Halal Bihalal Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas Kisahkan Abu Dhamdham yang Dikagumi Malaikat

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA,

AL-MUHAJIRIN– Dalam tausiyah Halal Bihalal yang penuh hikmah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin untuk memperdalam makna saling membebaskan, khususnya dalam menjaga kehormatan sesama Muslim.

Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW tentang tiga hal yang haram dilanggar atas sesama Muslim: darah, harta, dan kehormatan.

Dua yang pertama—darah dan harta—relatif mudah dikenali. Orang sadar ketika melukai fisik atau mengambil hak materi orang lain. Namun yang ketiga, justru paling sering dilupakan.

“Kehormatan. Harga diri. Ini yang paling rentan,” ujar KH. Marpu.

Dari sinilah lahir larangan ghibah, namimah, mencela, mengejek, hingga merendahkan orang lain. Semua itu, hakikatnya, adalah pelanggaran terhadap kehormatan manusia. Padahal, menurutnya, dosa jenis ini justru paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari—bahkan di lingkungan terdekat.

Baca Juga:  Ketua KBIHU Al-Muhajirin Optimis Mendapatkan Penilaian Akreditasi yang Terbaik

“Mudah kita bilang minta maaf. Tapi menjaga agar tidak merendahkan orang lain—itu yang berat,” katanya.

Memperkuat pesan ini, KH. Marpu kemudian mengisahkan hadits tentang seorang sahabat bernama Abu Dhamdham yang membuat malaikat kagum.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, masih ingat hadits tentang Abu Dhamdham?” tanya beliau.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tidak mampu menjadi seperti Abu Dhamdham?” Para sahabat bertanya balik, “Siapakah Abu Dhamdham itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Abu Dhamdham ini dikagumi oleh malaikat.”

KH. Marpu melanjutkan, “Bapak-Ibu. Biasanya kita yang kagum kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk agung ciptaan Allah, suci, tidak punya nafsu, nol cacat, nol hate. Kalau ada model full cacat, ya iblis. Kita diberi dua cermin: malaikat dan iblis. Tapi di sini malah terbalik — malaikat yang kagum kepada seorang manusia bernama Abu Dhamdham.”

Baca Juga:  Kajian Tafsir Juz Amma Ramadhan Al-Muhajirin Pusat: Surah Al-Insyirah & At-Tin Bersama KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA

Menurut Rasulullah SAW, setiap pagi dan sore Abu Dhamdham mengawali harinya dengan berdoa:
“Ya Allah, aku sedekahkan kehormatanku (irdi) kepada siapa pun dari kaum Muslimin.”

KH. Marpu menjelaskan dengan hati-hati, “Ini bukan berarti ‘jual kehormatan’. Bahasanya harus hati-hati karena konteks sosialnya rawan.”

Beliau memberikan analogi yang sederhana:
“Sama seperti kalau kita punya jamuan makanan, lalu kita katakan ‘Aku halalkan makanan ini untuk siapa pun yang datang.’ Maka orang yang makan tidak perlu minta maaf lagi, sudah halal. Nah, Abu Damdam mengalihkan itu ke urusan batin. Beliau tidak bicara makanan, tapi bicara kehormatan yang asalnya haram dilanggar — digunjing, direndahkan, dicurangi, atau dizalimi.”

Baca Juga:  STAI Al-Muhajirin Purwakarta Akhiri Kegiatan Kuliah Pengabdian Umat dengan Dakwah di Berbagai Desa

Maknanya yang dalam:
“Ya Allah, siapa pun kaum Muslimin yang menzalimiku, menggunjingku, mencurangiku, atau menyakitiku — aku maafkan dia. Aku tidak akan menuntut balasannya kelak di akhirat.”

Sikap pemaaf dan lapang dada inilah yang membuat malaikat terkagum-kagum. “Malaikat berkata, ‘Wah, hebat sekali orang ini. Saya (malaikat) tidak diberi nafsu, jadi mudah tidak marah. Tapi dia diberi nafsu, tetap bisa seperti ini. Keren banget!’”

KH. Marpu menutup tausiyahnya dengan harapan:
“Mudah-mudahan seluruh keluarga besar Al-Muhajirin, khususnya di kampus 1 — para guru, staf, dan karawannya — bisa menjadi orang yang dikagumi malaikat. Amin.” (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *