
ALMUHAJIRIN— Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, kembali menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Ahad Pagi bulan Syawwal 1447 H yang digelar di Masjid Al-Madinah Kampus 2, Sukamulya, Ahad (5/4/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para alumni haji dan umrah Al-Muhajirin, jamaah pengajian rutin, serta masyarakat umum yang selama ini aktif mengikuti majelis ilmu. Dalam penyampaiannya, Syaikhuna didampingi oleh muridnya, Ust. Ikin Sodikin, M.Hum., yang turut membantu penyampaian materi kepada jamaah.
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengajak jamaah untuk memahami hakikat hidup sebagai manusia. Beliau menegaskan bahwa hidup tidak boleh dijalani tanpa arah.
“Lamun urang teu terang tugas hirup, hirup urang jadi mubadzir. Teu jelas tujuanana,” ungkapnya.
Tugas Utama Manusia
Syaikhuna menjelaskan bahwa manusia memiliki empat tugas utama dalam kehidupan. Tugas pertama dan paling utama adalah ibadah kepada Allah.
Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun, henteu diciptakeun jin jeung manusa kecuali pikeun ibadah,” jelasnya.
Syaikhuna menjelaskan bahwa ibadah terbagi menjadi dua: ibadah yang langsung kepada Allah dan ibadah kepada Allah yang diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama manusia.
“Ibadah aya dua, ibadah mahdhah ka Allah sapertos salat, puasa, zakat. Jeung ibadah ghairu mahdhah ka sasama manusa. Duanana kedah saimbang,” ujarnya.
Menurutnya, jika seseorang hanya fokus pada ibadah ritual tanpa peduli pada sesama, maka hidupnya tidak sempurna. Sebaliknya, jika hanya baik kepada manusia tetapi lalai kepada Allah, maka itu pun merupakan kerugian.
Proporsional dalam Ibadah
Dalam penjelasannya, Syaikhuna mengisahkan tiga orang laki-laki yang ingin beribadah secara ekstrem: ada yang ingin salat terus tanpa tidur, puasa sepanjang tahun, bahkan tidak menikah agar fokus ibadah.
Namun Rasulullah SAW justru meluruskan pemahaman tersebut.
“Abdi mah salat, tapi sare. Puasa, tapi oge buka. Sarta abdi nikah,” tutur Syaikhuna menirukan sabda Nabi.
Beliau menegaskan, ibadah harus dilakukan secara proporsional, tidak berlebihan hingga keluar dari tuntunan.
“Faman raghaba ‘an sunnati falaisa minni. Anu henteu resep kana sunnah Nabi, lain bagian ti umatna,” tegasnya.
Pentingnya Ilmu dalam Ibadah
Syaikhuna menekankan bahwa ilmu adalah fondasi utama dalam beragama. Ibadah tanpa ilmu justru bisa menyesatkan.
Syaikhuna mengingatkan, ‘Wa man bighairi ‘ilmin ya‘mal, ‘amaluhu mardudatun la tuqbal,’ yang berarti siapa yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya tertolak dan tidak diterima.
Beliau menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat tiga pilar utama:
- Islam (ditopang ilmu fikih)
- Iman (ditopang ilmu tauhid)
- Ihsan (ditopang ilmu tasawuf)
Ketiganya harus berjalan seimbang.
“Ibu-ibu tong isin ngaji, sanajan geus kolot. Nu matak teu ngaji téh dua: era jeung sombong,” pesannya.
Suasana pengajian sesekali mencair dengan humor khas Syaikhuna. Salah satunya saat menjelaskan bahaya ibadah tanpa ilmu.
Beliau menceritakan seorang ahli ibadah yang tidak menikah agar fokus beribadah, namun justru terjerumus dalam perilaku menyimpang karena tidak memahami syariat.
Kisah tersebut menyisakan pelajaran mendalam tentang pentingnya ilmu dalam membimbing ibadah.
Wudu, Kunci Khusyuk dalam Salat
Dalam bagian lain, Syaikhuna mengingatkan bahwa kekhusyukan salat dimulai dari wudu.
“Wudu lain ngan saukur ngabasu ku cai. Tapi kudu emut kana dosa-dosa urang,” jelasnya.
Beliau mengajarkan agar setiap basuhan dalam wudu disertai kesadaran untuk membersihkan dosa—baik dosa mata, lisan, tangan, maupun kaki.
“Lamun wuduna leres, insyaallah salatna khusyuk,” ujarnya.
Syaikhuna juga mengingatkan pentingnya memastikan air wudu benar-benar mengenai seluruh anggota tubuh, termasuk area kecil yang sering terlewat.
Bahaya Lalai dalam Bersuci
Syaikhuna mengingatkan bahwa kelalaian dalam bersuci bisa berakibat serius, bahkan menjadi sebab siksa kubur.
Beliau mengutip hadis tentang dua orang yang disiksa di kubur, salah satunya karena tidak bersih dalam bersuci, dan yang lainnya karena gemar mengadu domba.
“Nu matak loba disiksa kubur téh dua: teu leres dina bersuci jeung sok namimah,” tegasnya.
Penutup dan Doa
Di akhir tausiyah, Syaikhuna menyampaikan rencana keberangkatan ibadah haji serta memohon doa dari jamaah.
“Insyaallah bade angkat haji, mugia dipasihan kasehatan sareng kalancaran,” ujarnya.
Beliau juga mengajak jamaah untuk tetap bersyukur dan terus meningkatkan kualitas ibadah, meski belum memiliki kesempatan berhaji.
“Lamun teu tiasa haji, umrah, pahala mah henteu gumantung kana eta, tapi kana niat sareng amal urang,” pesannya.
Pengajian ditutup dengan doa bersama, dengan harapan seluruh jamaah diberikan keberkahan hidup, kesehatan, serta kemampuan untuk terus istiqamah dalam menjalankan ibadah dan menuntut ilmu. (*)
