
AL-MUHAJIRIN — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta yang diwakili Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Dr. H. Munir Huda, S.Ag., M.Si., berpesan kepada para santri kelas 9 SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat agar terus melanjutkan pendidikan dan tidak berhenti dalam menuntut ilmu.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Haflah Akhirussanah SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026, Sabtu 13 Juni 2026, di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta.
Dalam sambutannya, Dr. H. Munir Huda menyampaikan bahwa Haflah Akhirussanah merupakan momentum istimewa bagi para santri kelas 9, baik SMP maupun MTs.
Menurutnya, kelulusan bukan tanda akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Hari ini adalah momentum yang sangat istimewa. Hari yang sangat berbahagia bagi anak-anak kelas 9, baik MTs maupun SMP. Tapi ingat, ini bukan tanda akhir,” ujarnya.
Beliau mendorong para santri agar melanjutkan pendidikan ke tingkat SLTA. Bahkan, ia menyarankan agar para lulusan dapat melanjutkan ke MA atau SMA Al-Muhajirin, agar proses pendidikan dan pembinaan ilmu dapat terus berkesinambungan.
“Setelah selesai, anak-anakku sekalian kelas 9 wajib melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Karena harus ada kesinambungan ilmu, saya sarankan masuk Madrasah Aliyah Al-Muhajirin atau SMA Al-Muhajirin,” tuturnya.
Dr. H. Munir Huda menyampaikan, kesinambungan dalam menuntut ilmu sangat penting agar para santri tidak kehilangan arah dalam proses belajar. Menurutnya, ilmu merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip firman Allah dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa orang beriman dan berilmu tidak akan menjalani kehidupan dengan sia-sia. Karena itu, para santri harus terus memelihara semangat belajar dan menjadi pribadi yang selalu haus akan ilmu.
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Ini janji Allah. Artinya, orang-orang yang beriman dan memiliki ilmu itu hidupnya tidak akan sia-sia,” katanya.
Beliau juga mengingatkan bahwa amal dan perbuatan harus didasari ilmu. Tanpa ilmu, seseorang dapat keliru memahami sesuatu dan salah dalam bertindak.
Mengutip Ibnu Ruslan dalam Kitab Zubad, ia menyampaikan bahwa amal tanpa ilmu akan tertolak. Karena itu, ilmu harus menjadi dasar dalam setiap ibadah, tindakan, dan pengambilan keputusan.
“Orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan sia-sia,” ucapnya.
Dr. H. Munir Huda juga mengakui bahwa menuntut ilmu bukan proses yang ringan. Para santri harus terbiasa dengan disiplin, bangun pagi untuk mengaji, menghafal, belajar malam, hingga membiasakan ibadah seperti tahajud.
Namun, menurutnya, semua kesulitan tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan diri menuju kesuksesan.
“Menuntut ilmu itu memang tidak mudah. Pagi-pagi harus siap mengaji, malamnya bertahajud, hafalan, dan lain sebagainya. Tapi yakinlah, itu semua adalah ujian pertama untuk mencapai sebuah kesuksesan,” ujarnya.
Beliau pun berpesan kepada seluruh santri kelas 9 SMP-MTs Al-Muhajirin agar terus belajar di mana pun berada. Ilmu yang diperoleh selama di pesantren harus menjadi bekal untuk melangkah ke jenjang berikutnya dan menghadapi kehidupan yang lebih luas.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA beserta Ibunda Dra. Hj. Euis Marfuah, MA; Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd.; Kepala SMP-MTs Al-Muhajirin Pusat, Dr. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I.; jajaran pimpinan unit, dewan guru, orang tua wali santri, serta para santri kelas 9.
Dengan penuh harapan, Dr. H. Munir Huda menutup sambutannya dengan doa agar para lulusan SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat terus menjadi generasi yang mencintai ilmu, menjaga iman, dan mampu meraih derajat mulia melalui pendidikan. (*)
