
AL-MUHAJIRIN — Suasana khidmat, haru, dan penuh kebahagiaan mewarnai pelaksanaan Haflah Akhirussanah SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026, Sabtu 13 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Menapaki Jejak Ilmu, Menggapai Masa Depan Gemilang” tersebut digelar di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta.
Sebanyak 195 santri kelas 9 SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat dinyatakan lulus 100 persen. Momen tersebut menjadi hari penuh syukur bagi para santri, orang tua, guru, serta seluruh keluarga besar Al-Muhajirin.
Kegiatan ini turut dihadiri Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, beserta Ibunda Pesantren Dra. Hj. Euis Marfuah, MA; Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd.; Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA; serta Kepala SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat, Dr. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I.
Hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta yang diwakili Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Dr. H. Munir Huda, S.Ag., M.Si.; Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, Dr. Toto Suharya, M.Pd.; para kepala unit se-Yayasan Al-Muhajirin, dewan guru, tenaga administrasi sekolah, orang tua wali santri, serta tamu undangan.
Salah satu momen penting dalam kegiatan tersebut adalah pemberian penghargaan HIBER dari DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia kepada Kepala SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat, Dr. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia, Dr. Toto Suharya, M.Pd. HIBER merupakan akronim dari hebat, istimewa, dan berprestasi. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas kepemimpinan dan capaian SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat yang terus menunjukkan prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Dalam sambutannya, Dr. H. Amit Saepul Malik menyampaikan rasa syukur atas kelulusan seluruh santri kelas 9. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua wali santri, guru, tenaga kependidikan, pimpinan pesantren, dan Yayasan Al-Muhajirin yang terus memberikan dukungan terhadap kemajuan SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat.
Dr. H. Amit mengatakan, selama delapan tahun memimpin SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat, beliau bersama para guru merumuskan arah pendidikan lembaga melalui tiga konsep utama, yaitu good manner, excellent, and globalize.
Menurutnya, good manner menjadi fondasi utama pendidikan di Al-Muhajirin. Para santri harus memiliki akhlak mulia, disiplin, empati, tanggung jawab, serta penghormatan kepada orang tua dan guru.
“Sukses itu harus dipaksa, kalau gagal itu otomatis. Sekolah sampai lulus harus dipaksa. Melanjutkan ke SMA, Aliyah, Sarjana, Magister, Doktor, semuanya harus dipaksa. Karena ketika belajar, kita sedang merencanakan keprihatinan untuk sukses,” ujarnya.
Beliau berpesan kepada para santri bahwa kunci keberhasilan masa depan dimulai dari tiga hal penting, yaitu menghormati orang tua, mengagungkan guru, dan menjaga akhlak mulia.
Sebagai bentuk penguatan karakter, SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat juga memberikan Good Manners Award, yakni penghargaan bagi santri yang menunjukkan karakter terbaik, seperti disiplin, empati, dan tanggung jawab.
Dr. H. Amit juga menyampaikan bahwa konsep good manner tersebut selaras dengan capaian SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat sebagai salah satu sekolah percontohan nasional pendidikan antikorupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Dari seluruh Indonesia, hanya sembilan sekolah yang menjadi percontohan, salah satunya SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat.
Selain good manner, lanjutnya, SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat juga mengusung konsep excellence atau keunggulan. Konsep tersebut sejalan dengan semangat Kampus Hiji: ngaji, ngahiji, kahiji.
Keunggulan tersebut tampak dari berbagai prestasi santri dan lembaga. Pada bidang tahfiz, sejumlah santri MTs Al-Muhajirin berhasil menyelesaikan hafalan hingga 30 juz, sementara santri lainnya telah mencapai hafalan 15 juz.
Di tingkat nasional, SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat berhasil meraih juara satu dalam ajang paduan suara LP Ma’arif tingkat nasional. Selain itu, lembaga tersebut juga meraih prestasi dalam praktik baik TDBA tingkat kabupaten, praktik baik Pancawaluya Gapura tingkat provinsi, serta Padi Award inovasi yang diselenggarakan oleh Bupati Purwakarta.
Adapun konsep ketiga, yaitu globalize, diarahkan untuk mempersiapkan santri agar mampu bersaing di dunia yang semakin luas. Salah satu langkah pentingnya adalah penguatan kemampuan bahasa.
“Globalize itu mendunia. Salah satu syarat mendunia adalah menguasai bahasa. Maka prestasi-prestasi di bidang bahasa ini menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk membawa santri Al-Muhajirin semakin siap menghadapi masa depan,” ucapnya.
Kepada para lulusan, Dr. H. Amit berpesan agar mereka terus belajar. Beliau menyebut kata “master” sebagai akronim dari “masih terus belajar”. Menurutnya, kelulusan bukan akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal untuk melangkah ke jenjang berikutnya.
Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada para santri kelas 9 yang telah menuntaskan pendidikan selama tiga tahun di SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat.
“Atas nama segenap jajaran Yayasan Al-Muhajirin, kami mengucapkan selamat, mabruk, alfu mabruk atas pencapaian yang sudah ditempuh anak-anakku sekalian,” ujarnya.
Dr. Hj. Ifa menegaskan bahwa keberhasilan santri selama belajar di pesantren memiliki makna yang lebih luas daripada capaian akademik semata. Menurutnya, pesantren menjadi tempat pembentukan karakter, mental spiritual, kemandirian, dan kemampuan sosial para santri.
Beliau menyampaikan, banyak orang yang memiliki kemampuan akademik baik, namun belum siap menghadapi perbedaan kultur, tekanan sosial, dan tantangan kehidupan. Karena itu, kehidupan pesantren menjadi ruang penting untuk melatih santri hidup dalam keberagaman, beradaptasi, dan membangun ketahanan diri.
“Dengan adanya di pesantren, anak-anak kita sudah terbiasa hidup bersinergi dengan berbagai komponen masyarakat yang beragam. Maka insyaallah kader-kader kuat dan hebat ini siap menghadapi tantangan yang lebih besar,” ucapnya.
Dr. Hj. Ifa juga berpesan agar para santri tidak cepat merasa cukup setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun. Beliau mengingatkan pentingnya proses panjang dalam menuntut ilmu, terutama ilmu agama dan pembentukan karakter.
Beliau mengutip hikmah dari kitab Al-Hikam tentang pentingnya menanam diri di tanah yang dalam. Pesan tersebut beliau kaitkan dengan pentingnya memberi waktu yang cukup bagi anak-anak untuk tumbuh dalam lingkungan pesantren.
“Biarlah anak-anak kita ditanam dulu di pesantren. Biarlah anak-anak kita ditanam dulu di tanah yang subur yang setiap hari disirami nasihat para guru, penguatan karakter, jati diri, dan contoh yang baik,” tuturnya.
Menurutnya, santri yang ditempa lebih lama dalam lingkungan pesantren akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, rindang, dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Dr. Hj. Ifa juga menyampaikan bahwa pendidikan Al-Muhajirin terus menunjukkan capaian membanggakan. Lulusan SMA-MA Al-Muhajirin, kata beliau, mampu bersaing dan diterima di berbagai perguruan tinggi negeri, bahkan menembus kesempatan belajar dan berkarya di luar negeri, seperti Jepang, Mesir, dan sejumlah negara Timur Tengah.
Beliau mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin untuk menjaga semangat pendidikan yang kokoh dan bercita-cita tinggi.
“Dari Al-Muhajirin, kita jadikan pendidikan kita mengakar ke bumi, menjulang ke langit,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Purwakarta, Dr. H. Munir Huda, S.Ag., M.Si., berpesan kepada para santri kelas 9 agar terus melanjutkan pendidikan dan tidak berhenti menuntut ilmu.
Menurutnya, Haflah Akhirussanah merupakan momentum istimewa bagi para santri, tetapi kelulusan bukan tanda akhir dari perjalanan pendidikan.
“Hari ini adalah momentum yang sangat istimewa. Hari yang sangat berbahagia bagi anak-anak kelas 9, baik MTs maupun SMP. Tapi ingat, ini bukan tanda akhir,” ujarnya.
Beliau mendorong para santri agar melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTA. Bahkan, beliau menyarankan agar para lulusan melanjutkan ke MA atau SMA Al-Muhajirin, agar proses pendidikan dan pembinaan ilmu dapat terus berkesinambungan.
Dr. H. Munir juga mengutip Surat Al-Mujadalah ayat 11, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa orang beriman dan berilmu tidak akan menjalani kehidupan dengan sia-sia. Karena itu, para santri harus terus memelihara semangat belajar dan menjadi pribadi yang haus akan ilmu.
Beliau juga mengingatkan bahwa amal dan perbuatan harus didasari ilmu. Mengutip Ibnu Ruslan dalam Kitab Zubad, beliau menyampaikan bahwa amal tanpa ilmu akan tertolak.
“Orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan sia-sia,” ucapnya.
Dr. H. Munir mengakui bahwa menuntut ilmu bukan proses yang ringan. Para santri harus terbiasa disiplin, bangun pagi untuk mengaji, menghafal, belajar malam, hingga membiasakan ibadah seperti tahajud. Namun, semua itu merupakan proses pembentukan diri menuju kesuksesan.
Puncak nasihat dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA. Dalam tausiyahnya, Syaikhuna menegaskan bahwa tugas utama manusia dalam kehidupan adalah berdakwah, yakni mengajak kepada kebaikan dengan ilmu, hikmah, keteladanan, dan akhlak.
Syaikhuna menyampaikan selamat kepada Dr. H. Amit Saepul Malik atas penghargaan HIBER yang diraih. Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Al-Muhajirin dan diharapkan dapat terus berkembang dari jenjang TK, SD, SMP, MTs, SMA, MA, hingga perguruan tinggi.
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengingatkan bahwa dakwah tidak cukup dilakukan dengan lisan. Dakwah juga harus hadir melalui tulisan, sikap, tindakan, dan terutama perilaku sehari-hari.
“Dakwah perilaku lebih utama dikedepankan daripada dakwah ucapan,” pesannya.
Menurut Syaikhuna, pesantren adalah tempat melatih para santri agar menjadi pribadi yang kuat, tabah, tawakal, dan siap berdakwah di tengah masyarakat. Kehidupan pesantren yang penuh disiplin dan kemandirian menjadi bagian dari proses pembentukan itu.
Di pesantren, santri dibiasakan mengatur diri, makan sendiri, mencuci sendiri, bangun malam, mengaji, shalat berjamaah, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan. Semua itu menjadi latihan agar santri siap menjalankan tugas dakwah dan pengabdian.
Syaikhuna juga mengingatkan pentingnya fondasi keimanan di tengah zaman teknologi dan kehidupan yang serba instan. Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tidak cukup tanpa dasar iman yang kuat.
“Walaupun ada teknologi, walaupun ada AI, itu tidak cukup. Kita harus mempunyai dasar-dasar keimanan,” pesannya.
Beliau berpesan agar para santri memperkuat tauhid, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, memperbaiki shalat, dan membiasakan ibadah sunah. Shalat, menurutnya, tidak cukup hanya dilakukan sebagai kewajiban fisik, tetapi harus mampu memperbaiki perilaku dan mencegah dari perbuatan buruk.
“Pertama, perbaiki ngaji Al-Qur’an. Kedua, perbaiki shalat,” tegasnya.
Syaikhuna juga menekankan pentingnya mujahadah, istiqamah, dan ikhlas. Menurutnya, guru, orang tua, murid, dan pemimpin tidak akan mampu bertahan tanpa keikhlasan. Santri pun harus belajar dengan sungguh-sungguh, tekun, dan konsisten.
Beliau berpesan agar para santri tidak berkecil hati bila merasa tidak terlalu pintar. Menurutnya, ketekunan dan kerajinan dapat mengantarkan seseorang meraih keberhasilan.
“Orang pintar yang tidak rajin akan dikalahkan oleh orang yang tidak terlalu pintar tetapi rajin. Kalau kamu rajin dan istiqamah, insyaallah berhasil,” pesannya.
Syaikhuna juga menitipkan Al-Muhajirin kepada seluruh keluarga besar pesantren. Beliau menggambarkan Al-Muhajirin seperti pohon yang telah tumbuh dan harus terus dirawat melalui ngaji, ibadah, khidmah, dan kesungguhan bersama.
Rangkaian Haflah Akhirussanah juga diisi dengan doa yang dipimpin oleh Ibunda Pesantren Dra. Hj. Euis Marfuah, MA, penampilan santri, persembahan lagu, pesan dan kesan perwakilan santri, serta ikrar alumni.
Dalam pesan dan kesannya, perwakilan santri menyampaikan terima kasih kepada para guru yang telah membimbing, mengajar, dan mendidik selama tiga tahun. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan para santri selama menempuh pendidikan di SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat.
Setelah itu, para santri kelas 9 mengikrarkan janji alumni yang dipandu oleh Ustaz Heru Rojikin, M.Ag., sebagai bentuk komitmen untuk menjaga nama baik almamater, mengamalkan ilmu, memegang teguh akidah Ahlussunnah wal Jamaah, menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, serta berkontribusi dalam dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Acara juga menampilkan persembahan santri kelas unggulan, di antaranya tahfiz dan tahsin metode Hijroti, pengenalan tajwid melalui nadoman, serta takhosus kitab. Para santri menampilkan kemampuan membaca Al-Qur’an, memahami hukum tajwid, serta dasar-dasar pembacaan kitab seperti tarkib dan Jurumiyah.
Momen puncak kegiatan ditandai dengan prosesi penyerahan ijazah kepada para lulusan SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026. Prosesi tersebut berlangsung penuh haru dan kebanggaan, disaksikan oleh orang tua wali santri, guru, dan seluruh keluarga besar Al-Muhajirin.
Haflah Akhirussanah SMP-MTs Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025/2026 menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali arah pendidikan Al-Muhajirin sebagai lembaga yang membentuk santri berakhlak, unggul, mandiri, berilmu, dan siap menghadapi masa depan. (*)
