
ALMUHAJIRIN — Suasana hangat Syawal terasa begitu kental di lingkungan SD Plus 2 Al-Muhajirin Purwakarta, Selasa (31/3/2026). Halal Bihalal yang digelar selain sebagai ajang saling memaafkan, juga menjadi ruang pertemuan gagasan besar tentang masa depan generasi—terutama soal gizi anak.
Hari itu, dua tamu penting hadir: Tenaga Ahli Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Muhammad Sirod, serta Ketua LP Ma’arif NU PBNU, H. Harianto Ogie, bersama Esti Purnawinarni. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri pada acara yang diikuti ratusan siswa, guru, dan tenaga kependidikan tersebut.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan syarhil tilawah oleh Yukiko Maryam Azzahra dan M. Hafizh. Suasana langsung berubah khidmat. Tenang. Sejuk.
Keceriaan anak-anak lalu mengambil alih panggung. Penampilan seni dari Ken Alena, Jibran, dan Angel menghadirkan senyum di wajah para hadirin. Disusul pildacil oleh Rakhsandira Khanza Wianto—singkat, tapi mengena—tentang pentingnya akhlak dan semangat belajar.
Puncak emosional acara terjadi saat mushafahah. Satu per satu siswa menyalami guru dan tamu undangan. Sederhana, tapi penuh makna. Di situlah halal bihalal menemukan ruhnya: saling memaafkan dengan tulus.

Ketua Yayasan Al-Muhajirin, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, saling memaafkan, sekaligus meneguhkan komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang terintegrasi dengan perhatian terhadap pemenuhan gizi peserta didik.
Beliau juga menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) merupakan langkah strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas harus berjalan seiring dengan pemenuhan gizi yang baik.
Beliau pun menyambut hangat kehadiran BGN dan LP Ma’arif NU sebagai bentuk sinergi nyata antara lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, dan pemerintah dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Tenaga Ahli Ketua BGN, Muhammad Sirod mengatakan dalam sambutannya bahwa gizi anak merupakan fondasi masa depan.
“Asupan gizi yang cukup dan berkualitas dapat meningkatkan konsentrasi, daya tahan tubuh, serta kesiapan anak dalam menerima materi pendidikan,” ujarnya.
Baginya, Purwakarta bukan wilayah asing. Ia punya ikatan personal dengan daerah ini—tempat ia lahir dan tumbuh. Karena itu, ia mengaku bangga melihat Yayasan Al-Muhajirin menjadi bagian dari pelaksanaan awal program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara khusus, Sirod menyampaikan apresiasi kepada Dr, Hj, Ifa Faizah Rohman, M.Pd bersama pimpinan Yayasan Al-Muhajirin atas komitmen sejak tahap awal pelaksanaan program.
Program ini, menurutnya, mulai menunjukkan dampak nyata. Akses gizi anak meningkat, dukungan bagi ibu hamil, serta pengurangan beban penyediaan pangan di lembaga pendidikan.

Namun ia tak menutup mata terhadap tantangan. Beliau menyoroti pentingnya penguatan rantai pasok pangan lokal. Ia mendorong keterlibatan petani dan peternak setempat melalui skema yang terintegrasi dengan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Masih ada komoditas yang dipasok dari perusahaan besar untuk menjaga kontinuitas. Tapi peluang petani lokal sangat besar, termasuk melalui skema contract farming,” jelasnya.
Lalu tibalah momen yang paling ditunggu anak-anak.
Makan MBG bersama.
Nasi, ayam, sayur, buah, dan susu tersaji rapi. Para siswa berbaris tertib, lalu duduk menikmati hidangan. Bukan sekadar makan, ini pelajaran langsung tentang gizi seimbang.
Ada satu momen kecil yang justru paling membekas.
Seorang santri diminta memberi testimoni.
Jawabannya singkat.
“Dimakan semua.”
Tawa pecah. Tapi di situlah letak kejujurannya.
Sirod tersenyum. Ia kemudian menambahkan dengan nada bangga,
“Program dari Pak Prabowo ini juga belajar dari pesantren. Saya sebagai warga Purwakarta bangga, MBG bisa berjalan baik di sini.”
Acara pun ditutup dengan rasa penuh. Bukan hanya perut yang kenyang, tetapi juga harapan yang ikut tumbuh.
Di SD Plus 2 Al-Muhajirin, halal bihalal hari itu menjelma menjadi titik temu antara nilai, ilmu, dan masa depan—tentang bagaimana anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berakhlak mulia. (*)
