
AL-MUHAJIRIN — Festival Syiar Syair 2026 SMP–MTs Al-Muhajirin Pusat Purwakarta tak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga panggung peneguhan nilai dakwah melalui seni. Hal itu ditegaskan Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., dalam sambutannya di hadapan ratusan peserta dan tamu undangan, Sabtu (11/4/2026).
Dengan penuh semangat, beliau mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum festival ini sebagai bagian dari syiar Islam yang membahagiakan.
“Syiar itu adalah identitas kita sebagai pesantren. Dan syiar akan semakin indah ketika dilantunkan melalui seni. Karena Allah itu indah dan menyukai keindahan,” ujarnya.

Seni Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Media Dakwah
Dalam arahannya, Hj Ifa menekankan bahwa seni Islami seperti qasidah, hadroh, dan marawis tidak boleh berhenti pada aspek hiburan semata. Lebih dari itu, seni harus menjadi sarana dakwah yang menyentuh hati.
“Kalau seni hanya sekadar seni, maka akan menjadi sia-sia. Tapi ketika seni digunakan untuk dakwah, maka itu menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah,” tegasnya.
Festival Syiar Syair sendiri menghadirkan berbagai cabang lomba seperti Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), kaligrafi, pildacil, serta seni musik Islami, yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Bonus Demografi Harus Dijawab dengan Pembinaan
Dalam sambutannya, Hj Ifa juga menyoroti pentingnya pembinaan generasi muda di tengah bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini.
Menurutnya, jumlah generasi muda yang besar bisa menjadi kekuatan, namun juga berpotensi menjadi masalah jika tidak diarahkan dengan baik.
“Kita punya banyak kader muda. Kalau tidak kita dorong dan maksimalkan, ini bisa menjadi musibah. Maka kegiatan seperti ini adalah bagian dari ikhtiar kita menyiapkan generasi yang kuat,” ungkapnya.
Beliau juga mengingatkan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari pergaulan bebas hingga penyalahgunaan narkoba, yang harus diantisipasi melalui pendidikan berbasis nilai.

Tiga Pilar Pendidikan Al-Muhajirin
Lebih jauh, Hj Ifa memaparkan tiga prinsip utama pendidikan di Al-Muhajirin, yaitu:
- Tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu agama),
- Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa),
- Ad-da’wah ilallah (dakwah menuju Allah).
Menurutnya, ketiga pilar ini menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berperan aktif dalam dakwah.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya punya ilmu. Harus ada tazkiyatun nafs, agar mereka sadar untuk apa hidup dan ke mana akan kembali,” jelasnya.

Apresiasi dan Beasiswa bagi Para Juara
Sebagai bentuk dukungan nyata, pihak yayasan juga menyiapkan apresiasi khusus bagi para pemenang lomba. Juara terbaik akan mendapatkan keringanan biaya pendidikan di Al-Muhajirin.
“Juara 1 akan mendapatkan bebas uang bangunan, juara 2 dan 3 juga mendapatkan keringanan. Ini bagian dari komitmen kami dalam mendukung kader-kader terbaik,” ungkapnya.

Al-Muhajirin Pusat Jadi Pusat Keunggulan
Di akhir sambutannya, Hj Ifa menegaskan komitmen Al-Muhajirin untuk terus menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing, baik di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.
Beliau menyebut, kini nama Al-Muhajirin semakin dikenal sebagai representasi Purwakarta dalam berbagai ajang prestasi.
“Dulu mungkin nama sekolah lain yang sering disebut. Tapi sekarang, Alhamdulillah, Al-Muhajirin selalu hadir di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional. Ini bagian dari dakwah kita,” tuturnya.
Festival Syiar Syair 2026 pun menjadi bukti nyata bagaimana pesantren mampu menghadirkan dakwah yang sejuk, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman—melalui harmoni antara nilai agama dan keindahan seni.
Festival Syiar Syair sendiri merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan SMP–MTs Al-Muhajirin Pusat Purwakarta dan diikuti ratusan pelajar tingkat SD/MI/MDTU/TPQ se-Jawa Barat. Dalam kegiatan ini, para peserta berkompetisi dalam berbagai cabang lomba, mulai dari Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), kaligrafi, da’i cilik (pildacil), hingga seni musik Islami seperti qasidah, hadroh, dan marawis. Melalui ajang ini diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berakhlak, mencintai Al-Qur’an, serta mampu menyampaikan nilai-nilai dakwah melalui seni yang indah dan bermakna. (*)
