Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail, KH Rd. Marpu Muhiddin Ilyas: Jangan Minder Menjadi Santri, Islam Besar Berawal dari Kelompok Kecil yang Istiqamah

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, KH Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, saat menyampaikan sambutan dan mau’idzah hasanah pada Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail di Lapangan Al-Muchtar Al-Muhajirin Kampus Pusat, Kamis (18/6/2026). Dalam tausiyahnya, beliau mengajak para santri untuk tidak minder menjadi bagian dari pesantren, karena Islam yang kini tersebar ke berbagai penjuru dunia berawal dari kelompok kecil yang istiqamah bersama Rasulullah SAW. Beliau juga mengingatkan para santri agar memanfaatkan masa liburan untuk bermuhasabah, menjaga amaliah, dan memastikan ilmu yang dipelajari di pesantren telah menjelma menjadi akhlak, ibadah, dan karakter yang hidup dalam diri. “Jangan minder menjadi santri. Islam besar hari ini berawal dari kelompok kecil yang istiqamah bersama Rasulullah SAW,” pesannya.

AL-MUHAJIRIN – Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, Kamis malam (18/6/2026), berlangsung penuh makna. Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, mengajak para santri untuk bangga menjadi bagian dari pesantren dan tetap istiqamah menuntut ilmu, meski di tengah berbagai tantangan zaman.

Dengan gaya bertutur yang hangat, beliau mengisahkan perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam pada masa-masa awal kenabian.

“Rasulullah itu manusia paling sempurna, tidak ada cacat dan tidak ada kekurangan. Namun, dakwah beliau tidak mudah. Selama enam tahun di Makkah, yang masuk Islam hanya empat puluh dua orang,” tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa Muslim ke-42 adalah Sayyidina Umar bin Khattab ra. Jumlah tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan perjuangan dakwah selama enam tahun.

Namun, sedikitnya pengikut tidak membuat Rasulullah SAW berhenti berdakwah. Bahkan ujian demi ujian justru semakin berat.

Kaum Muslimin diboikot selama tiga tahun, tidak boleh melakukan jual beli, menikah, maupun menjalin hubungan sosial dengan masyarakat Quraisy. Setelah masa boikot berakhir, Rasulullah SAW kembali diuji dengan wafatnya dua orang tercinta, yakni Sayidah Khadijah ra. dan pamannya, Abu Thalib. Tahun itu kemudian dikenal sebagai ‘Āmul Huzn (عام الحزن) atau Tahun Kesedihan.

Baca Juga:  Wali Santri TK Al Muhaiirin Sebut Al Muhajirin Selalu Melahirkan Santri-santri Berprestasi

Beliau melanjutkan kisah hijrah Rasulullah SAW ke Thaif yang juga tidak mudah. Selama sebulan berdakwah di sana, tidak ada satu pun penduduk Thaif yang beriman.

“Rasulullah pulang dalam keadaan terluka dan dilempari batu. Tetapi beliau tidak berhenti berdakwah,” ujarnya.

Di tengah penolakan tersebut, justru muncul seorang yang menerima dakwah Rasulullah, yakni Addas, seorang Nasrani yang tersentuh ketika mendengar Rasulullah mengucapkan:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

Menurut KH Marpu, keimanan Addas lahir dari sebuah kalimat yang sederhana, namun penuh keberkahan.

Beliau juga mengisahkan peristiwa di Masjid Jin, ketika sekelompok jin mendengarkan bacaan Al-Qur’an Rasulullah SAW dan kemudian beriman, sebagaimana diabadikan dalam firman Allah SWT:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan’.” (QS. Al-Jin: 1)

Beliau kemudian menegaskan bahwa dakwah Rasulullah SAW justru terus bergerak meskipun jumlah pengikutnya sedikit dan sebagian bahkan murtad setelah peristiwa Isra Mikraj.

“Rasulullah tidak pernah berkata, ‘Sudahlah dakwah ini, pengikutnya sedikit dan malah berkurang.’ Tidak. Beliau terus maju dan terus bergerak,” katanya.

Menurutnya, sejarah tersebut menjadi pelajaran penting bagi dunia pesantren saat ini.

Baca Juga:  Badan Wakaf Al-Muhajirin Ajak Umat Ikut Wakaf Produktif Peternakan Ayam Petelur

“Jangan minder menjadi santri. Jangan minder menjadi bagian dari pesantren. Islam yang hari ini sampai ke Purwakarta, Subang, Karawang, dan ke kampung-kampung kita, semuanya berawal dari kelompok kecil yang istiqamah bersama Rasulullah,” tegasnya.

KH Marpu meyakini bahwa pesantren sedang menghadapi fase yang membutuhkan kesabaran dan keyakinan. Karena itu, para santri diminta tetap teguh bersama guru-gurunya dan terus mencintai pesantren.

“Insyaallah, selama kita tetap bersama Syikhuna dan terus berjuang dengan keyakinan kepada Allah SWT, Al-Muhajirin akan semakin berbunga-bunga dan semakin cemerlang di masa depan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, beliau juga mengajak para santri melakukan muhasabah diri selama masa liburan. Setiap santri diminta merenungkan satu hal yang benar-benar telah menjadi bagian dari dirinya setelah belajar di pesantren.

“Bukan apa yang kalian hafal, tetapi apa yang sudah menjadi diri kalian. Mungkin satu akhlak, satu adab, satu ibadah, atau satu ilmu yang sekarang sudah melekat dalam diri kalian,” katanya.

Beliau mencontohkan, bisa jadi ada santri yang kini selalu membaca basmalah sebelum makan, senantiasa mendoakan guru setelah salat, mudah memaafkan orang lain, atau lebih menghormati guru dan orang tua.

Metode introspeksi tersebut, menurutnya, merupakan cara yang juga dilakukan para ulama salaf. Beliau mengisahkan dialog antara Imam Syaqiq Al-Balkhi dan muridnya, Imam Hatim Al-Asham, yang setelah puluhan tahun belajar hanya menyebut delapan ilmu yang benar-benar telah meresap dalam kehidupannya.

Baca Juga:  Launching Buku Karya Santri, Warnai Acara Khutbatul Ikhtitam Al Muhajirin Kampus 3

“Santri yang cerdas adalah santri yang mampu membaca dirinya sendiri, apa yang benar-benar sudah menjadi akhlak, ibadah, dan ilmunya,” pesannya.

Menjelang akhir sambutan, KH Marpu berpesan agar para santri tetap menjaga hubungan spiritual dengan para guru dan sesama santri melalui doa.

Beliau menganjurkan para santri untuk senantiasa membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَمَرْتَنَا بِالدُّعَاءِ وَضَمِنْتَ لَنَا الْإِجَابَةَ…

“Ya Allah, Engkau telah memerintahkan kami untuk berdoa dan Engkau menjamin pengabulannya…”

Selain itu, beliau mengingatkan agar para santri tidak melupakan puasa Asyura pada 10 Muharram serta memanfaatkan masa liburan dengan tetap menjaga amaliah dan semangat menuntut ilmu.

“Saya tahu tantangan kalian akan lebih besar di rumah. Tetapi jika kalian pulang dengan niat yang baik dan semangat yang benar, insyaallah Allah akan menjaga kalian,” pungkasnya.

Malam Muwadaah tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Bagi para santri, momen itu menjadi pengingat bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak berhenti ketika meninggalkan gerbang pesantren. Justru di tengah keluarga dan masyarakatlah identitas sebagai santri diuji: apakah ilmu yang dipelajari benar-benar telah menjelma menjadi akhlak, ibadah, dan karakter yang hidup dalam diri mereka. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *