Menjemput Ramadan 1447 Hijriah dengan Rencana: Apa Target Ramadan Kita Tahun Ini?

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas,

AL-MUHAJIRIN- Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, keluarga besar Direktorat Al-Muhajirin Kampus Pusat menggelar silaturahmi Senin (16/2/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Dra. Hj. Euis Marfuah, MA, Ketua Yayasan Al-Muhajirin sekaligus Direktur Pusat Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, para kepala unit pendidikan, guru, serta staf di lingkungan Al-Muhajirin Kampus Pusat.

Dalam tausiyahnya, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, M.A. menyampaikan tentang keagungan syariat Allah Swt. yang senantiasa hadir sebagai rahmat dan wadah bagi seluruh umat manusia.

Beliau menjelaskan bahwa perjalanan umat Islam tidak terlepas dari rangkaian bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadan.

Baca Juga:  Disaksikan Menteri Lingkungan Hidup, Dr Hj Ifa Faizah Paparkan Strategi Al-Muhajirin Kelola Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular

Di bulan Rajab, umat diingatkan pada peristiwa agung Isra Mi’raj yang menegaskan kemuliaan Rasulullah saw. sekaligus kewajiban shalat sebagai tiang agama.

Memasuki Sya’ban, terdapat momentum Nisfu Sya’ban, Al-Qur’an ditranskip oleh malaikat, termasuk sejarah perpindahan kiblat ke Ka’bah, sebagai simbol ketaatan total kepada perintah Allah.

Rasulullah saw., lanjut beliau, memberikan teladan dalam menyambut Ramadan.

Syariat puasa di bulan Sya’ban dijalankan dengan penuh hikmah hingga sebagian sahabat mengira Sya’ban adalah Ramadan karena intensitas ibadah beliau.

Namun demikian, Rasulullah juga melarang berpuasa setelah pertengahan Sya’ban, sebagai bentuk kasih sayang agar umat tidak memasuki Ramadan dalam keadaan lelah dan terbebani.

“Syariat Rasulullah itu mewadahi umat,” ungkap beliau. “Memasuki Ramadan bukan dengan beban, tetapi dengan energi, semangat, dan kegembiraan.”

Baca Juga:  SMI 1-3 Al Muhajirin Purwakarta Sukses Bertabur Prestasi di Fullday’s Victory Showcase 2.0

Menurutnya, keagungan syariat Allah selalu memberi ruang dan kemudahan bagi siapa pun.

Ramadan pun menjadi puncak perjalanan ruhani: di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang menghadirkan keberkahan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Beliau juga mengutip hadis riwayat Imam Tirmidzi yang menyeru, “Wahai orang yang memiliki rencana kebaikan, kemarilah; dan wahai orang yang memiliki rencana keburukan, berhentilah.”

Seruan ini menjadi panggilan agar setiap Muslim memanfaatkan Ramadan sebagai momentum memperbanyak amal saleh dan menahan diri dari keburukan.

Secara khusus, beliau mengajak jamaah untuk memiliki rencana dan target yang jelas dalam mengisi Ramadan.

“Apa target Ramadan kita tahun ini?” ungkap beliau.

Baca Juga:  Santri NU Menatap Masa Depan: Penutupan Halaqoh Sains Training Camp UTBK 2025 oleh LP Ma'arif PWNU Jabar bersama LPP Salman ITB

Beliau mencontohkan, Ramadan harus dihadapi dengan kesadaran dan perencanaan, misalnya dengan menargetkan diri untuk menjaga lisan, menjaga pendengaran dari hal-hal yang tidak bermanfaat, mengkhatamkan Al-Qur’an, serta istiqamah melaksanakan shalat tarawih hingga akhir Ramadan. Termasuk di dalamnya memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Menurut beliau, Ramadan harus disiapkan sejak sekarang. Punya target. Punya rencana. Punya komitmen. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan atau ikut-ikutan suasana, melainkan momentum kesungguhan pribadi.

Di akhir tausiyahnya, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memahami keagungan Rasulullah dan syariat yang dibawanya, serta memasuki Ramadan dengan hati yang lapang, penuh harapan, dan keyakinan bahwa Allah Swt. selalu menyediakan jalan kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *