Pengajian Ahad Pagi Al-Muhajirin: Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer – Ilmu Yaqin (Bagian ke-5: Syukur)

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat Purwakarta, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA.

AL-MUHAJIRIN– Ahad pagi di Masjid Al-Madinah, Al-Muhajirin Purwakarta, kembali dipenuhi jamaah. Suasana khidmat menyelimuti majelis ketika Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, MA, melanjutkan seri Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer berbasis kitab Al-Hayat Ath-Thayyibah ma‘al Qur’an.

Setelah empat pilar Ilmu Yaqin dibahas—takwa, zikir, istighfar/tobat, dan sabar—kali ini beliau memasuki pilar kelima: Syukur.

Iman: Setengah Sabar, Setengah Syukur

KH. Marpu membuka dengan satu kalimat yang langsung menghentak kesadaran jamaah:

“Iman itu 50 persen sabar, dan 50 persen syukur. Kalau salah satunya kurang, iman kita pun belum utuh.”

Jika sabar adalah kekuatan menghadapi ujian, maka syukur adalah kesadaran menerima nikmat. Dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Sabar tanpa syukur bisa kering. Syukur tanpa sabar bisa rapuh.

Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 66:

“Qulillaha fa‘bud wa kum minas syakirin.”
Katakanlah: Hanya kepada Allah-lah kamu beribadah dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.

Juga QS. Al-Baqarah: 152:

“Waskuruu li wa la takfurun.”
Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur.

Menariknya, dalam banyak ayat, ibadah selalu dipaketkan dengan syukur. Ini bukan kebetulan. Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia, sementara syukur adalah bukti ketulusan ibadah itu sendiri.

Baca Juga:  Tingkatkan Kemampuan Mahasiswa di Bidang Akademik, Penelitian dan Pengabdian. STAI Al-Muhajirin Laksanakan KPU

“Kalau ibadah kita benar-benar karena Allah, pasti melahirkan syukur. Syukur itu burhan—bukti,” jelas beliau.

Syukur: Bukan Sekadar Ucapan

Syukur bukan hanya “Alhamdulillah” di bibir. Syukur adalah kesadaran bahwa semua nikmat—bahkan kemampuan beribadah—datangnya dari Allah.

Beliau mengutip hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

Allah rida kepada seorang hamba yang makan satu suap lalu memuji-Nya, atau minum satu teguk lalu memuji-Nya.

Di sinilah maqam tinggi itu: ridha Allah.

“Makan satu suap saja, lalu kita memuji Allah—itu bisa mendatangkan ridha-Nya. Bayangkan, betapa luas rahmat Allah,” ujar beliau.

Beliau menyinggung praktik Imam Ghazali yang melatih syukur dalam detail-detail kecil kehidupan: setiap suapan, setiap tegukan, disadari sebagai pemberian Allah. Tidak ada yang remeh dalam hidup seorang mukmin.

Tambahan Nikmat: Zahir dan Batin

QS. Ibrahim: 7 menjadi fondasi berikutnya:

“La’in syakartum la’azidannakum.”
Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah nikmat kalian.

Tambahan nikmat ini, menurut KH. Marpu, tidak dibatasi hanya pada materi. Bisa berupa:

  • Rezeki yang dilapangkan
  • Karier yang dimudahkan
  • Hati yang makin ikhlas
  • Derajat akhirat yang ditinggikan
Baca Juga:  Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H di Al-Muhajirin: Bupati Purwakarta Sanjung KH. Abun Bunyamin Ajengan yang Romantis

“Allah tidak bilang tambahannya cuma dunia. Bisa jadi yang ditambah itu batin kita—ketenangan, keridhaan, keyakinan,” jelasnya.

Jangan Salah Meminta

Dalam pembahasan sebelumnya tentang sabar, beliau mengingatkan agar tidak meminta sabar ketika sedang dalam kondisi baik-baik saja.

“Meminta sabar saat tidak ada ujian itu seperti meminta musibah,” tegasnya, merujuk hadis Rasulullah.

Yang dianjurkan justru adalah meminta ‘afiyah—perlindungan dan penjagaan dari keburukan lahir dan batin. Doa yang dianjurkan:

“Allahumma inni as’alukal ‘afwa wal ‘afiyah.”

Afiyah bukan sekadar sehat. Afiyah adalah penjagaan:

  • Terjaga dari riya
  • Terhindar dari ujub
  • Selamat dari iri dan dengki
  • Dijauhkan dari fitnah dunia

“Afiyah hati lebih penting daripada afiyah badan,” kata beliau.

Karena kalau hati selamat, dunia dan akhirat ikut selamat.

Syukur dan Ridha Allah

Beliau kembali menekankan bahwa maqam tertinggi dalam beragama adalah mencari ridha Allah, bukan sekadar pahala atau surga.

Jika Allah sudah rida, maka semuanya aman.

Dan jalan menuju ridha itu ternyata sederhana:

  • Sadar bahwa semua dari Allah
  • Tidak ujub dengan amal
  • Memuji Allah dalam nikmat kecil maupun besar
Baca Juga:  Al-Muhajirin Purwakarta Warnai Wisata Literasi Internasional di Negeri Jiran

Doa buka puasa yang singkat namun dalam maknanya menjadi contoh:

“Alhamdulillahilladzi a‘anani fa sumtu wa razaqani fa aftartu.”

Puasa bukan karena hebatnya kita. Berbuka bukan karena kuatnya diri. Semua karena pertolongan Allah. Di situlah syukur menjaga hati dari ujub.

Menutup Ramadan dengan Ilmu Yaqin

Kajian ini menandai pilar kelima dari delapan Ilmu Yaqin. Setelah takwa, zikir, istighfar, dan sabar—kini syukur menjadi fondasi agar iman kokoh dan seimbang.

Di tengah Ramadan 1447 H, pesan ini terasa relevan. Puasa melatih sabar. Berbuka melatih syukur. Dua-duanya menyempurnakan iman.

Pengajian ditutup dengan doa Ramadan hari ke-11 dari Imam Abu Hazim—doa panjang memohon cahaya ilahi, perlindungan, dan keikhlasan—diikuti doa bersama untuk keberkahan ilmu bagi jamaah, keluarga, dan umat.

Ahad pagi itu bukan hanya majelis ilmu. Ia menjadi pengingat bahwa iman bukan sekadar teori, melainkan latihan hati—agar mampu sabar saat diuji dan bersyukur saat diberi.

Semoga Allah menambahkan kepada kita nikmat iman, yaqin, sabar, dan syukur.

Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *