
AL-MUHAJIRIN- Di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat kembali melanjutkan kajian Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi.
Pengajian bab Ikhlas dan Ihdarun Niyah yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, ini berlangsung khidmat dan diikuti dengan seksama oleh jamaah.
Kajian memasuki bagian penutup bab ikhlas sekaligus membuka bab taubat.
Dengan penyampaian yang runtun dan mendalam, KH. Marpu mengajak hadirin merenungkan hakikat ikhlas sebagai ruh amal dan taubat sebagai perjalanan kembali dari jauh menuju kedekatan dengan Allah.
Ikhlas: Ruh Amal dan Penghapus Hijab
KH. Marpu menyampaikan bahwa niat bertempat di hati, dan di dalam niat itulah tersimpan ikhlas.
“Hati adalah rumah ikhlas. Jika hati belum bersih dan belum bercahaya, maka ikhlas sulit masuk,” ujarnya.
KH Marpu mengutip Imam Ghazali bahwa hati butuh tazkiyatun nafs — dibersihkan dari sifat buruk dan diterangi dengan amal sesuai sunah Nabi.
Salah satu ciri mukhlis sejati adalah tidak melihat amalnya sendiri. “Orang yang ikhlas tidak merasa punya ketaatan. Ia tidak merasa beramal. Karena amalnya sudah diangkat oleh Allah,” jelasnya.
Jika seseorang masih mengingat-ingat “saya pernah ini, saya punya jasa itu”, berarti amalnya belum diangkat — pertanda belum ikhlas sempurna.
KH Marpu juga mengutip Syekh Abdul Salam Syita: ikhlas ada dua tingkatan, ikhlas fit tauhid (meyakini segala sesuatu berasal dari Allah) dan ikhlas fil muamalah (ikhlas dalam setiap amal).
“Ikhlas fit tauhid adalah ketika kita melihat segala yang terjadi sebagai ayat dan tanda keesaan Allah,” tambahnya.
Taubat: Kembali dari Jauh Menuju Dekat dengan Allah
Memasuki bab taubat, KH. Marpu memberikan definisi mendalam:
“Taubat adalah arruju minal bu’di ilal qurbi ilallah — kembali dari menjauh menuju kedekatan dengan Allah.”
Beliau menjelaskan bahwa taubat bukan sekadar berhenti dari dosa, melainkan perjalanan hati yang terus mendekat kepada Allah. “Bahkan amal saleh sekalipun tetap perlu ditaubati, karena kita masih merasa ‘saya yang beramal’,” ujarnya.
KH Marpu mengutip hadits Rasulullah SAW: “Wallahi, sungguh aku meminta ampun dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 100 kali.”
“Rasulullah yang maksum saja beristigfar lebih dari 100 kali sehari. Lalu bagaimana dengan kita?” ujarnya.
“KH. Marpu menutup kajian dengan pesan praktis: milikilah khawiyah (amal rahasia) yang tidak diketahui siapa pun, perbanyak istigfar setiap hari, dan jangan berhenti pada kesulitan ikhlas—jadikan itu alasan untuk terus meminta kepada Allah.”
Pengajian diakhiri dengan doa memohon taufik ikhlas, taubat nasuha, dan kedekatan kepada Allah.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian pengajian Ramadhan di Al-Muhajirin. Semoga ilmu yang disampaikan menjadi amal jariyah dan wasilah meningkatkan keikhlasan serta kualitas taubat kita di bulan suci ini.
Allahu Akbar. Barakallahu fiikum.
Wallahu a’lam bisshawab. (*)
