Kajian Tafsir Juz Amma Ramadhan Al-Muhajirin Pusat: Surah Al-Insyirah & At-Tin Bersama KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN– Menjelang waktu berbuka puasa 7 Ramadhan 1447 H, suasana di Masjid Al-Muchtar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat Purwakarta dipenuhi kekhidmatan. Para santri berkumpul untuk mengikuti kajian Tafsir Juz Amma yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

Kajian rutin yang menjadi program unggulan di bulan Ramadhan ini menghadirkan pendalaman makna ayat-ayat Al-Qur’an, sekaligus mengajak para santri mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal membangun karakter mukmin yang kokoh.

Dalam sesi kali ini, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA, melanjutkan tafsir Surah Al-Insyirah (Asy-Syarh) dan Surah At-Tin. Dengan penyampaian yang mudah dipahami, dan diselingi analogi sederhana, beliau mengajak para santri untuk merenungkan janji Allah atas kemudahan setelah kesulitan, serta keagungan ciptaan manusia yang harus dijaga dengan iman dan amal saleh.

“Ini adalah surat cinta dari Allah untuk Nabi SAW dan umatnya,” ujar beliau, menekankan bagaimana ayat-ayat ini menjadi sumber motivasi bagi siapa saja yang sedang menghadapi cobaan hidup.

KH. Marpu memulai dengan mengulang terjemahan Surah Al-Insyirah, mengajak para santri membaca bersama untuk menghafalnya. Fokus utama adalah ayat-ayat yang menunjukkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW, seperti “Warafa’na laka zikrak” (Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu).

Dijelaskan bahwa ini adalah dalil keagungan nama Nabi SAW di antara para nabi lainnya. “Nama Rasulullah adalah nama yang paling agung di antara makhluk. Sebelum beliau lahir, namanya sudah tertulis di Arasy: La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Bahkan Nabi Adam tawasul dengan nama itu untuk diterima taubatnya,” paparnya.

Baca Juga:  Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin Tabuh Gong, Resmi Buka Rangkaian Milad ke-33 Al-Muhajirin di Kampus 3

KH Marpu memberikan contoh nyata: Nama Nabi SAW disebut berulang kali setiap hari melalui azan, iqamah, tasyahud, shalawat, khotbah, dan doa. “Tidak ada nama yang disebut miliaran kali sehari selain nama beliau. Ini bukti janji Allah: Warafa’na laka zikrak.” Para santri diajak merenung bagaimana nama Nabi SAW bahkan melampaui Sidratul Muntaha saat Isra’ Mi’raj, menjadi simbol keagungan yang tak tertandingi.

Selanjutnya, KH Marpu membahas ayat inti: “Fa inna ma’al usri yusra, inna ma’al usri yusra” (Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan).

KH. Marpu menekankan rumus ilahi ini: “Bersama satu kesulitan, Allah siapkan dua kemudahan besar.” Beliau mengilustrasikan dengan perjuangan Nabi SAW di Makkah yang penuh kesulitan, tapi diikuti kemudahan hijrah ke Madinah dan penyebaran Islam ke seluruh dunia.

“Ini janji Allah untuk umat Nabi SAW. Apapun kesulitanmu—sulit memahami pelajaran, sulit menghafal, sulit biaya, atau sakit—yakinlah ada dua kemudahan di baliknya,” pesannya kepada para santri.

Beliau mengajak para santri mengimani ayat ini dengan hati: “Katakan dalam hati, ‘Ya Allah, aku beriman pada janji-Mu dalam ayat ini. Aku percaya bersama satu kesulitan ada dua kemudahan.'”

Contoh praktis untuk santri: Kesulitan antri makan atau dibangunkan subuh adalah tiket menuju kemudahan di masa dewasa, seperti prestasi dan kenyamanan hidup.

Baca Juga:  Agenda Al-Muhajirin Pusat Semarakkan Milad ke-33 Pondok Pesantren Al-Muhajirin

KH. Marpu menambahkan penjelasan mendalam tentang makna “ma’a” (bersama) dalam ayat “Fa inna ma’al usri yusra”. Kata “ma’a” menunjukkan bahwa kemudahan datang begitu cepat setelah atau bahkan menyertai kesulitan, sehingga terasa seperti “bareng”. Saking dekatnya waktunya, seperti kemudahan sudah ada di samping kesulitan itu sendiri.

“Seperti kalau kita bilang masuk masjid bareng, padahal enggak persis bareng, tapi terasa bareng karena dekat waktunya.”

“Jadi hadapi saja, jangan lari. Satu kesulitan lawan dua kemudahan—yang menang pasti kemudahan” tambahnya sambil tersenyum seraya bertanya kepada santri kelas 7: “Sudah alami kesulitan sejak SD? Iya, tapi itu bagian hidup. Simpan ayat ini di hati, hadapi dengan happy.”

Ayat penutup, “Fa idza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab” (Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap), menjadi pesan akhir.

“Hidup di dunia ada capek (nasab), jatuh (khafadh), diam (jazm), tapi di akhirat semuanya rafa’—nyaman dan mulia. Praktiknya: Banyak berdoa! Hanya tiga yang tak boleh diminta: kematian, maksiat, dan keburukan bagi kerabat. Selain itu, minta apa saja—biaya, nikah, masjid baru—semua boleh, karena Allah bilang ‘wa ila rabbika farghab’.”

Tafsir Surah At-Tin: Keagungan Ciptaan Manusia dan Pilihan Hidup

Baca Juga:  Guru SD Plus Al Muhajirin Perkuat Akidah melalui Kajian Tauhid Bersama KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA

Melanjutkan ke Surah At-Tin, KH Marpu menerjemahkan ayat demi ayat: “Wat-tini waz-zaitun, wa turi sinina, wa hadzal baladil amin” (Demi buah tin dan zaitun, demi Bukit Tursina, demi negeri yang aman ini—Makkah). “Ini sumpah Allah atas keagungan ciptaan-Nya,” jelasnya.

Ayat inti: “Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim” (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). KH. Marpu menguraikan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna, seimbang, dan proporsional. Namun, “Thumma radadnahu asfala safilin” (Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya), kecuali “illalladzina amanu wa ‘amilush shalihat” (kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh). “Mereka mendapat pahala yang tak terputus (ajrun ghairu mamnun).”

Beliau menekankan pilihan hidup: “Manusia bisa jatuh ke asfala safilin karena maksiat, atau naik ke derajat mulia dengan iman dan amal. Apa yang membuatmu menolak agama (fama yukadzibuka ba’du biddin)? Bukankah Allah Hakim yang paling bijaksana (alaisallahu bi ahkamil hakimin)?” Ini menjadi peringatan bagi santri untuk menjaga keseimbangan hidup di pesantren, di mana kesulitan seperti aturan ketat adalah jalan menuju kemuliaan.

Kajian diakhiri dengan bacaan bersama surah-surah tersebut. Semoga kegiatan ini menjadi bekal spiritual yang menguatkan para santri dalam menapaki jalan ilmu dan iman di bulan suci Ramadhan. Barakallahu fiikum. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *