Membawa Cahaya Pesantren ke Rumah: Catatan Khidmat dari Malam Muwadaah Al-Muhajirin Pusat

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, saat menyampaikan tausiyah pada Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail di Lapangan Al-Muchtar Al-Muhajirin Kampus Pusat, Kamis (18/6/2026). Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengajak para santri untuk senantiasa hidup bersama Al-Qur’an, menjaga ibadah dan akhlak, serta menjadi anak saleh yang mampu membahagiakan kedua orang tua. Beliau menegaskan, kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang dekat dengan Al-Qur’an dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada agama, bangsa, dan umat.

AL-MUHAJIRIN – Suasana khidmat, hangat, dan penuh haru menyelimuti Lapangan Al-Muchtar, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat pada Kamis malam, 18 Juni 2026. Bertepatan dengan malam 2 Muharram 1448 Hijriah, ribuan santri, asatidz, berkumpul dalam Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail Tahun Ajaran 2025–2026.

Momentum ini bukan sekadar seremoni perpisahan menyambut masa liburan, melainkan ruang refleksi mendalam atas perjalanan spiritual, pendidikan, dan pembentukan karakter santri selama satu tahun penuh.

Acara dibuka dengan syahdu melalui untaian basmalah dan salam penghormatan kepada para masyayikh, pimpinan, dan tamu undangan. Suasana kian khusyuk saat lantunan hadrah dan tawasul menggema, menghantarkan Surah Al-Fatihah untuk Rasulullah SAW, para nabi, ulama, auliya, pendiri Nahdlatul Ulama, guru, hingga orang tua. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat bersama “Ya Nabi Salam Alaika” yang dilakukan sembari berdiri menyempurnakan atmosfer religius malam itu.

Hidup Bersama Al-Qur’an: Pesan Mendalam dari Syaikhuna

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, hadir menyampaikan tausiyahnya. Beliau menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai poros utama kehidupan.

Syaikhuna memuji ketangguhan para santri yang siang dan malamnya dihabiskan untuk menuntut ilmu.

“Tidak ada yang paling hebat dan paling kuat kecuali santri di pondok. Tidur sebentar, makan sedikit, tetapi siang dan malam dihabiskan untuk belajar,” ujar beliau hangat.

Mengenang perjalanan hidupnya yang besar di lingkungan pesantren, Syaikhuna membagikan filosofi hidupnya:

“Tiada hari tanpa membaca, tiada hari tanpa mendengarkan, tiada hari tanpa mengajar, dan tiada hari tanpa menulis. Itulah sesungguhnya arti hidup.”

Beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati diraih saat seseorang hidup berdampingan dengan Al-Qur’an melalui lima kewajiban: membaca, menghafal, memahami, mengamalkan, dan mendakwahkannya. Santri Al-Muhajirin juga diminta menjaga identitas diri dengan memegang teguh motto Al-Muhajirin; Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf, dan Beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Baca Juga:  TK Al-Muhajirin Pusat Purwakarta Gelar Munaqosyah, Tanamkan Cinta Al-Qur’an Sejak Usia Dini

Sebagai bekal pulang, Syaikhuna membagikan resep batin agar hati senantiasa dipenuhi cahaya, yaitu merutinkan tiga amalan:

  1. Bangun malam (tahajud) walau hanya dua rakaat.
  2. Membaca Al-Qur’an setiap hari walau hanya satu ayat.
  3. Bersedekah secara istiqamah walau dalam jumlah sedikit.

Seraya berpesan agar para santri pulang untuk membahagiakan orang tua dengan akhlak dan ibadah terbaik.

Apresiasi Prestasi: Deretan Juara Umum Santri

Sesi yang dinanti pun tiba. Panitia mengumumkan para peraih predikat Juara Umum sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi akademik dan nonakademik santri selama setahun terakhir:

Juara Umum Santri Putri:

  • Syahra Nurfajana (Kelas 1)
  • Aulia Syifa Azzahra (Kelas 2)
  • Gina Fatimah Azzahra (Kelas 4)
  • Lukyana Naura Saifudin (Kelas 5)
Baca Juga:  Mantap! SMP Al Muhajirin Purwakarta Raih Juara 2 di Divisi 1 Liga Futsal Purwakarta 2024, Bahrun Amik Jadi Top Skor

Juara Umum Santri Putra:

  • Raffi Alkatiri Suryana (Kelas 7)
  • Muhammad Alin Ramdani (Kelas 8)
  • Muhammad Fauzan Rahman Hidayat (Kelas 10)
  • Ibnu Munim Asiri (Kelas 11)

Setelah prosesi foto bersama pimpinan pesantren, panggung malam itu kian semarak dengan penampilan seni memukau dari santri putri.

Rumah dan Masyarakat: Ujian Santri yang Sesungguhnya

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., memberikan taujihat yang menyalakan semangat. Beliau mengingatkan bahwa liburan bukanlah akhir dari belajar, melainkan medan pembuktian yang sesungguhnya.

“Pembiasaan yang kita lakukan di pesantren, ujian terbesarnya justru ketika kita ada di rumah. Kalau kalian bisa lebih baik, lebih semangat lagi belajarnya, ngajinya, dakwahnya, dan taklimnya di rumah, maka itulah kebahagiaan terbesar bagi orang tua kalian.”

Beliau berharap santri mampu menjadi uswah hasanah (teladan baik) di tengah masyarakat. Mengibaratkan santri seperti pohon beringin, Hj. Ifa menyebut pesantren adalah tempat memperluas wawasan agar santri tumbuh menjadi pribadi besar yang teduh dan bermanfaat luas. Segala kesederhanaan di pondok, menurutnya, adalah proses menempa mental dan ketangguhan. “Tidak ada yang sia-sia di pesantren,” imbuhnya.

Jangan Minder Menjadi Santri!

Usai pembagian hadiah untuk berbagai jenjang santri putri (mulai dari Tahsin hingga Takhasus Kitab), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, menyampaikan mau’idzah hasanah yang sarat motivasi.

Baca Juga:  Do'a Bersama, Yasinan danTahlil Hari ke 7. Ribuan Jama'ah do'akan Alm. KH. Anang Nasihin

Beliau mengisahkan beratnya perjuangan awal dakwah Rasulullah SAW di Makkah yang penuh boikot dan tekanan, namun Rasulullah tidak pernah menyerah. Berkaca dari sejarah tersebut, beliau berpesan:

“Jangan minder menjadi santri. Jangan minder menjadi bagian dari pesantren. Islam yang hari ini sampai ke Purwakarta, Subang, Karawang, dan ke kampung-kampung kita, semuanya berawal dari kelompok kecil yang istiqamah bersama Rasulullah.”

Beliau mengajak santri memanfaatkan waktu libur untuk bermuhasabah. Santri yang cerdas adalah mereka yang mampu membaca diri sendiri serta menjaga ikatan spiritual dengan guru dan Allah SWT. Beliau juga mengingatkan santri untuk tidak melewatkan puasa Asyura pada 10 Muharram nanti.

Acara diakhiri dengan pengumuman kejuaraan santri putra, penyerahan sertifikat, dan sesi foto bersama. Malam Muwadaah ini ditutup dengan doa bersama. Para santri dilepas pulang membawa pesan indah: pulanglah dengan niat yang baik, jaga amaliah harian, hormati orang tua, dan kembalilah nanti ke pesantren dengan semangat baru.

Sebab, esensi seorang santri tidak diukur saat mereka berada di dalam pagar pesantren, melainkan ketika ilmu yang didapat telah menjelma menjadi akhlak nyata di tengah keluarga dan masyarakat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *