KH. Marpu: Memahami Al-Qur’an Bukan Sekadar Membaca Tafsir, Tetapi Mendapat Cahaya dari Allah

Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN — Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat memahami Al-Qur’an dalam kajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat.

Kajian berlangsung di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu, 6 Mei 2026, dengan rujukan kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i.

Dalam kajian tersebut, KH. Marpu menjelaskan bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca terjemah, mengutip tafsir, atau menyampaikan kembali penjelasan ulama. Hal itu, menurutnya, baru sebatas meriwayatkan makna.

Adapun pemahaman Al-Qur’an yang sesungguhnya adalah ketika Allah memberikan cahaya pemahaman ke dalam hati seseorang. Karena itu, memahami Al-Qur’an sangat berkaitan dengan kesiapan hati, kebersihan jiwa, dan taufik dari Allah SWT.

Baca Juga:  Wapres ke-13 RI Kunjungi Ponpes Al-Muhajirin Purwakarta, Teguhkan Peran Ulama sebagai Pelayan Umat

“Kalau saya membaca Tafsir Jalalain, membaca Sowi, lalu menyampaikan maknanya, itu belum tentu disebut memahami Al-Qur’an. Itu meriwayatkan makna. Memahami Al-Qur’an adalah ketika Allah memberi paham,” terang KH. Marpu.

Ia menegaskan bahwa ilmu dalam pandangan para ulama bukan hanya wawasan atau pengetahuan. Ilmu adalah nur, cahaya yang Allah masukkan ke dalam hati seorang hamba. Karena itu, seseorang yang tampak sederhana secara lahiriah tetap memiliki peluang besar untuk mendapatkan pemahaman Al-Qur’an jika Allah memberinya inayah dan mahabbah.

KH. Marpu kemudian menjelaskan pentingnya taufik dalam beragama. Taufik membuat seseorang dapat melakukan kebaikan meski belum banyak memahami teori. Ia mencontohkan seorang santri baru yang belum banyak mengetahui dalil tentang adab, tetapi hatinya terdorong untuk menghormati guru. Dorongan baik seperti itu merupakan salah satu bentuk taufik dari Allah.

Baca Juga:  LP Ma'arif PWNU Jabar dan bank bjb Syariah Jalin Kerjasama Strategis untuk Digitalisasi Sekolah, Beasiswa Luar Negeri, dan Program Lainnya

Menurutnya, ketika taufik bekerja, ukuran lahiriah seperti kecerdasan, pengalaman belajar, atau kemampuan membaca kitab tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. Allah dapat membuka jalan pemahaman kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

KH. Marpu juga mengingatkan bahwa penghalang pemahaman Al-Qur’an bukan semata-mata kebodohan, melainkan keadaan hati. Di antara penghalang tersebut adalah kesombongan, cinta dunia, maksiat yang terus diulang tanpa taubat, dan iman yang belum kokoh.

Ia mengutip pesan yang masyhur dari Imam Syafi’i saat mengadu kepada gurunya, Imam Waki’, tentang sulitnya menghafal. Nasihat yang diberikan bukan metode hafalan, tetapi perintah untuk meninggalkan maksiat, karena ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

Baca Juga:  Siswa siswi Kelas 5 Siti Hajar SD Plus Al-Muhajirin Antusias Lakukan Praktikum Sifat-Sifat Cahaya

“Ilmu bukan huruf, ilmu bukan kalimat, ilmu bukan teks, ilmu bukan kata-kata. Ilmu adalah cahaya,” tegas KH. Marpu.

Dalam penutup kajian, ia mengajak para guru agar tidak merasa jauh dari Al-Qur’an hanya karena merasa belum menguasai bahasa Arab atau belum mendalami ilmu alat. Semua orang memiliki peluang untuk mendapatkan pemahaman dari Allah selama menjaga hati, memperbanyak taubat, tawadhu, dan bersandar kepada pertolongan Allah.

Kajian ini menjadi pengingat bahwa tugas pendidik tidak berhenti pada mengajar pengetahuan. Lebih dari itu, guru harus terus merawat hati agar ilmu yang disampaikan menjadi cahaya bagi diri sendiri, santri, dan lingkungan pendidikan Al-Muhajirin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *