
AL-MUHAJIRIN— Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Masjid Al-Madinah Kampus 2 Al-Muhajirin, Sukamulya, Ahad (5/4/2026). Ratusan jamaah yang terdiri dari alumni haji dan umrah Al-Muhajirin, jamaah pengajian rutin, serta masyarakat umum, berkumpul dalam momentum Halal Bihalal yang sarat makna.
Lebih dari sekadar tradisi pasca-Idulfitri, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya hati—untuk saling memaafkan, memperkuat ukhuwah, sekaligus memperdalam pemahaman tentang hakikat ibadah.
Tauhid di Balik Ibadah Besar
Dalam tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, mengajak jamaah menelusuri satu benang merah yang menghubungkan dua ibadah besar: puasa Ramadan dan ibadah haji.
Beliau mengungkapkan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat satu kalimat yang sama, yang hanya muncul pada dua ayat—yakni pada ayat puasa (QS. Al-Baqarah: 185) dan ayat haji (QS. Al-Hajj: 37):
“Litukabbirullaha ‘ala ma hadakum…”
(Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan kepadamu)
“Ini bukan kebetulan,” tegas beliau. “Allah menyimpan kalimat yang sama di dua ibadah yang paling berat secara fisik. Puasa dan haji.”
Melalui penjelasan yang mengalir, beliau menggambarkan bagaimana kedua ibadah ini menuntut pengorbanan fisik yang luar biasa—lapar dan haus selama belasan jam dalam puasa, serta kelelahan berjalan hingga belasan kilometer dalam rangkaian haji.
Namun justru di titik itu, Al-Qur’an mengajarkan satu hal mendasar: bukan manusia yang hebat, melainkan Allah yang memberi kemampuan.
“Yang besar itu Allah. Yang punya peran itu Allah. Kita ini nol,” ujarnya tegas.
Dari sinilah, takbir yang dilantunkan setelah Ramadan dan dalam ibadah haji sejatinya bukan sekadar ritual, melainkan deklarasi tauhid: bahwa semua keberhasilan ibadah adalah murni karunia Allah.
Antara Sah dan Diterima
Memasuki bagian yang lebih dalam, KH. Marpu mengajak jamaah membedakan antara sahnya ibadah dan diterimanya ibadah.
Secara fikih, seseorang bisa memastikan bahwa salatnya sah, puasanya sah, hajinya sah. Namun ketika ditanya apakah semua itu diterima oleh Allah, maka jawaban seorang mukmin seharusnya adalah:
Wallahu a’lam… (Allah yang lebih tahu)
“Kalau soal sah, kita harus yakin. Tapi kalau soal diterima, justru kita harus khawatir,” jelasnya.
Beliau kemudian mengutip firman Allah:
“Wal ‘amalus shalihu yarfa’uh…”
(Dan amal saleh itu akan diangkat oleh Allah)
Menukil penjelasan ulama, beliau menegaskan bahwa ciri amal yang diterima adalah “diangkat” oleh Allah—hingga hilang dari ingatan dan rasa memiliki kita.
Artinya, ketika seseorang masih sering mengingat-ingat amalnya, merasa berjasa, atau bangga dengan ibadahnya, justru itu bisa menjadi tanda bahwa amal tersebut belum sepenuhnya diterima.
Sebaliknya, orang yang amalnya diterima akan merasa:
- Tidak ada apa-apanya,
- Banyak kekurangan,
- Dan terus diliputi harap serta cemas.
“Bukan bangga, tapi justru takut. Itulah tanda amal yang hidup,” ungkap beliau.
Doa Nabi Ibrahim: Kunci Diterimanya Amal
Dalam bagian yang menggetarkan, beliau mengingatkan jamaah pada doa Nabi Ibrahim setelah membangun Ka’bah:
“Rabbana taqabbal minna, innaka Antas Sami’ul ‘Alim…”
(Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)
Padahal Nabi Ibrahim telah melakukan amal besar, namun tetap memohon agar amalnya diterima.
Dari sini, KH. Marpu menegaskan bahwa meminta diterimanya amal adalah doa paling penting setelah beribadah.
Bahkan, para ulama terdahulu disebutkan memohon diterimanya amal Ramadan selama enam bulan setelahnya.
“Maka jangan berhenti di ‘sudah beribadah’. Lanjutkan dengan ‘ya Allah, terimalah’,” pesannya.
Belajar Ikhlas dari Puasa
Lebih jauh, beliau mengupas satu pelajaran besar dari puasa yang sering dilupakan: keikhlasan melalui menyembunyikan amal.
Puasa, menurut beliau, adalah latihan paling nyata untuk beribadah tanpa diketahui orang lain. Tidak ada tanda lahiriah yang memastikan seseorang sedang berpuasa atau tidak.
Dari sinilah lahir prinsip:
- Amal wajib boleh tampak, tapi secukupnya.
- Amal sunnah justru harus disembunyikan, bahkan sampai orang mengira kita tidak melakukannya.
“Kalau sudah sampai pada level orang mengira kita tidak beramal, padahal kita beramal, itu tanda keikhlasan mulai tumbuh,” ujarnya.
Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW melakukan banyak ibadah sunnah secara tersembunyi, hingga diketahui hanya oleh keluarga terdekat.
Hakikat Halal Bihalal: Menghalalkan Hati
Menutup tausiyahnya, KH. Marpu mengajak jamaah memahami makna sejati halal bihalal.
Menurut beliau, halal bihalal bukan sekadar berjabat tangan, tetapi proses menghalalkan kembali hubungan antarsesama manusia, terutama dalam hal:
- Harta
- Fisik
- Kehormatan (harga diri)
Beliau menekankan bahwa menjaga kehormatan sesama muslim bahkan lebih agung daripada menjaga kehormatan Ka’bah.
Karena itu, halal bihalal harus menjadi momentum untuk benar-benar:
- Melepaskan dendam,
- Menghapus kebencian,
- Dan memaafkan tanpa syarat.
“Jangan menunggu diminta maaf. Kita yang duluan memaafkan,” tegasnya.
Doa dan Harapan Bersama
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Yusuf Zainal Abidin, MM. Dalam doanya, beliau memohon agar seluruh amal ibadah jamaah—puasa, zakat, haji, dan umrah—diterima oleh Allah SWT.
Tak lupa, dipanjatkan pula doa untuk keselamatan jamaah haji yang akan berangkat, serta keberkahan bagi Pondok Pesantren Al-Muhajirin agar terus berkembang dalam dakwah dan pendidikan umat.
Kegiatan diakhiri dengan mushafahah, di mana seluruh jamaah saling bersalaman, membentuk lingkaran besar—simbol persatuan hati yang kembali bersih.
