
AL-MUHAJIRIN- Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 H. Para jamaah yang memadati area pelaksanaan sholat tampak larut dalam kekhusyukan, mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh Pengasuh Al-Muhajirin Pusat, KH Rd Marpu Muhidin Ilyas.
Dalam khutbahnya, beliau menekankan bahwa salah satu pelajaran terbesar dari ibadah puasa Ramadan adalah tentang keadilan. Bukan sekadar keadilan dalam konteks sosial, melainkan keadilan yang paling mendasar, yaitu keadilan terhadap diri sendiri.
Mengawali khutbah, beliau mengingatkan jamaah tentang firman Allah yang selalu dibacakan dalam setiap khutbah, baik Jumat maupun hari raya: “Inna Allaha ya’muru bil ‘adli wal ihsan”—sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan kebaikan. Pesan ini, menurutnya, bukan sekadar pengingat ritual, tetapi merupakan misi utama ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, KH Marpu menjelaskan bahwa keadilan tidak mungkin terwujud dalam skala besar—baik dalam keluarga, masyarakat, hingga negara—tanpa diawali dari keadilan dalam diri setiap individu. Ia mencontohkan generasi terbaik dalam sejarah Islam, yakni masa Rasulullah, para sahabat, dan tabi’in, sebagai periode paling adil karena mereka mampu berlaku adil terhadap diri mereka sendiri.
Dalam pemaparannya, beliau mengurai bahwa manusia memiliki tiga aspek penting yang harus dijaga keseimbangannya. Pertama, kesadaran akan dua perjalanan hidup: dunia dan akhirat. Ramadan, menurutnya, melatih umat Islam untuk tidak terjebak dalam orientasi dunia semata, melainkan menjadikan setiap aktivitas dunia bernilai akhirat.
“Kita diajarkan menahan sesuatu yang halal seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari Ramadan. Ini bukan sekadar menahan diri, tetapi latihan agar kita tidak melupakan kehidupan akhirat yang jauh lebih utama,” jelasnya.
Kedua, keadilan terhadap dimensi zahir dan batin. Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya memiliki kebutuhan fisik, tetapi juga kebutuhan ruhani. Ilmu dan dzikir, katanya, merupakan “makanan” bagi ruh yang tidak boleh diabaikan. Mengabaikan aspek ruhani sama halnya dengan berbuat zalim terhadap diri sendiri.
Ketiga, keadilan dalam memilih antara akal dan nafsu. KH Marpu menekankan bahwa kehidupan adalah rangkaian pilihan. Ketika seseorang lebih mengikuti hawa nafsu dibandingkan akal dan ilmu, maka sejatinya ia sedang menzalimi dirinya sendiri. Perilaku seperti iri, dengki, dan maksiat disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan terhadap diri.
Dalam penutup khutbahnya, beliau mengingatkan bahwa ibadah Ramadan boleh saja telah usai, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak boleh berhenti. Keadilan harus terus menjadi prinsip hidup, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
“Puasa selesai, tarawih selesai, zakat selesai, tetapi keadilan tidak selesai. Keadilan adalah misi hidup kita,” tegasnya di hadapan jamaah.
Khutbah ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah mampu mengamalkan nilai keadilan sebagaimana yang telah dilatih selama bulan Ramadan, serta senantiasa berada dalam bimbingan Allah SWT. (*)
