KH. Marpu Muhyiddin Ilyas Buka Kajian Tafsir Juz ‘Amma Kontemporer Bersama Guru Al-Muhajirin Pusat

Bagikan artikel ini:

AL-MUHAJIRIN — Kajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat kembali digelar di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, pada Rabu, 6 Mei 2026.

Kajian yang diasuh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhyiddin Ilyas, MA, tersebut membahas kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i.

Kitab ini merupakan tafsir kontemporer berbasis Tafsir Jalalain untuk Juz 30. Dalam pembukaannya, KH. Marpu menjelaskan bahwa kitab tersebut ditulis dengan sanad keilmuan dan adab yang kuat, termasuk melalui izin guru sang penulis.

Baca Juga:  Pembina Upacara Bendera SMI 1 3 Al Muhajirin Sampaikan Pentingnya Menjaga Kedisiplinan

Menurut KH. Marpu, tradisi keilmuan Islam tidak berdiri hanya di atas kecerdasan personal, tetapi juga pada keberkahan, izin, dan hubungan murid dengan guru. Karena itu, membaca dan mengkaji kitab tafsir bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan bagian dari tabarruk dan ikhtiar memperoleh cahaya ilmu.

“Memahami Al-Qur’an ini menjadi penting. Mudah-mudahan Allah limpahkan kepada kita semua keberkahan ilmu,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Dalam pengantarnya, KH. Marpu juga menukil penjelasan bahwa Al-Qur’an adalah pembersih cinta dan perhiasan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi harus menjadi jalan untuk menyucikan hati, memperbaiki cara pandang, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Baca Juga:  Keren! SMA Al-Muhajirin Pusat Raih Prestasi di Ajang LKBB Se-Pulau Jawa

Ia menegaskan bahwa kemampuan mengamalkan Al-Qur’an merupakan anugerah besar dari Allah. Seseorang tidak akan diberi kemudahan untuk mengamalkan Al-Qur’an kecuali mendapatkan inayah atau pertolongan dari Allah SWT.

Kajian ini menjadi ruang pembinaan ruhani dan intelektual bagi para guru Al-Muhajirin Pusat. Melalui kajian tersebut, para pendidik diajak memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an agar proses pendidikan tidak hanya melahirkan kecerdasan, tetapi juga akhlak, ketawadhuan, dan kedalaman spiritual.

KH. Marpu menyampaikan bahwa kajian Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an akan menjadi sarana penting untuk membaca pesan-pesan Juz ‘Amma secara kontekstual. Dengan demikian, ayat-ayat pendek yang sering dibaca dalam shalat dapat dipahami lebih dalam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Hari Kartini 2025, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd: Perempuan adalah Pondasi Umat

“Ilmu itu bukan sekadar huruf, bukan kalimat, bukan teks. Ilmu adalah cahaya,” ujar KH. Marpu dalam penjelasannya.

Melalui kajian rutin ini, Al-Muhajirin terus meneguhkan tradisi keilmuan pesantren yang memadukan sanad, adab, pemahaman, dan pengamalan. Para guru tidak hanya diajak menjadi pengajar, tetapi juga pembelajar yang terus memperbaiki hati dan memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *