
AL-MUHAJIRIN- Ramadhan yang penuh rahmat menghadirkan suasana khusyuk di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat. Jamaah kembali mengikuti pengajian rutin Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi yang dibawakan langsung oleh Pengasuh Pesantren KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA. Kajian pagi itu melanjutkan Bab Taubat, dari hadits ketiga hingga hadits kedelapan.
KH. Marpu mengatakan bahwa hadits ketiga tentang Allah yang lebih bahagia dengan taubat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan untanya di gurun luas bukan sekadar kisah perumpamaan biasa.
Beliau menjelaskan bahwa istilah “ardin falatin” menggambarkan gurun yang sangat luas hingga orang yang kehilangan untanya benar-benar putus asa. Unta di padang pasir bukan sekadar kendaraan, tetapi sumber keselamatan—bekal makanan dan minuman ada di sana. Ketika sudah tidak ada harapan, lalu tiba-tiba unta itu berdiri di hadapannya, kegembiraan orang tersebut meluap luar biasa hingga ia salah ucap karena saking bahagianya.
Menurut KH. Marpu, ungkapan “Allah lebih bahagia” adalah majaz agar manusia memahami betapa cepat dan besarnya penerimaan Allah terhadap taubat yang ikhlas. Penekanan pada kalimat “hina yatubu ilaih” menunjukkan bahwa taubat yang dimaksud adalah taubat yang berkualitas, bukan sekadar ucapan.
KH. Marpu mengatakan bahwa respon Allah terhadap taubat itu sangat cepat, tidak ditunda. Seperti orang yang sedang berdoa lalu langsung diijabah, demikian pula taubat yang sungguh-sungguh. Beliau mengingatkan agar tidak mempersulit dalam memahami sifat Allah; selama tauhid kokoh di hati, ungkapan-ungkapan seperti ini dipahami sebagai cara Rasulullah mengonkretkan sesuatu yang abstrak.
Beliau kemudian menjelaskan hadits berikutnya tentang Allah yang membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat.
KH. Marpu mengatakan bahwa ini adalah gambaran luasnya rahmat Allah. Artinya, taubat tidak boleh ditunda. Siang dan malam harus diisi dengan istighfar. Jangan menunggu waktu khusus saja; setiap saat adalah kesempatan kembali kepada Allah.
KH. Marpu mengatakan bahwa selama matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka. Dosa apa pun bisa diampuni jika ditaubati dengan memenuhi rukunnya.
Beliau menegaskan agar tidak berputus asa terhadap rahmat Allah. Bahkan ayat tentang dosa syirik yang tidak diampuni dipahami dalam konteks orang yang membawa syirik sampai mati tanpa taubat. Jika seseorang bertaubat sebelum ajal, maka rahmat Allah lebih luas dari segala dosa.
Beliau juga menjelaskan hadits tentang Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sampai pada sakaratul maut. KH. Marpu mengatakan bahwa ini bersifat individual. Sementara hadits tentang matahari terbit dari barat bersifat umum. Artinya, siapa yang lebih dahulu datang kepadanya—ajal atau tanda kiamat—itulah batas taubatnya. Karena kita tidak tahu kapan keduanya terjadi, maka jalan terbaik adalah bertaubat setiap hari.
Dalam hadits panjang tentang Zirr bin Hubais dan Safwan bin Assal, KH. Marpu mengatakan ada tiga pesan besar: ilmu, cinta, dan pintu taubat.
Ketika Zirr datang untuk bertanya tentang hukum mengusap khuf, Safwan menjawab bahwa malaikat membentangkan sayapnya untuk pencari ilmu. KH. Marpu mengatakan bahwa ini menunjukkan kemuliaan thalabul ilmi. Jangan memutuskan perkara agama sendiri ketika ragu, tetapi bertanyalah kepada yang alim.
Beliau kemudian menekankan sabda Rasulullah, “Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya.” KH. Marpu mengatakan bahwa cinta kepada Nabi, para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh adalah modal besar di akhirat.
Walaupun amal kita belum setara, cinta yang tulus bisa menyatukan kita dengan mereka kelak. Cinta itu diwujudkan dengan doa, husnuzan, dan tidak membenci sesama muslim. Bahkan beliau mengingatkan bahwa membenci kaum muslimin dan gemar memvonis adalah penyakit hati yang berbahaya.
Kemudian kisah pembunuh seratus orang. KH. Marpu mengatakan bahwa pelajaran terbesarnya adalah jangan salah memilih guru. Orang tersebut awalnya bertanya kepada rahib yang kurang ilmu sehingga ia semakin putus asa. Ketika bertanya kepada alim, ia diberi harapan dan diarahkan untuk hijrah ke lingkungan yang baik.
Taubat membutuhkan lingkungan dan pertemanan yang mendukung. Di tengah perjalanan, ketika ia wafat, malaikat rahmat dan azab berselisih hingga Allah memerintahkan bumi bergeser sejengkal agar ia lebih dekat ke negeri taubat. KH. Marpu mengatakan bahwa ini menggambarkan kekuatan iradah atau niat yang sungguh-sungguh. Allah melihat kesungguhan hati, bukan hanya amal yang telah sempat dilakukan.
Menutup kajian, KH. Marpu mengajak jamaah untuk melatih “otot taubat” dengan memperbanyak istighfar siang dan malam, membangun lingkungan yang baik, serta menjaga cinta kepada orang-orang saleh dan umat Nabi Muhammad.
Pengajian Ramadhan di Al-Muhajirin terus menjadi wasilah keberkahan bagi para santri dan jamaah, memperkuat semangat taubat dan keikhlasan di bulan suci ini.
Allahu Akbar. Barakallahu fiikum.
Wallahu a’lam bisshawab. (*)
