Pengajian Ramadan Kitab Riyadus Sholihin Al-Muhajirin Pusat: Menguasai Nafsu Saat Marah dan Hikmah Sabar dalam Ujian Hidup

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRINMajelis Pengajian Ramadan Kitab Riyadus Sholihin di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali digelar dengan suasana penuh semangat dan penghayatan, Sabtu (7/3/2026). Dalam lanjutan kajian Bab Sabar, KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA mengupas berbagai hadis tentang hakikat kekuatan sejati, cara meredam amarah, hikmah musibah sebagai penghapus dosa, hingga pandangan Rasulullah tentang tantangan sosial di masa mendatang.

Sejak awal pengajian, KH Marpu menekankan pentingnya memperbaiki cara pandang dalam memahami ajaran agama. Menurut beliau, banyak persoalan akhlak berawal dari kesalahan dalam memahami definisi suatu konsep.

“Banyak problem dalam kehidupan beragama muncul dari kesalahan definisi. Zaman sekarang terjadi krisis ontologis: apa sebenarnya makna ikhlas, tobat, atau sabar,” ujar beliau.

Kekuatan Sejati adalah Mengalahkan Diri Sendiri

Salah satu hadis utama yang dibahas adalah sabda Rasulullah:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan, tetapi yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”

Menurut KH Marpu, hadis ini mengoreksi cara pandang umum tentang makna kekuatan.

“Kita sering menganggap kuat itu mampu mengalahkan orang lain. Padahal Rasulullah mengajarkan bahwa kekuatan sejati adalah mengalahkan diri sendiri ketika emosi memuncak,” jelasnya.

Dengan mengubah pola pikir ini, seseorang akan lebih mudah melatih kesabaran dalam menghadapi berbagai situasi yang memancing emosi.

Cara Meredam Marah

Dalam hadis lain diceritakan dua orang sahabat yang saling mengejek hingga salah satunya sangat marah—wajahnya memerah dan urat lehernya menonjol. Melihat hal itu, Rasulullah menyampaikan bahwa ada kalimat yang dapat meredakan amarah:

Baca Juga:  Menggali Adab Guru Terhadap Diri Sendiri: Kajian Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim di Al-Muhajirin 3 bersama Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA

“A‘udzubillahi minas syaithanir rajim.”

Menariknya, nasihat itu tidak disampaikan langsung oleh Rasulullah kepada orang yang marah, melainkan melalui sahabat lain. Dari sini, KH Marpu menjelaskan hikmah penting dalam menghadapi orang yang sedang emosi.

“Orang yang marah akalnya sedang turun, nafsunya naik. Kalau langsung dinasihati, sering kali malah makin tersinggung. Kadang perlu orang ketiga untuk menyampaikan,” terangnya.

Menahan Marah Mendatangkan Kemuliaan

Beliau juga mengutip hadis tentang keutamaan menahan amarah. Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang mampu menahan marah padahal mampu melampiaskannya akan dipanggil oleh Allah di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat dan diberi kehormatan memilih kenikmatan surga.

Pesan ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan sekadar menahan emosi, tetapi investasi pahala yang sangat besar di akhirat.

Wasiat Singkat Rasulullah: Jangan Marah

Dalam hadis lain, seorang sahabat meminta nasihat kepada Rasulullah. Jawaban beliau sangat singkat: “Jangan marah.” Wasiat ini bahkan diulang beberapa kali.

KH Marpu menjelaskan bahwa singkatnya nasihat ini menunjukkan kedalaman maknanya.

“Banyak kerusakan akhlak berasal dari marah yang tidak terkendali. Karena itu Rasulullah menegaskan berkali-kali: jangan marah,” ujarnya.

Baca Juga:  LTTQ Al-Muhajirin Purwakarta Selenggarakan Dauroh Tuhfatul Athfal & Ghoroib Al-Qur'an, Program Spesial Ramadhan untuk Masyarakat

Beliau juga mengingatkan bahwa ibadah puasa sejatinya adalah latihan besar untuk mengendalikan emosi.

Musibah sebagai Pembersih Dosa

Pengajian kemudian berlanjut pada hadis yang menjelaskan bahwa berbagai ujian yang menimpa seorang mukmin—baik pada diri, keluarga, maupun hartanya—akan terus berlangsung hingga ia bertemu Allah dalam keadaan bersih dari dosa.

Menurut KH Marpu, perspektif ini penting untuk menumbuhkan sikap positif terhadap musibah.

“Musibah itu bukan sekadar ketidaknyamanan. Ia adalah proses pembersihan dosa. Dengan cara berpikir seperti ini, kita belajar melihat ujian sebagai rahmat,” jelasnya.

Keteladanan Umar dalam Mengendalikan Marah

Beliau juga mengulas kisah Umar ibn al-Khattab yang pernah ditegur keras oleh seseorang bernama Uyainah ibn Hisn. Umar sempat marah, tetapi segera menahan diri ketika diingatkan dengan ayat Al-Qur’an tentang memaafkan dan menghindari orang-orang bodoh.

“Ini menunjukkan bahwa potensi marah ada pada siapa saja, bahkan pada sahabat besar seperti Umar. Bedanya, orang saleh memiliki jarak yang sangat dekat antara marah dan kesadaran,” ujar KH Marpu.

Tantangan Zaman Individualisme

Dalam hadis lain Rasulullah juga memberi isyarat bahwa setelah beliau wafat akan muncul masa yang dipenuhi asarah, yaitu kecenderungan individualisme dan monopoli kepentingan.

Menghadapi situasi seperti itu, Rasulullah mengajarkan sikap sabar: menunaikan kewajiban dengan baik dan menyerahkan urusan hak kepada Allah.

Baca Juga:  Dr Hj Ifa Faizah Sambut Hangat Talk Show Inspiratif Bersama Presiden OTAi Group Malaysia di Purwakarta

KH Marpu menafsirkan bahwa pesan ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern.

“Fokuslah memperbaiki diri dan memberi solusi bagi umat. Jangan habiskan energi untuk kemarahan yang tidak produktif,” katanya.

Ragam Tingkatan Sabar

Dalam penutup kajian, beliau mengutip klasifikasi sabar menurut Sayyidi Abdul Salam Syit, yang meliputi:

  1. Sabar membersihkan hati dari hawa nafsu dan godaan dunia.
  2. Sabar dalam hubungan dengan Allah, dengan tidak mencurigai keputusan-Nya.
  3. Sabar dalam berinteraksi dengan manusia tanpa menyakiti orang lain.
  4. Sabar dalam perjuangan hidup, termasuk mencari nafkah dan menghadapi berbagai kesulitan.

Sementara itu, tingkat sabar manusia juga berbeda-beda. Ada yang sekadar menahan keluh kesah, ada yang sampai pada tingkat ridha terhadap takdir, bahkan ada yang mencapai derajat cinta terhadap segala ketentuan Allah.

Pengajian kemudian ditutup dengan doa Ramadan hari ke-17 yang berisi permohonan ampunan, keridaan Allah, serta kesadaran atas berbagai kekurangan diri. Majelis diakhiri dengan doa bersama dan pembacaan Al-Fatihah.

KH Marpu juga mengingatkan bahwa rangkaian pengajian Ramadan akan segera memasuki penutup, disertai kegiatan khataman kajian dan buka puasa bersama.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kemampuan mengendalikan amarah, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta keyakinan yang membuat setiap musibah terasa ringan. Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *