat 21 Allah menjelaskan bahwa orang-orang beriman akan dipertemukan dengan keturunan mereka yang beriman di surga.

Ayat-ayat tersebut, jelasnya, menjadi pengingat bahwa keberkahan hidup seorang anak tidak terlepas dari kualitas iman dan keshalehan orang tuanya. Karena itu, ziarah ini bukan sekadar mengenang para pendahulu, melainkan momentum muhasabah bagi seluruh keluarga besar pesantren.
“PR terbesar kita setelah ziarah ini, khususnya sebagai orang tua, adalah bagaimana kita bersungguh-sungguh memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keshalehan. Dari situlah akan lahir generasi yang kuat imannya, kokoh ilmunya, dan luas manfaatnya bagi umat,” ungkap beliau.

Mudah-mudahan keberkahan ilmu dan perjuangan para pendahulu senantiasa menjadi cahaya yang menerangi perjalanan Pondok Pesantren Al-Muhajirin di masa mendatang. (*)
