Halal Bihalal Alumni Al-Muhajirin: Syaikhuna KH Abun Bunyamin Tekankan Identitas Santri, Ibadah, dan Akhlak Sepanjang Hayat

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA.

ALMUHAJIRIN— Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Masjid At-Tazkiyah Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat pada Minggu, 5 April 2026. Alumni dari berbagai angkatan berkumpul dalam acara Halal Bihalal, mempererat silaturahmi sekaligus meneguhkan kembali jati diri sebagai santri. Hadir Ketua Yayasan Al-Muhajirin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, Ketua Umum ISMI (Ikatan Santri Alumni Al-Muhajirin) KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas MA.

Acara dibuka dengan tausiyah dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin., MA. Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa identitas sebagai santri tidak pernah benar-benar hilang.

“Santri mah teu aya istilah mantan. Santri tetap santri, sanajan ayeuna keur ‘nganjang’ ka luar,” tuturnya, disambut senyum dan anggukan para alumni.

Menurut beliau, sejauh apa pun seseorang melangkah, akan selalu ada momen kembali—kembali pada kesadaran, kembali pada nilai-nilai yang pernah ditanamkan di pesantren.

Ibadah: Fondasi yang Tak Boleh Runtuh

Syaikhuna menekankan pentingnya menjaga disiplin ibadah, sebagaimana yang telah dilatih selama di pesantren—mulai dari shalat wajib, qobliyah, tahajud, hingga dhuha. Ia mengingatkan agar jangan sampai semangat ibadah justru menurun setelah kembali ke masyarakat.

“Ibadah itu pondasi. Kalau yang sunnah saja hilang, jangan sampai yang wajib ikut terbengkalai,” pesannya.

Baca Juga:  Membanggakan! Tim LKBB SD Plus Al-Muhajirin Raih Juara 1 Tingkat Jawa Barat di ISSAC III Al-Aqsha Sumedang

Beliau juga mengajak para alumni untuk senantiasa dekat dengan ulama dan kiai. Kedekatan itu, menurutnya, bukan hanya memperkaya ilmu, tetapi juga menumbuhkan kesalehan dalam diri.

Tiga Pilar Kemajuan Pesantren

Dalam kesempatan tersebut, Syaikhuna menyebut tiga komponen utama yang menjadi penopang keberlangsungan dan kemajuan pesantren: zuriyah (keturunan), alumni, dan muhibbin (para pecinta pesantren).

“Majunya pondok itu bergantung pada tiga hal itu. Setelah zuriyah, alumni punya peran besar. Kalau alumni tidak peduli, itu tanda kurangnya rasa memiliki,” tegasnya.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi para alumni untuk tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga berkontribusi nyata dalam menjaga dan mengembangkan pesantren.

Akhlak: Ilmu yang Paling Terlihat

Lebih jauh, Syaikhuna menegaskan bahwa akhlak adalah cerminan utama seorang santri. Berbeda dengan ilmu yang tidak selalu tampak, akhlak akan langsung terlihat oleh siapa pun.

“Ilmu bisa tersembunyi, tapi akhlak pasti terlihat. Bahkan orang yang tidak berilmu pun bisa menilai akhlak seseorang,” ujarnya.

Beliau mengingatkan pentingnya akhlak dalam berbagai aspek kehidupan—kepada orang tua, guru, keluarga, tetangga, hingga kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan.

Mengutip nilai-nilai Al-Qur’an, beliau menyoroti beberapa sikap utama yang harus diamalkan: menjadi pribadi yang lembut, pemaaf, gemar bermusyawarah, bertawakal, serta dermawan baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Baca Juga:  Ketua Yayasan Al-Muhajirin : Pembelajaran Al-Quran Merupakan Bagian dari Kurikulum Muatan Khusus Yayasan

“Yang sulit itu bukan tahu ayatnya, tapi mengamalkannya,” ungkapnya.

Menjadi Muhsinin: Baik Meski Disakiti

Salah satu pesan yang paling ditekankan adalah menjadi pribadi muhsinin—orang yang terus berbuat baik, bahkan kepada mereka yang tidak berbuat baik.

“Jangan hanya baik kepada yang baik. Itu biasa. Yang luar biasa adalah tetap baik meski disakiti,” katanya.

Menurutnya, inilah bentuk keistiqamahan sejati: kebaikan yang lahir dari dalam diri, bukan sebagai reaksi terhadap perlakuan orang lain.

Tawakal yang Aktif

Syaikhuna juga meluruskan pemahaman tentang tawakal. Ia menegaskan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha.

“Tawakal itu bukan diam. Unta harus diikat dulu, baru tawakal,” ujarnya memberi perumpamaan.

Beliau mengkritik sikap pasif yang sering disalahartikan sebagai tawakal, serta mengajak alumni untuk tetap bekerja, berusaha, dan mandiri dalam kehidupan.

Empat Tugas Seorang Santri

Di akhir tausiyahnya, beliau merangkum empat tugas utama seorang santri: beribadah, terus belajar, berdakwah, dan bekerja.

Belajar, menurutnya, tidak boleh berhenti. Bahkan hingga usia lanjut, seseorang tetap harus meningkatkan kapasitas diri. Dakwah pun tidak selalu lewat ceramah, tetapi bisa melalui tindakan, tulisan, hingga media sosial.

Baca Juga:  Halal Bihalal Al-Muhajirin Pusat: KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA: Doa Orang Tua, “Tiket Langit” untuk Masa Depan Anak

“TikTok oge tiasa janten dakwah, asal eusina dakwah,” ujarnya ringan, disambut tawa jamaah.

Sementara itu, bekerja menjadi bagian penting dari kemandirian. Rasulullah, lanjutnya, tidak menyukai umat yang bermalas-malasan.

Ikhlas dan Bakti kepada Orang Tua

Pesan lain yang tak kalah penting adalah tentang keikhlasan dan bakti kepada orang tua. Ia menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua sering kali lebih utama daripada memenuhi undangan kegiatan, termasuk kegiatan alumni.

“Ngurus indung nu keur teu damang, itu bisa lebih besar barokahnya daripada hadir ke acara,” tuturnya.

Syaikhuna juga mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keberkahan ilmu dan ridha orang tua.

Acara ditutup dengan doa bersama, mushafahah, dan sesi foto yang penuh kehangatan. Para alumni pulang dengan membawa bukan hanya kenangan, tetapi juga penguatan nilai—bahwa menjadi santri adalah perjalanan seumur hidup.

Silaturahmi hari itu bukan sekadar temu kangen, tetapi juga pengingat: jalan santri adalah jalan ibadah, ilmu, akhlak, dan pengabdian yang tak pernah usai. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *