
AL-MUHAJIRIN– Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., mengajak para santri untuk membangun empat kekuatan jiwa sebagai bekal meraih kesuksesan dunia dan akhirat, yaitu tidak bersedih hati, sabar, tawakal, dan syukur.
Pesan tersebut disampaikan Syaikhuna dalam tausiyah pada Wisuda Tahfizh dan Tahsin Al-Qur’an Metode Hijroti Pondok Pesantren Al-Muhajirin 5 Wanayasa.
Mengawali tausiyahnya, Syaikhuna memuji penampilan puitisasi yang dibawakan para santri. Salah satu bait yang menarik perhatian beliau adalah ajakan untuk tidak larut dalam kesedihan.
“Saya tertarik dengan puitisasi anak-anak. Ada empat poin. Ternyata anak-anak menyampaikan ‘wa lā taḥzan ‘alaihim wa lā taku fī ḍayqin’,” tuturnya.
Menurut Syaikhuna, sikap tidak mudah takut dan tidak larut dalam kesedihan merupakan salah satu kekuatan jiwa yang harus dimiliki setiap muslim. Beliau mengingatkan firman Allah SWT, “Lā takhāfū wa lā taḥzanū” (janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih), sebagai pedoman agar umat Islam tetap tegar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Kalau kita jatuh, jangan bersedih. Allah mengajarkan kepada kita untuk tidak takut dan tidak bersedih,” ujarnya.
Kekuatan jiwa berikutnya adalah kesabaran. Syaikhuna mengutip firman Allah SWT, “Waṣbir wa mā ṣabruka illā billāh,” seraya menjelaskan bahwa pertolongan Allah senantiasa menyertai orang-orang yang bersabar.
Selain sabar, beliau menekankan pentingnya tawakal setelah manusia berikhtiar semaksimal mungkin. Mengutip firman Allah SWT, “Fatawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul mutawakkilīn,” Syaikhuna menjelaskan bahwa manusia harus menyandarkan seluruh ikhtiarnya kepada Allah SWT.
“Tawakallah kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Kalau kita menyandar kepada Allah, maka kita akan selamat,” tuturnya.
Beliau menambahkan bahwa di atas tawakal terdapat tingkatan yang lebih tinggi, yaitu taslim dan tafwidh. Menurutnya, Nabi Ibrahim AS menunjukkan sikap taslim ketika menghadapi kobaran api dengan penuh kepasrahan kepada Allah SWT, sedangkan Nabi Muhammad SAW memberikan teladan tafwidh, yaitu menyerahkan seluruh urusan kepada Allah SWT setelah berikhtiar secara maksimal.
Kekuatan jiwa terakhir yang ditekankan Syaikhuna adalah syukur. Beliau mengutip firman Allah SWT, “Fażkurūnī ażkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn” yang mengandung makna, “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
Beliau juga mengingatkan janji Allah SWT dalam firman-Nya, “La’in syakartum la’azīdannakum” yang berarti, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
“Syukurlah kepada Allah. Pasti Allah akan membalas dan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur,” ujarnya.
Menurut Syaikhuna, apabila empat kekuatan jiwa tersebut dimiliki, seseorang akan mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik.
“Kalau kita hidup memiliki yang empat ini, insya Allah selamat dunia, selamat akhirat, sehat lahir, sehat batin,” ungkapnya.
Untuk memperkuat pemahaman para santri, Syaikhuna kemudian memanggil beberapa santri ke atas panggung dan menguji hafalan mereka mengenai empat kekuatan jiwa tersebut.
Santri yang mampu menjawab dengan benar diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar terus mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup tausiyahnya, Syaikhuna kembali menegaskan bahwa empat kekuatan jiwa yang harus selalu dijaga adalah tidak bersedih hati, sabar, tawakal, dan syukur.
“Empat kunci sukses itu adalah tidak bersedih, sabar, tawakal, dan syukur. Kalau kita hidup memiliki yang empat ini, insya Allah sukses,” pungkasnya. (*)
