KH. Marpu Muhyiddin Ilyas Ingatkan Guru Al-Muhajirin: Kesombongan dan Cinta Dunia Menghalangi Pemahaman Al-Qur’an

Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN — Kajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu, 6 Mei 2026, menjadi ruang penguatan akhlak dan spiritualitas bagi para pendidik.

Dalam kajian yang merujuk pada kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, menjelaskan beberapa penghalang seseorang dalam memahami Al-Qur’an.

KH. Marpu menyampaikan bahwa untuk memahami Al-Qur’an, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membaca kitab atau keluasan pengetahuan. Hati harus disiapkan agar layak menerima cahaya pemahaman dari Allah SWT.

Salah satu penghalang besar dalam memahami Al-Qur’an adalah kesombongan. Menurut KH. Marpu, seseorang disebut tawadhu ketika ia tidak lagi merasa ada orang lain yang lebih rendah darinya. Orang yang tawadhu selalu mampu melihat kemungkinan bahwa orang lain memiliki kelebihan di sisi Allah, meski secara lahiriah tampak berbeda kedudukan, ilmu, atau pengalaman.

Baca Juga:  Juara! PAUD RA Al-Muhajirin Purwakarta Borong Medali di Olimpiade OMNI Sains Indonesia 2025/2026

“Kalau masih berpikir orang lain berada di bawah kita, itu belum tawadhu. Tawadhu tercapai ketika kita mampu memandang orang lain mungkin lebih baik daripada kita di sisi Allah,” jelasnya.

Ia mencontohkan hubungan guru dan murid. Secara lahiriah, guru memang mengajari murid membaca Al-Qur’an dan membimbingnya dalam ilmu dasar. Namun, seorang guru tetap harus menyadari bahwa bisa jadi murid tersebut memiliki kelebihan lain yang lebih tinggi nilainya di hadapan Allah.

Selain kesombongan, KH. Marpu juga mengingatkan bahaya cinta dunia. Cinta dunia, menurutnya, dapat dilihat dari beratnya seseorang mengeluarkan harta untuk zakat, sedekah, membantu orang lain, atau berkurban. Ketika hati terlalu melekat pada dunia, cahaya ilmu akan sulit masuk.

Baca Juga:  Institut Teknologi Al-Muhajirin (ITM) Kenalkan Program Beasiswa kepada Karyawan PT Indorama Synthetics

“Paham itu cahaya. Ketika hati tertutup cinta dunia, makna Al-Qur’an bisa terasa hambar meski seseorang mampu membaca dan menjelaskan teksnya,” ujarnya.

KH. Marpu juga menyinggung pentingnya taubat. Ia menjelaskan bahwa manusia tidak mungkin bersih sepenuhnya dari dosa. Namun, yang berbahaya adalah ketika dosa yang sama terus diulang tanpa penyesalan dan tanpa taubat. Sikap seperti itu disebut israr, yakni menetap dalam dosa.

Menurutnya, dosa seharusnya menjadi jalan bagi seseorang untuk mengenal kelemahan dirinya dan kembali merendah di hadapan Allah. Dengan begitu, kesalahan dapat menjadi pintu perbaikan, bukan alasan untuk semakin jauh dari Allah.

Dalam kajian tersebut, KH. Marpu juga meluruskan pemahaman tentang bid’ah. Ia menjelaskan bahwa pembahasan bid’ah bukan konsumsi orang awam yang tidak memahami dalil, kaidah, dan prinsip syariat. Menilai sesuatu sebagai bid’ah membutuhkan ilmu, terutama pemahaman terhadap dalil, qawaid, dan cara ulama menetapkan hukum.

Baca Juga:  Hj. Kiki Zakiah Nuraisyah, S.S.I., M.H.: Sebagai Anggota Pramuka, Kita Harus Bisa Aplikasikan di Kehidupan Kita Sehari-hari

Ia menegaskan, bid’ah yang paling berbahaya banyak berkaitan dengan akidah yang keliru, kekotoran hati, kebencian kepada sesama muslim, serta akhlak buruk. Karena itu, seseorang tidak boleh mudah menuduh orang lain bid’ah tanpa ilmu.

Kajian ini menjadi pengingat penting bagi para guru Al-Muhajirin bahwa pendidikan harus dibangun di atas ilmu, adab, dan kebersihan hati. Seorang pendidik dituntut tidak hanya cakap menyampaikan pelajaran, tetapi juga terus menjaga tawadhu, memperbanyak taubat, menjauhi kesombongan, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.

Melalui kajian rutin ini, Al-Muhajirin meneguhkan kembali tradisi pesantren sebagai ruang pembentukan ilmu dan akhlak. Al-Qur’an tidak hanya dibaca dan diajarkan, tetapi juga dijadikan cahaya untuk memperbaiki diri, keluarga, lembaga, dan masyarakat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *