Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur’an Metode Hijroti Al-Muhajirin 5, Syaikhuna KH. Abun Bunyamin Ungkap Hikmah di Balik Pengabdian 10 Tahun di Wanayasa

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., menyampaikan tausiyah pada Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur’an Metode Hijroti Pondok Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa.

AL-MUHAJIRIN- Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., mengajak para santri dan wali santri untuk meyakini bahwa setiap ketetapan Allah SWT selalu mengandung hikmah terbaik, meskipun pada awalnya tidak sesuai dengan harapan manusia.

Pesan tersebut disampaikan Syaikhuna dalam tausiyah pada Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur’an Metode Hijroti Pondok Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa.

Dalam kesempatan itu, Syaikhuna membagikan pengalaman pribadinya ketika pada tahun 1983 beliau sempat dipersiapkan menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN). Namun, rencana tersebut tidak pernah terwujud.

Di saat yang sama, datang permohonan dari tokoh-tokoh Wanayasa agar beliau memimpin MTs YPMI. Beliau akhirnya menerima amanah tersebut dan memulai pengabdiannya di Wanayasa.

“Tadinya saya mau menjadi kepala MTs Negeri, tetapi batal. Akhirnya saya menjadi Kepala MTs YPMI pada tahun 1983,” kenangnya.

Baca Juga:  Orasi Kebangsaan dari Teh Ifa di Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke 101

Menurut Syaikhuna, masa pengabdiannya di Wanayasa ternyata berlangsung jauh lebih lama dari yang dibayangkan. Selama sekitar sepuluh tahun beliau tidak dimutasi dari MTs YPMI.

“Mungkin susah mencari orang yang sepuluh tahun tidak dimutasi, kecuali saya. Mutasi pun ke rumah sendiri,” ujarnya.

Di tengah masa pengabdian tersebut, pada tahun 1987 Syaikhuna mulai merintis lembaga pendidikan dengan mendirikan MTs Al-Wathan di Sukatani. Saat itu beliau berencana berpindah dan mengabdi di sekolah yang didirikannya sendiri. Namun, keinginan tersebut belum juga mendapatkan izin.

Setelah itu, beliau kembali mendirikan Madrasah Aliyah Salafiyah. Barulah pada tahun 1993 beliau diizinkan berpindah tugas ke madrasah tersebut, yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Pondok Pesantren Al-Muhajirin.

Baca Juga:  Selamat! Shilva Ramadhani Setiawan, Murid SD Plus Al-Muhajirin Purwakarta Raih Juara 1 Bahasa Inggris Area Jawa Barat

Selama satu dekade tersebut, hampir seluruh desa dan kampung di Kecamatan Wanayasa beliau datangi untuk berdakwah dan membina masyarakat.

“Semua desa, semua kampung di Wanayasa saya kunjungi. Saya datang, saya ceramah siang malam,” tuturnya.

Di balik perjalanan itu, Allah SWT mempertemukan beliau dengan banyak tokoh masyarakat. Salah satu yang paling berkesan adalah H. Suherman Saleh, tokoh asal Wanayasa yang berkarier sebagai pejabat pajak di Jakarta.

Menurut Syaikhuna, pertemuan dengan H. Suherman Saleh menjadi salah satu hikmah terbesar selama beliau mengabdi di Wanayasa.

H. Suherman Saleh kemudian menjadi donatur pertama Al-Muhajirin yang memberikan dukungan besar pada masa awal perkembangan pesantren.

“Beliaulah yang membelikan tanah untuk Kampus 1 Al-Muhajirin yang sekarang,” ungkap Syaikhuna.

Syaikhuna KH Abun mengungkapkan, lahan yang kini menjadi Al-Muhajirin Kampus Pusat di Jalan Veteran saat itu dibeli dengan harga sekitar Rp15 juta. Sebesar Rp12,5 juta berasal dari bantuan H. Suherman Saleh, sedangkan sisanya merupakan hasil sumbangan masyarakat.

Baca Juga:  Tausiyah Pagi di Arafah, Syaikhuna KH. Abun Bunyamin Ajak Jamaah Maknai Wukuf dengan Kesungguhan Ibadah

“Itu hikmah terbesar saya berada sepuluh tahun di Wanayasa,” tuturnya.

Melalui kisah tersebut, Syaikhuna ingin mengajarkan bahwa jalan hidup seseorang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, ketika dijalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran, Allah SWT akan memperlihatkan hikmah yang jauh lebih besar daripada apa yang pernah dibayangkan.

Bagi Syaikhuna, batal menjadi Kepala MTs Negeri justru menjadi jalan yang mengantarkannya mengabdi di Wanayasa, bertemu dengan sosok-sosok yang mendukung perjuangan dakwah, hingga akhirnya menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya dan berkembangnya Pondok Pesantren Al-Muhajirin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *