
AL-MUHAJIRIN- Jika sinyal telepon genggam terputus di saat urusan sedang menumpuk, maka kekacauan akan semakin menjadi. Komunikasi terhambat, koordinasi terganggu, dan persoalan terasa berlipat. Demikian pula hubungan manusia dengan Allah SWT. Ketika koneksi ruhani melemah atau bahkan terputus, maka urusan hidup akan terasa semakin berat, sempit, dan melelahkan.
Ketua Yayasan Al-Muhajurin Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd mengatakan, karena itu, lapangkanlah terlebih dahulu hatimu bersama Allah. Hadirkan Allah dalam kesadaran terdalam, sebelum engkau berusaha melapangkan urusan-urusan dunia. Sebab ketika hati telah tersambung dengan Allah, maka Allah-lah yang akan memudahkan segala urusanmu.
Jangan hanya sibuk menyelesaikan masalah, namun jauh dari Allah. Sebab keberhasilan tanpa keberkahan hanyalah kemenangan semu. Namun ketika urusan dijalani dalam kedekatan dengan Allah, insyaallah bukan hanya misi yang tercapai, tetapi keberkahan pun akan mengiringinya.
Kelapangan jiwa tidak hadir secara instan. Ia membutuhkan latihan yang terus-menerus. Inilah riyāḍah—proses penempaan diri—dan tajribah, pengalaman ruhani yang berulang, hingga hati menjadi matang, tenang, dan kokoh dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Selama manusia masih sibuk membicarakan hak-haknya di dunia, ia akan tetap terkungkung dalam batasan-batasan kecil. Namun ketika seseorang mulai berbicara tentang hak Allah sebagai Al-Khāliq dan dirinya sebagai hamba, maka ia akan dibesarkan oleh kebesaran Allah itu sendiri. Hatinya naik, pandangannya luas, dan langkahnya menjadi bermakna.
Dunia ini adalah panggung Allah, bukan panggung kita. Kita hanyalah pemain dalam skenario-Nya. Maka jangan pernah keluar dari ketetapan dan kehendak Allah, sebab ketika manusia memaksakan skenario sendiri, kekacauanlah yang akan terjadi.
Perbaikilah kewajiban kita secara pribadi: kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, kepada keluarga, dan kepada amanah-amanah yang dibebankan kepada kita. Sesungguhnya, dengan memperbaiki diri secara personal, kita sedang memperbaiki urusan umat secara luas.
Segala perubahan besar selalu bermula dari pribadi-pribadi yang saleh.
Dari ‘ibādus shāliḥīn, lahirlah imāmul muttaqīn.
Dari ketekunan, lahirlah ‘ulamā’ul ‘āmilīn.
Kuncinya adalah kesatuan ilmu, dzikir, dan amal.
Maka teruslah melangitkan doa, membersihkan hati, dan menata langkah.
Selamat meroket membuka langit Allah.
Mi’rajkan dirimu menuju Allah SWT. (*)
