
AL-MUHAJIRIN – Suasana Ponpes Al-Muhajirin Pusat kembali dipenuhi kekhusyukan dan keberkahan bulan Ramadan. Jamaah duduk rapat, menyimak materi yang disampaikan KH. Marpu Muhidin Ilyas, MA dalam penutupan Bab Tobat Kitab Riyadus Sholihin, yang mana merangkum perjalanan ruhani tentang hakikat kembali kepada Allah SWT.
Sejak awal, beliau menyampaikan bahwa tobat bukan hanya ucapan istigfar, melainkan proses utuh yang memiliki rukun yang jelas: tark (meninggalkan dosa), nadam (penyesalan mendalam), azam (tekad kuat untuk tidak mengulangi), dan islah (memperbaiki diri dengan istiqamah mengikuti syariat).
“Dosa lama yang sudah ditobati selesai. Kalau terulang, itu dosa baru. Yang berbahaya adalah israr—mengulang dosa tanpa tobat,” tegas beliau, mengingatkan bahwa kelalaian yang dibiarkan akan mengeraskan hati.
Empat Level Tobat dan Tiga Maqam Kembali
Dengan bahasa yang runtut dan penuh penekanan ruhani, KH. Marpu menjelaskan bahwa tobat memiliki tingkatan:
- Tobat dari zalat (maksiat nyata).
- Tobat dari ghaflat (kelalaian).
- Tobat dari merasa diri sudah baik (ru’yatul hasanat).
- Bahkan mentobati tobat itu sendiri—karena masih ada ujub atau merasa sudah bersih.
Beliau juga menguraikan tiga maqam besar:
- Taubah: kembali karena takut azab.
- Inabah: kembali karena berharap rahmat.
- Aubah: kembali semata-mata karena perintah Allah, tanpa motif lain.
Di sinilah tobat berubah dari sekadar penyelamatan diri menjadi ibadah murni.
Hadis Perempuan Juhainah: Tobat yang Mengangkat Derajat
Pada hadis ke-10, beliau membahas kisah perempuan dari Juhainah yang datang dalam keadaan hamil karena zina dan meminta ditegakkan hukum had di hadapan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW tidak tergesa-gesa. Beliau memanggil walinya dan berpesan, “Ahsini ilaiha”—perlakukan dia dengan baik. Hukuman ditunda hingga ia melahirkan dan selesai masa penyapihan. Setelah had ditegakkan, Rasulullah SAW bahkan menshalatkannya.
Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu merasa heran, Rasulullah SAW bersabda bahwa perempuan itu telah bertobat dengan tobat yang sangat agung—seandainya dibagi kepada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya mencukupi.
KH. Marpu menegaskan, “Inilah kesantunan dakwah Rasulullah. Privasi dijaga. Janin dihormati. Tobatnya diakui. Tobat bisa mengangkat derajat seseorang jauh melebihi dosanya.”
Tobat dari Ambisi Dunia
Hadis berikutnya mengingatkan tentang sifat manusia yang tak pernah puas: jika memiliki satu lembah emas, ingin dua lembah. Yang memenuhi mulutnya hanyalah tanah.
Beliau menjelaskan bahwa hirs—ambisi dunia yang tak terkendali—adalah akar banyak maksiat. Tobat tidak hanya dari zina, riba, atau dusta. Tobat juga dari keserakahan hati. Dunia yang diburu tanpa batas pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan.
Dua Orang yang Saling Membunuh, Keduanya Masuk Surga
Hadis lain yang menggugah menyebutkan bahwa Allah “tertawa” kepada dua orang yang saling membunuh namun keduanya masuk surga. Yang satu mati syahid di jalan Allah. Yang lainnya membunuhnya, lalu bertobat, masuk Islam, dan mati syahid pula.
KH. Marpu menekankan perbedaan penting: bukan sekadar manusia bertobat kepada Allah, tetapi Allah sendiri yang menerima dan mengangkat tobatnya (yatubu ‘alaihi). Di sinilah tampak luasnya rahmat Ilahi.
Tobat al-Dawam: Tobat Sepanjang Hayat
Di bagian akhir, beliau merangkum makna tobat al-dawam—tobat yang terus naik tingkat, sepanjang hayat. Setiap maqam memiliki kekurangan yang harus disempurnakan. Bahkan Rasulullah SAW beristigfar seratus kali sehari.
Beliau menyebutkan sepuluh ciri orang yang benar-benar bertobat:
- Tidak betah dalam maksiat
- Cepat kembali saat tergelincir
- Penyesalan yang tulus
- Tekad istiqamah sampai mati
- Seimbang antara khauf dan raja
- Mengakui dosa
- Meyakini qadar Allah
- Adil menerima diri sebagai makhluk lemah
- Menutup keburukan dengan amal saleh
- Terus meningkatkan kualitas ibadah
“Tobat itu hijrah,” ujar KH Marpu. “Dari maksiat ke taat. Dari taat ke qurbah. Dari qurbah menuju hadratul qarib.”
Ciri tobat yang benar, lanjut beliau, adalah dada yang lapang, hati bercahaya, dan semangat baru dalam amal saleh.
Pengajian ditutup dengan doa hari ke-13 yang dinisbatkan kepada Abu Hazim—doa tawakal, penjagaan diri, dan permohonan ridha Allah—diikuti lantunan doa Ramadan dan Al-Fatihah bersama.
Majelis pun berakhir dalam suasana haru yang menenangkan dan harap yang menguatkan: setiap dosa bukanlah akhir, melainkan pintu untuk kembali; setiap penyesalan bukan sekadar rasa sakit, tetapi energi untuk semakin mendekat; dan setiap Ramadan adalah momentum suci untuk meneguhkan kembali penghambaan kepada Allah, dengan hati yang kian bersih, jiwa yang lebih tunduk, dan tekad yang semakin kokoh dalam istiqamah.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita semua tobat nasuha, tobat yang abadi, serta karunia ridha-Nya di bulan suci ini. Amin ya Rabbal ‘alamin.
