
AL-MUHAJIRIN- Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, keluarga besar Direktorat Al-Muhajirin Kampus Pusat menggelar kegiatan Munggahan yang berlangsung penuh dengan kebersamaan di Guest House Al-Muhajirin Jalan Veteran, Senin (16/2/2026). Kegiatan ini menjadi momentum silaturahmi sekaligus refleksi diri dalam menyongsong bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Dra. Hj. Euis Marfuah, MA, Ketua Yayasan Al-Muhajirin sekaligus Direktur Pusat Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, para kepala unit pendidikan, guru, serta staf di lingkungan Al-Muhajirin Kampus Pusat.
Selain sebagai ajang silaturahmi mapag (menyambut) Ramadan, kegiatan Munggahan ini juga dirangkaikan dengan pembagian hadiah lomba bagi guru dan staf sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan semangat kebersamaan di Milad Al-Muhajirin ke-33 yang terselenggara baru-baru ini.
Dalam sambutannya, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, M.Pd. menyampaikan doa untuk Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA yang saat ini tengah berada di Tanah Suci.
Beliau mengajak seluruh keluarga besar Al-Muhajirin untuk mendoakan kesehatan bagi beliau, seraya bersama-sama membaca Al-Fatihah, agar berkahnya selalu menyertai keluarga besar Al-Muhajirin.
“Syaikhuna sedang di Tanah Haram. Ibu Kiyai hadir membersamai kita. Kita bahagia bisa terus didampingi dan dibimbing. Mari kita doakan keduanya agar senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Hj Ifa juga mengungkapkan bahwa Munggahan bukan sekadar tradisi, tetapi momentum menyatukan hati dan langkah.
“Silaturahmi mapag Ramadan ini menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan, menyatukan hati dan langkah Al-Muhajirin. Al-Muhajirin Ngahiji, Ngaji, Kahiji,” ungkapnya.
Beliau juga mengajak seluruh guru dan staf untuk saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan, agar ibadah dapat dijalankan secara maksimal.
Dalam refleksinya, disampaikan tahapan spiritual menyambut Ramadan: takhalli, yakni mengosongkan diri dari berbagai kesalahan dan sifat tercela; dilanjutkan tahalli, menghiasi diri dengan amal ibadah dan akhlak mulia; hingga akhirnya mencapai tajalli, yaitu pancaran cahaya keimanan yang bersinar di akhir Ramadan.
Ramadan, lanjutnya, harus dimaknai sebagai momentum memperkuat hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan sesama manusia), termasuk Hablu minal ‘alam.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula bahwa di tengah persiapan menyambut Ramadan, keluarga besar Al-Muhajirin turut merasakan duka dan keprihatinan atas musibah longsor yang terjadi di Cisarua. Peristiwa tersebut mengakibatkan ratusan rumah warga terkubur material tanah hingga kedalaman sekitar tujuh meter. Al-Muhajirin pun turut menyalurkan bantuan kemanusiaan ke lokasi terdampak sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Musibah ini menjadi wasilah untuk semakin banyak bersyukur dan mentafakuri nikmat Allah Swt. yang selama ini kerap luput dari kesadaran. Di tengah ujian yang menimpa saudara-saudara kita, terselip pelajaran tentang pentingnya empati, solidaritas, dan keteguhan iman.
Keluarga besar Al-Muhajirin juga mengajak untuk mendoakan para korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut agar husnul khatimah, diampuni segala dosanya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.
Momentum Ramadan pun diharapkan menjadi saat yang tepat untuk memaksimalkan pengabdian Al-Muhajirin, tidak hanya dalam peningkatan ibadah personal, tetapi juga dalam aksi nyata kepedulian sosial dan kemanusiaan.
Dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan, Munggahan Al-Muhajirin menjadi awal langkah menyongsong Ramadan dengan hati yang bersih, tekad yang kuat, dan harapan lahirnya insan-insan yang bersinar dalam iman dan amal. (*)
